Edie Toet Hendratno Dikukuhkan Jadi Guru Besar

- Editor

Selasa, 15 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakar hukum Edie Toet Hendratno dikukuhkan menjadi guru besar Ilmu Hukum Tata Negara Universitas Pancasila. Dengan demikian, Edie merupakan guru besar tetap ke-16 di salah satu universitas swasta tertua di Indonesia itu.

Acara pengukuhan berlangsung di Universitas Pancasila di Kota Depok pada Senin (14/3/2016). Hadir sebagai tamu kehormatan adalah wakil presiden keenam, Try Sutrisno, dan ekonom JB Sumarlin. Adapun prosesi pengukuhan juga diikuti oleh para guru besar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain Rektor Universitas Indonesia (UI) Muhammad Anis dan sosiolog UI Sarlito Wirawan.

Edie menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Dinamika Perkembangan Undang-Undang Pemerintahan Daerah: Mencari Keseimbangan Pendulum Sentralisasi-Desentralisasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Di dalamnya, ia berargumen bahwa Undang-Undang Pemerintahan Daerah harus selalu berubah seiring dengan perkembangan zaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Selain itu, perlu juga diperhatikan kapasitas tiap-tiap daerah di dalam mengemban kewenangan. Jangan diseragamkan. Jadi, daerah mapan diberi kewenangan lebih besar, sedangkan daerah yang masih belum memenuhi standar kriteria tetap diayomi pemerintah pusat,” papar Edie.
2d14aa77a0244184b99e1ce3e532a659KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Edie Toet Hendratno

Percepatan
Rektor Universitas Pancasila Wahono Sumaryono mengemukakan bahwa percepatan proses pengangkatan guru besar oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi amat berguna bagi perguruan tinggi memenuhi kebutuhan mereka akan guru besar. Biasanya, proses tersebut membutuhkan waktu lima tahun untuk mengurus berbagai dokumen, sementara proses pengukuhan Edie hanya membutuhkan waktu satu tahun.

“Keberadaan guru besar sangat penting karena mereka memiliki kewajiban mendidik, melakukan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara lebih mendalam dibandingkan dosen biasa. Mereka juga harus rajin menerbitkan buku dan menulis di jurnal ilmiah bertaraf internasional,” kata Wahono.

LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas Siang | 14 Maret 2016

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 194 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB