Tingkatkan Populasi Sapi dengan Spons Berkandungan Progesteron

- Editor

Rabu, 23 Oktober 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sinkronisasi berahi dengan spons yang mengandung hormon progesteron pada sapi potong dikembangkan Universitas Diponegoro Semarang. Dengan teknologi tersebut, tingkat berahi dapat mencapai 90-100 persen, sehingga dapat mendorong peningkatan populasi sapi.

Teknologi sinkronisasi berahi tersebut mengantarkan dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip, Sutiyono, dikukuhkan sebagai guru besar pada Selasa (22/10/2019), di kampus Undip, Kota Semarang, Jawa Tengah. Teknologi itu dinilai tepat bagi para peternak kecil.

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI–Sapi yang berada di salah satu rumah penggemukan sapi yang ada di Kota Palembang, Senin (29/7/2019). Pemerintah Kota Palembang melakukan pengawasan ketat terhadap penyaluran dan penjualan hewan ternak menjelang Idul Adha. Pengawasan ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya kemungkinan penyakit yang menjangkiti hewan ternak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sutiyono mengatakan, salah satu masalah dalam pemeliharaan sapi potong, salah satunya yakni rendahnya produktivitas. Dari identifikasi, sapi yang memiliki gangguan organ ovarium, tingkat berahinya berkisar 25 persen-45 persen. “Masalah itu dapat diatasi dengan sinkronisasi menggunakan progesteron. Ini efektif karena persentase berahi bisa mencapai 90-100 persen,” katanya.

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Rektor Universitas Diponegoro Yos Johan Utama mengukuhkan Dekan Fakultas Teknik Undip M Agung Wibowo (kanan) dan pengajar Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip Sutiyono, di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (22/10/2019). Keduanya juga menyampaikan pidato pengukuhan pada acara tersebut.

Teknologi itu menggunakan spons mengandung progesteron yang ditanam dalam vagina sapi selama 17-24 hari. Progesteron dapat memperbaiki sejumlah gangguan proses reproduksi. Biaya yang diperlukan relatif murah yakni Rp 30.000 per ekor, sehingga cocok bagi para peternak kecil.

Sutiyono menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng untuk mengaplikasikan teknologi itu. Sejumlah daerah yang menjadi percontohan, selama 2017-2019, antara lain Kabupaten Kendal, Pati, Sragen, Rembang, Jepara, dan Grobogan. Sampel di setiap daerah berkisar 100-150 ekor sapi.

Saat ini, para peternak, didampingi dinas peternakan setempat sudah bisa menerapkan teknologi itu sendiri. “Mereka sudah menangkap hal itu. Selain spons yang mengandung hormon progesteron, bahan lain yang diperlukan yakni antiseptik, pelicin, alkohol 70 persen, dan tisu,” kata Sutiyono.

Menurut peta jalan penelitian terkait sinkronisasi berahi, diharapkan pada 2021-2025 akan dikembangkan terkait sapi beranak kembar dengan menggunakan hormon perangsang folikel. Sementara itu, pada 2026-2030, berlanjut tentang perancangan jenis kelamin anak sapi.

Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian, Bambang Waluyo Hadi Eko Prasetiyono, mengatakan, pihaknya mendukung penelitian yang dilakukan Sutiyono secara konsisten. Ia berharap, sivitas akademika lainnya terdorong untuk terus berinovasi, yang hasilnya bisa dirasakan masyarakat.

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Dekan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro M Agung Wibowo (kiri) dan pengajar Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Sutiyono, pada pelantikan keduanya menjadi guru besar, di kampus Undip, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (22/10/2019). Keduanya menyampaikan pidato pengukuhan pada acara tersebut.

Perkembangan dunia
Selain Sutiyono, pada Selasa, Dekan Fakultas Teknik Undip, Mochamad Agung Wibowo, juga dikukuhkan sebagai guru besar. Ia membacakan pidato pengukuhan berjudul “Manajemen Rantai Pasok Berwawasan Lingkungan untuk Mewujudkan Konstruksi Berkelanjutan”.

Rektor Undip Yos Johan Utama mengatakan, pihaknya mendorong para dosen Undip untuk terus berinovasi. “Di tengah revolusi industri 4.0, akademisi Undip wajib bersegera adaptif terhadap perkembangan dunia. Harus terus menerus melakukan riset dan pengkajian,” katanya.

Saat ini, Undip telah memiliki 124 guru besar dan ditargetkan bertambah menjadi 136 guru besar pada akhir 2019. Salah satu upaya mendukung riset dan inovasi di Undip, menurut Yos, dengan memutakhirkan peralatan di setiap laboratorium pendidikan dan penelitian.

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Suasana pengukuhan guru besar Dekan Fakultas Teknik Undip M Agung Wibowo dan pengajar Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip Sutiyono, di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (22/10/2019). Keduanya menyampaikan pidato pengukuhan pada acara tersebut.

ADITYA PUTRA PERDANA

Editor GREGORIUS FINESSO

Sumber: Kompas, 22 Oktober 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru