Preeklamsia Masih Jadi Penyebab Kematian Ibu dan Janin

- Editor

Rabu, 12 Desember 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Preeklamsia masih menjadi penyumbang utama kesakitan dan kematian ibu serta janin. Berbagai pengobatan telah dikembangkan, tetapi kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan preeklamsia belum menunjukkan penurunan yang bermakna.

Hal itu disampaikan Sri Sulistyowati dalam pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah, Selasa (11/12/2018). Sri menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ”Upaya Menurunkan Angka Kematian Ibu yang Disebabkan Preeklamsia dengan Model Disfungsi Endotel”.

Preeklamsia adalah tekanan darah tinggi pada ibu hamil dan kelebihan kadar protein dalam urine (proteinuria). ”Preeklampsia secara klinis dapat ditandai dengan adanya hipertensi dan proteinuria setelah usia kehamilan 20 minggu,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sri mengatakan, di Indonesia preeklamsia menjadi penyebab 30-40 persen kematian ibu hamil. Preeklamsia juga menjadi penyebab 30-50 persen kematian perinatal. ”Di RSUD dr Moewardi, Solo, angka kematian ibu hamil tahun 2012 yang disebabkan preeklamsia berjumlah 19 orang dari 30 ibu hamil yang meninggal dan pada 2013 berjumlah 12 orang (meninggal) dari 21 ibu hamil yang meninggal,” katanya.

HUMAS UNS–Sri Sulistyowati

Sri mengatakan, preeklamsia adalah sindrom spesifik kehamilan yang dapat memengaruhi seluruh sistem organ. Preeklamsia dan penyakit kardiovaskular mempunyai faktor risiko yang sama, antara lain hipertensi kronis, diabetes, obesitas, penyakit ginjal, dan sindrom metabolik.

Penelitian menunjukkan preeklamsia sebagai faktor risiko penyakit gagal ginjal di kemudian hari. Berbagai pengobatan telah dikembangkan, tetapi kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan oleh preeklamsia belum menunjukkan penurunan bermakna. Hal ini sebagian disebabkan belum jelasnya penyebab dan mekanisme penyakit ini.

”Hingga saat ini belum ditemukan pengobatan preeklamsia yang efektif sebagai pencegahan. Pengakhiran kehamilan atau persalinan dianggap sebagai pilihan yang paling baik, terutama pada kasus preeklamsia dengan komplikasi,” ujarnya.

Selain Sri, dalam Sidang Senat Terbuka UNS juga dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Kedokteran UNS, Endang Sutisna Sulaiman. Endang dan Sri dikukuhkan sebagai guru besar ke-195 dan 196 di UNS. Rektor UNS Ravik Karsidi mengatakan, bertambahnya guru besar akan berkorelasi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kelembagaan UNS dalam mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi.–ERWIN EDHI PRASETYA

Sumber: Kompas, 11 Desember 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Cerpen: Lagu dari Koloni Senyap
Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab
Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan
Kincir Angin: Dari Ladang Belanda Hingga Pesisir Nusantara
Surat Panjang dari Pinggir Tata Surya
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 19 November 2025 - 16:44 WIB

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 12 November 2025 - 20:57 WIB

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Sabtu, 1 November 2025 - 13:01 WIB

Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa

Kamis, 2 Oktober 2025 - 16:30 WIB

Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab

Rabu, 1 Oktober 2025 - 19:43 WIB

Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan

Berita Terbaru

Berita

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 19 Nov 2025 - 16:44 WIB

Artikel

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Rabu, 12 Nov 2025 - 20:57 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Tarian Terakhir Merpati Hutan

Sabtu, 18 Okt 2025 - 13:23 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Hutan yang Menolak Mati

Sabtu, 18 Okt 2025 - 12:10 WIB