Home / Berita / Kebun Raya Identifikasi Flora Jenis Baru, Konservasi Menyeluruh Perlu Ditingkatkan

Kebun Raya Identifikasi Flora Jenis Baru, Konservasi Menyeluruh Perlu Ditingkatkan

Kebun Raya Bogor telah mengidentifikasi sejumlah jenis tumbuhan baru dalam 10 tahun terakhir. Upaya ini diharapkan bisa menjadi cara untuk menyelamatkan tumbuhan endemik Indonesia.

Setidaknya, dalam 10 tahun terakhir, 32 jenis baru tanaman Begonia, 10 jenis baru tanaman Hoya, dan tanaman kemuning jenis Murraya cyclopensis telah diidentifikasi. Adapun jenis Begonia yang ditemukan antara lain Begonia sp atau benalu batu, Begonia comestibilis, Begonia matarombeoensis, dan Begonia balgooyi. Sementara jenis Hoya, tanaman baru yang ditemukan seperti Hoya rintzii, Hoya corneri, dan Hoya decipulae.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Peneliti Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, Wisnu Aji Handoyo, menunjukkan jenis Begonia balgooyi di Pusat Pembibitan Kebun Raya Bogor, Bogor, Jawa Barat, Kamis (25/4/2019). Tumbuhan Begonia ini merupakan jenis baru yang ia temukan di daerah Sulawesi.

”Pengungkapan ini untuk memberikan pemahaman baru tentang kekayaan jenis tumbuhan di Indonesia. Publik jadi tahu seberapa banyak sumber daya yang kita miliki sehingga klaim bahwa Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati bisa lebih valid,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) R Hendrian dalam tur media di Kebun Raya Bogor, Bogor, Jawa Barat, Kamis (25/4/2019).

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI R Hendrian.

Setidaknya, Indonesia menjadi habitat dari 400 jenis Begonia dari 1.924 jenis yang ada di kawasan tropis di dunia. Sementara dari 400 jenis tumbuhan Hoya di seluruh dunia, lebih dari 100 jenis diperkirakan tumbuh di Indonesia.

Hendrian mengatakan, meski banyak temuan baru jenis tumbuhan di Indonesia, upaya konservasi yang dilakukan saat ini berpacu pada kerusakan habitat alami dari tumbuhan tersebut. Maraknya alih fungsi lahan, perubahan iklim, serta eksploitasi yang berlebihan menjadi tantangan yang dihadapi. Untuk itu, pelaksanaan tugas dan fungsi penelitian serta konservasi perlu terus didorong agar perlindungan keanekaragaman flora semakin kuat.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Peneliti Senior Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Bogor Sri Rahayu.

Peneliti Senior Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Bogor, Sri Rahayu, mengatakan, tantangan konservasi berupa kerusakan habitat alami ditemui di Purworejo, Jawa Tengah. Satu jenis baru dari tanaman Hoya ditemukan di daerah tersebut. Namun, habitat tersebut bukan daerah konservasi sehingga rentan mengalami alih fungsi lahan.

”Kami khawatir, tanaman yang belum diidentifikasi namanya ini sudah telanjur hilang karena kerusakan habitat. Orang sekitar pun belum tahu kegunaannya. Kalaupun konservasi dilakukan di luar habitat asli, itu tidak bisa optimal,” katanya.

Koordinasi
Upaya konservasi tumbuhan ini tidak cukup pada penemuan jenis baru saja. Penelitian lebih lanjut, mulai dari identifikasi populasi, pemanfaatan tumbuhan, hingga memastikan pelestarian jenis tumbuhan menjadi sangat penting.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Tanaman Begonia Sisik Hiu (Begonia galeolepis) yang ditemukan peneliti spesialis Begonia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Wisnu Ardi menjadi salah satu temuan spesies yang diselamatkan dan dikembangkan di Kebun Raya Bogor, Kamis (25/4/2019). Sejumlah spesies baru dari tanaman Begonia, Muraya (Kemuning), dan Hoya berhasil ditemukan dan diselamatkan dari kepunahannya oleh sejumlah peneliti di Kebun Raya Bogor.

Hendrian mengakui, koordinasi yang terjadi di antara peneliti selama ini belum berlangsung dengan baik. Peneliti masih terbatas pada jenis dan keahlian yang dimiliki.

”Gap inilah yang akan diperbaiki. Peneliti yang menemukan jenis baru akan langsung dihubungkan dengan peneliti yang bisa mengidentifikasi manfaat tumbuhan. Kemudian berlanjut sampai pembibitan dan penggandaan tumbuhan sehingga kelestariannya terjamin,” katanya.–DEONISIA ARLINTA

Editor PASCAL S BIN SAJU

Sumber: Kompas, 26 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: