Kebun Raya Jadi Ujung Tombak Strategi Konservasi

- Editor

Kamis, 20 Desember 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aksi penyelamatan dan konservasi tumbuhan mutlak dibutuhkan di tengah ancaman kepunahan yang semakin meningkat. Untuk itu, strategi konservasi ex situ atau hutan buatan yang dibangun di luar habitat alamnya perlu dilakukan secara komplementer dan efektif. Strategi tersebut berupa pembangunan kebun raya daerah berbasis ekoregion.

Indonesia memiliki keanekaragaman tumbuhan yang tinggi. Namun, keanekaragaman tersebut mengalami ancaman kepunahan yang semakin serius. Dari 386 spesies yang terancam punah pada 2009, jumlah tumbuhan yang terancam punah menjadi 437 spesies pada 2018. Belum lagi pada kategori tumbuhan yang hampir terancam punah ada 163 spesies.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Didik Widyatmoko (kanan) memberikan penjelasan terkait tumbuhan yang ada di Kebun Raya Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah, kepada Pelaksana Tugas Sekretaris Utama LIPI Nur Tri Aries Suestiningtyas (tengah) dan Kepala LIPI Laksana Tri Handoko pada Senin (9/7/2018).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu prioritas tertinggi konservasi tumbuhan dunia. Pengembangan kebun raya daerah berbasis ekoregion pun menjadi ujung tombak konservasi tumbuhan Indonesia yang efektif dan efisien,” ujar Didik Widyatmoko saat menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul ”Inovasi dan Strategi Konservasi Tumbuhan Indonesia untuk Mengurangi Laju Kepunahan” di Jakarta, Selasa (18/12/2018).

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Zainal Arifin dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul ”Peran Riset Ekotoksikologi Logam Berat dalam Pengelolaan Ekosistem Perairan Pantai” dalam acara Orasi Pengukuhan Profesor Riset LIPI, di Jakarta, Selasa (18/12/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Didik dikukuhkan sebagai profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ke-130. Ia merupakan peneliti utama di bidang konservasi dan pengelolaan lingkungan LIPI.

Selain Didik, LIPI juga mengukuhkan dua profesor riset lain, yakni Zainal Arifin dari Bidang Pencemaran Laut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dan Tri Nuke Pudjiastuti dari Bidang Keamanan Internasional dan Isu-isu Strategis Pusat Penelitian Politik LIPI.

Didik menyampaikan, keberhasilan strategi dan inovasi konservasi ex situ dibuktikan dengan terselamatkannya spesies tumbuhan yang terancam punah. Pendekatan ekoregion ini dilakukan dengan membagi wilayah geografis menjadi 47 tipe yang dibedakan berdasarkan karakteristik iklim, tanah, air, tumbuhan, dan binatang asli. Selain itu, faktor pembagiannya juga dibedakan berdasarkan pola interaksi manusia dengan alam.

Capaian koleksi tumbuhan langka di Kebun Raya Indonesia pada 2015 tercatat sebanyak 97 spesies. Dengan penerapan pembangunan kebun raya berbasis ekoregion, jumlah itu meningkat menjadi 122 spesies pada 2018.

KOMPAS/RATIH P SUDARSONO–Bunga Rafflesia patma yang mekar di Kebun Raya Bogor, Rabu (19/9/2018). Rafflesia patma ini merupakan bunga raflesia ke-12 yang mekar di kebun raya itu sejak tahun 2010.

Kebun raya dengan cadangan genetik tumbuhan yang besar dan bertambah menjadi komponen penting dalam strategi dan solusi visioner konservasi, lingkungan, ekonomi, sosial, dan kepentingan nasional lain.

”Kebun raya menjadi tempat penyimpanan plasma nutfah yang besar. Jika dimanfaatkan secara serius, pontensinya sangat besar bagi pembangunan nasional secara berkelanjutan,” ujar Didik yang saat ini menjabat Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI.

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko menuturkan, konservasi tumbuhan melalui kebun raya akan semakin diperkuat. Pada 2030, sebanyak 55 kebun raya ditargetkan bisa terbangun di 47 tipe ekoregion Indonesia. Saat ini, ada 37 kebun raya yang tersedia. Dari jumlah tersebut, lima kebun raya dikelola LIPI, 30 dikelola pemerintah daerah, dan 2 oleh universitas.

Menurut dia, selain sebagai tempat konservasi, fungsi kebun raya akan semakin dioptimalkan sebagai tempat penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan.

”Implementasi fungsi ekowisata dan konservasi menjadi sangat relevan. Kebun raya akan dibuat lebih interaktif dan informatif sehingga masyarakat juga teredukasi terkait pendidikan lingkungan, terutama tumbuhan,” kata Handoko.–DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 18 Desember 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Cerpen: Lagu dari Koloni Senyap
Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab
Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan
Kincir Angin: Dari Ladang Belanda Hingga Pesisir Nusantara
Surat Panjang dari Pinggir Tata Surya
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 19 November 2025 - 16:44 WIB

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 12 November 2025 - 20:57 WIB

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Sabtu, 1 November 2025 - 13:01 WIB

Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa

Kamis, 2 Oktober 2025 - 16:30 WIB

Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab

Rabu, 1 Oktober 2025 - 19:43 WIB

Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan

Berita Terbaru

Berita

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 19 Nov 2025 - 16:44 WIB

Artikel

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Rabu, 12 Nov 2025 - 20:57 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Tarian Terakhir Merpati Hutan

Sabtu, 18 Okt 2025 - 13:23 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Hutan yang Menolak Mati

Sabtu, 18 Okt 2025 - 12:10 WIB