Generator Ozon Pengawet Sayuran Terus Dikembangkan

- Editor

Senin, 2 September 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teknologi pengawetan sayuran agar sayuran lebih higienis, tahan lama, dan berdaya jual tinggi terus dikembangkan Universitas Diponegoro, Semarang. Setelah pada 2017 mesin pengawet yang disebut generator ozon diperkenalkan kepada masyarakat, kini teknologi itu dikembangkan lebih ramah lingkungan dan lebih efisien.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Sayuran lokal ditawarkan di Carrefour Kota Kasablanka, Jakarta, Senin (1/4/2019).

Teknologi pengawetan sayuran itu mengantarkan pengajar Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip, Muhammad Nur, menjadi guru besar di Universitas Diponegoro. Nur dikukuhkan pada Sabtu (31/8/2019). Menurut dia, teknologi terbaru itu sangat efisien dari segi penggunaan energi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Generator ozon kami kembangkan dengan teknologi green atau ramah lingkungan. Efisiensi daya maksimum (yang sebelumnya) sebesar 8,13 gram/kWh diperbaiki menjadi 330 gram/kWh. Artinya, dengan listrik kecil, kami bisa mendapatkan hasil besar. Kini, kami bisa dengan mudah melarutkan ozon ke dalam air,” kata Nur dalam pidato pengukuhannya.

Center for Plasma Research FSM Undip yang dipimpin Nur telah menciptakan teknologi itu agar sayuran lebih tahan lama. Dengan teknik penyimpanan dingin dilengkapi aliran ozon, sayuran seperti sawi dan brokoli tahan 9 hari, tomat 15 hari, cabai rawit merah 22 hari, dan cabai merah keriting 38 hari.

Hilirisasi pun telah dilakukan agar manfaatnya bisa dirasakan petani. Saat ini sudah ada delapan jenis produk yang dihasilkan, yakni D’Ozone DO50CS, D’Ozone DO150CB, D’Ozone DO300CB, power high voltage, reaktor ozon, serta cold storage, bak pencucian, dan meja penirisan dedicated ozone.

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Muhammad Nur (kiri) dari Fakultas Sains dan Matematika seusai dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Diponegoro, di Kampus Undip Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (31/8/2019). Selain Nur, dikukuhkan juga Eko Nurcahya Dewi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Banundari Rachmawati dari Fakultas Kedokteran.

Tekan mikroorganisme
Nur menjelaskan, generator D’Ozone memiliki kemampuan menekan perkembangan mikroorganisme sehingga memperpanjang umur simpan hasil pertanian. ”Selain itu, dapat menjaga kualitas produk hortikultura dan mengurangi residu pestisida berbahaya yang menempel pada sayuran dan buah-buahan,” ujarnya.

Kemudian, cold storage dengan D’Ozone dapat membantu petani mengatur waktu penjualan hasil panennya sehingga mampu menstabilkan harga pasar. Selain itu juga membantu konsumen mendapatkan produk hortikultura yang segar dan sehat.

Gabungan kelompok tani cabai di Magelang pun sudah merasakan manfaatnya. ”Dengan menerapkan teknologi ini, kelompok tani yang tadinya beromzet Rp 1,7 miliar per tahun naik menjadi Rp 5 miliar per tahun. Gabungan kelompok tani di Boyolali juga sudah ada yang memasok produk ke 23 supermarket di Pulau Jawa dengan memanfaatkan teknologi ini,” ujar Nur.

Rektor Undip Yos Johan Utama menuturkan, Undip akan terus memacu publikasi ilmiah dalam rangka menuju universitas riset unggul. Inovasi peningkatan kualitas pascapanen produk hortikultura yang dikembangkan Nur diharapkan memacu berbagai inovasi lain yang manfaatnya dirasakan masyarakat.

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Suasana pengukuhan tiga guru besar Universitas Diponegoro, di Kampus Undip Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (31/8/2019). Mereka adalah Muhammad Nur dari Fakultas Sains dan Matematika, Eko Nurcahya Dewi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, serta Banundari Rachmawati dari Fakultas Kedokteran.

Yos menambahkan, penguatan riset dan publikasi ilmiah itu didukung dengan pembangunan laboratorium komplet di setiap fakultas. ”Setelah pada 2018 fokus pada pemerataan, pada 2019 kami gencarkan pembangunan laboratorium. Nantinya kami harapkan Undip memiliki 170 guru besar atau 10 persen dari jumlah total dosen,” ujar Yos. Saat ini, guru besar aktif Undip berjumlah 123 orang.

Menurut Dekan Fakultas Sains dan Matematika Undip Widowati, pihaknya terus mendorong para dosen yang sudah doktor untuk terus melakukan riset dan menerbitkan artikel ilmiah. ”Dikukuhkannya Pak Nur sebagai guru besar keenam di fakultas kami harap memotivasi pengajar lainnya,” katanya.

Pada Sabtu dikukuhkan juga dua guru besar Undip lainnya, yakni Eko Nurcahya Dewi dalam bidang ilmu teknologi pangan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Banundari Rachmawati dalam bidang patologi klinik Fakultas Kedokteran. Mereka guru besar ke-9, ke-10, dan ke-11 Undip yang dikukuhkan pada 2019.–ADITYA PUTRA PERDANA

Editor AUFRIDA WISMI WARASTRI

Sumber: Kompas, 31 Agustus 2019

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB