Atasi Glaukoma sejak Dini

- Editor

Senin, 2 Maret 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Glaukoma menjadi salah satu penyebab utama kebutaan. Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan membuat penanganan masalah kesehatan mata ini lamban sehingga kualitas hidup penderita menurun.

KOMPAS/MEDIANA–Suasana pengukuhan Widya Artini Wiyogo sebagai Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Dwiana Ocviyanti sebagai Guru Besar Ilmu Obstetri dan Ginekologi FKUI, Sabtu (29/2/2020), di Jakarta.

Kebutaan masih menjadi masalah kesehatan serius di Tanah Air. Selain katarak, glaukoma menjadi salah satu penyebab utama kebutaan. Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan membuat penanganan glaukoma lamban sehingga kualitas hidup penderita menurun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Widya Artini Wiyogo menyampaikan hal itu dalam orasinya saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Sabtu (29/2/2020). Pada kesempatan yang sama, FKUI juga mengukuhkan Dwiana Ocviyanti sebagai Guru Besar Ilmu Obstetri dan Ginekologi. Pengukuhan keduanya menambah jumlah guru besar di FKUI menjadi 76 orang.

Dalam pidato pengukuhannya, Widya menyampaikan pidato penelitian ”Mengatasi Tantangan Masa Depan Layanan Glaukoma di Indonesia: Optimalisasi Intervensi Bedah Glaukoma”. Sementara pidato penelitian Dwiana berjudul ”Penerapan Obstetri Ginekologi Sosial pada Strategi Berbasis Bukti Upaya Peningkatan Kesehatan Perempuan dan SDM Berkualitas di Era Revolusi Industri 4.0”.

KOMPAS/MEDIANA–Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata FKUI Widya Artini Wiyogo.

Widya mengatakan, berdasarkan survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness di 15 provinsi pada 2014-2016, rerata angka kebutaan mencapai 3 persen pada populasi penduduk yang berusia di atas 50 tahun. Katarak berada di urutan pertama penyebab kebutaan, sedangkan glaukoma menempati posisi kelima. Kualitas hidup penderita glaukoma tergolong paling rendah.

Berdasarkan penelitian di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo tahun 2015-2017, kebutaan dua mata pada glaukoma sudut tertutup lebih banyak dibandingkan glaukoma sudut terbuka, yakni 26 persen dibanding 14 persen. Pasien glaukoma yang datang pada stadium lanjut mendominasi.

Beberapa faktor menjadi kendala pasien glaukoma akut baru datang ke rumah sakit, antara lain kesulitan finansial dan jenjang rujukan layanan kesehatan yang panjang. Padahal, semakin besar derajat glaukoma pada pasien, semakin besar pengaruhnya terhadap penurunan kualitas hidup masyarakat.

”Tindakan bedah lebih awal menjadi penting, diikuti kontrol rutin dan mengonsumsi obat-obatan dalam jangka panjang. Jika tidak dilakukan bedah lebih awal, penderita glaukoma sukar ditangani. Mereka pun harus mengonsumsi lebih banyak obat, dan itu butuh biaya lebih besar,” tutur putri pertama almarhum mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1987-1992 Wiyogo Atmodarminto ini.

Widya menjelaskan, pendidikan tindakan bedah harus ditingkatkan. Sejalan dengan hal itu, jumlah dokter spesialis mata yang mampu melakukan tindakan bedah awal perlu diperbanyak. ”Penyakit glaukoma umumnya bersifat genetik. Jadi, apabila ada anggota keluarga pernah memiliki penyakit itu, sebaiknya memeriksakan diri lebih awal ke dokter,” ujarnya.

Sejak 2019, Widya menjabat sebagai anggota Komite Etik Rumah Sakit FKUI. Kemudian sejak 2005 sampai sekarang, dia menjadi Kepala Pusat Glaukoma di Jakarta Eye Center.

Perdarahan
Sementara itu, Dwiana menyampaikan, angka kematian ibu (AKI) saat melahirkan di Indonesia masih tinggi, yaitu 305 per 100.000 kelahiran ibu. Penyebab kematian ibu paling tinggi adalah perdarahan, diikuti hipertensi, infeksi, dan kompilasi medis selama kehamilan serta persalinan.

Berdasarkan data riset di rumah sakit rujukan, seperti Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo, sebagian besar kematian ibu disebabkan preeklamsia dan kasus ibu hamil dengan komplikasi medis lanjut serta kegagalan multi organ yang sulit diatasi.

Kasus ibu hamil yang mengalami kematian sebagian besar dirujuk saat kondisi kehamilan mereka masuk trimester ketiga. Kemudian ada masalah identifikasi dini komplikasi medis pada ibu dan kemunculan preeklamsia. Preeklamsia adalah gangguan kehamilan yang ditandai oleh tekanan darah dan kandungan protein tinggi dalam urin. Dua persoalan tersebut menyebabkan penanganan menjadi terlambat.

Sebagai solusi, kompetensi tenaga medis terkait pelayanan kesehatan kepada ibu dan perempuan perlu ditingkatkan. Selain itu, keterlibatan dokter yang memiliki pengalaman klinis sebagai dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi amat penting. Obstetri merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari kehamilanan dan persalinan, sedangkan ginekologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah reproduksi perempuan.

”Obstetri dan ginekologi akan lebih tepat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara masalah obstetri dan ginekologi dengan lingkungan sosialnya,” kata Dwiana. Sejak 2018 sampai sekarang, ia menjabat sebagai wakil dekan bidang pendidikan, penelitian, dan kemahasiswaan FKUI.

Pada 1992-1995, Dwiana menempuh program pendidikan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi FKUI. Kemudian, sepanjang 2005-2006, dia mengikuti program konsultan di bidang ilmu yang sama di Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia.

Oleh MEDIANA

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 1 Maret 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 7 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB