Home / Profil Ilmuwan / Yayuk Rahayuningsih Suhardjono, Setia Meneliti Collembola

Yayuk Rahayuningsih Suhardjono, Setia Meneliti Collembola

“Saya satu-satunya yang meneliti tentang Mordilidae-hewan dari keluarga kumbang,” kalimat itu keluar dari mulut seorang peneliti dari Australia. Kalimat itu menggelitik perasaan Yayuk Rahayuningsih Suhardjono (68) untuk menjadi peneliti obyek yang langka. Ia pun memilih meneliti Collembola (ekor pegas), binatang yang hidup di dalam tanah. Setelah puluhan tahun meneliti ia bisa berkata, “Saya satu-satunya orang di ASEAN yang meneliti Collembola.”

Bidang yang dia tekuni bukan bidang yang gemerlap karena menurut dia tak ada yang melirik Collembola. Pekerjaannya banyak bergelut dengan hal-hal yang kotor karena berurusan dengan tanah. Obyek yang dia teliti pun berukuran kecil, antara 0,1 mm-9 mm. Sebagian sulit dilihat dengan mata telanjang.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Yayuk Rahayuningsih, peneliti Collembola dari LIPI.

“Di Indonesia belum ada orangnya (belum ada peneliti lain). Saya single fighter. Di ASEAN (Asia Tenggara) kalau meneliti taksonominya tidak ada orang lain (selain Yayuk),” kata Yayuk, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/4/2018).

Collembola penting diteliti karena perannya di dalam ekosistem sangat besar. Collembola berperan membantu perombakan bahan organik dan mengurai bahan racun. Collembola juga berfungsi sebagai indikator hayati untuk mengukur tingkat kesuburan tanah dan mengendalikan penyakit tanaman akibat serangan jamur.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Yayuk Rahayuningsih di Laboratorium Zoologi LIPI Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/4/2018). Di laboratorium tersebut Yayuk menggunakan waktunya untuk meneliti Collembola

Perkenalan awal Yayuk dengan Collembola terjadi sekitar tahun 1977. Saat itu, ia diminta oleh Direktur Lembaga Biologi Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk memanfaatkan ribuan gelas-gelas plastik sisa Pekan Olahraga Nasional LIPI yang melibatkan seluruh karyawan dari Jakarta, Bandung, dan Bogor.

“Bisa kamu gunakan gelas plastik ini untuk trap (menjebak) serangga tidak?” tanya Setijati Sastrapradja Direktur LBN saat itu. Yayuk menerima tantangan tersebut.

“Saya pasang di kebun di mes saya di Baranangsiang (Bogor). Dapat banyak. Ada juga serangga tanah, tapi jumlah Collembola banyak. Gampang mengumpulkannya,” kenangnya.

Pengetahuan Yayuk tentang Collembola atau ekor pegas masih amat minim waktu itu karena belum ada yang menelitinya secara khusus. Yayuk pun terpacu untuk meneliti Collembola. “Kalau ada penelitian, saya bawa gelas plastik ke mana-mana, pasang jebakan di situ, pasti dapat banyak. Saya cuma mengumpulkan tahun 1977-1978, sudah dapat begitu banyak. Tapi mau saya apakan?”

Ia bingung ketika ingin melakukan taksonomi–mengidentifikasi untuk menetapkan spesies koleksi. Menyadari bahwa tidak ada peneliti Indonesia yang bisa dia ikuti jejaknya, ia mulai menyurati para penulis karya ilmiah tentang Collembola yang dia dapatkan lembar cetaknya (reprint). “Semua saya surati. Tidak tahu berapa yang saya kirimkan.”

Surat ke banyak peneliti di berbagai negara akhirnya berbalas. Dari Perancis dan Australia masing-masing datang satu surat balasan, dari Jepang dapat dua.

“Yang dari Jepang malah langsung ngasih mikroskop,” tambahnya. Sayangnya, mikroskop itu akhirnya tak dapat dipakai karena tidak sesuai dengan kondisi kantor LIPI.

Setelah itu datang utusan Prof Cassagnau dari Universitas di Toulouse yang pernah menuliskan Collembola yang ada di Indonesia.

Yayuk mulai menggambar Collembola sejak 1983 dengan mikroskop sederhana yang dilengkapi kamera Lucida untuk tracking (menggambar dengan cara menelusuri tampilan spesimen di bawah mikroskop).

Melihat peralatan yang digunakan Yayuk, utusan Cassagnau yang mengunjungi museum Zoologi Nasional mengatakan, ”Kamu tidak bisa menjadi peneliti Collembola kalau mikroskop kamu cuma seperti itu.”

Yayuk hanya menjawab, “Saya hanya punya ini, mikroskop biasa.”

Akses laboratorium
Karena penelitian itu tidak memiliki alat pendukung dan supervisor, pimpinan tempat Yayuk bekerja pernah meminta agar penelitian itu dihentikan. Namun, Yayuk tidak menyerah. Saat kondisi mulai mentok, datang tawaran dari Perancis untuk pelatihan empat minggu. Australia juga menawarkan kesempatan untuk mengerjakan penelitian di laboratorium mereka selama 4 bulan tahun 1990-an.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Yayuk Rahayuningsih di Laboratorium Zoologi LIPI Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/4/2018). Di laboratorium tersebut Yayuk menggunakan waktunya untuk meneliti Collembola.

Yayuk menerima tawaran dari Australia. Dengan meninggalkan suami dan seorang anak di Indonesia, Yayuk berjibaku melakukan penelitian di Australian National Insect Collection (ANIC) di Canberra selama empat bulan untuk menggenapi disertasinya tentang Collembola Bali-Lombok.

Di ANIC, ia mendapatkan akses untuk memanfaatkan laboratorium. Ia ibaratnya bisa bekerja tujuh hari seminggu, 24 jam sehari. “Saya dapat fasilitas bagus. Saya dikasih kartu magnetik sehingga kapan pun bisa masuk. Sebagai pengunjung, saya bisa masuk laboratorium, perpustakaan, sampai gudang penyimpanan peralatan dan bahan. Kayak supermarket tinggal pilih terus mencatat apa yang diambil. Seperti belanja, apapun boleh,” ujarnya sambil membayangkan jika itu diberlakukan di Indonesia.

“Mikroskop sudah bagus, jadi saya kerja dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam tidak terasa,” tutur Yayuk. Saat pulang tahun 1991, Yayuk tinggal menuliskan disertasi.

Ketekunannya ditambah dengan posisinya sebagai koordinator zoologi Lembaga Biologi Nasional LIPI membuat Yayuk kembali mendapat kesempatan untuk menambah pengetahuan dari negara lain. Ia pernah mengikuti program dari Bank Dunia melalui GEF (Green Environment Fund) untuk belajar manajemen koleksi di 13 museum. Ia berkeliling ke Natural History Museum dan beberapa museum lainnya di lima negara, yakni Singapura, London, Belanda, Inggris, dan Australia.

Dari kunjungan tersebut Yayuk belajar bagaimana menyimpan koleksi. “Sekarang tidak perlu ke luar negeri untuk melihat koleksi standar internasional. Di sini (Indonesia) juga sudah standar internasional,” ujarnya.

Dengan moving management, 50.000 botol koleksi yang dipindahkan dari Bogor ke Jakarta, pada tahun 1997, semuanya selamat, tak satu pun pecah.

Setelah 40-an tahun meneliti Collembola, Yayuk bisa dikatakan masih sendirian meneliti obyek ini di Indonesia. Di dunia, jumlah peneliti Collembola juga bisa dihitung jari. Dia mengaku bisa bertahan meneliti Collembola selama puluhan tahun karena ia suka. “Mengerjakan sesuatu yang kita suka itu tidak membuat capek,” ujarnya.

Ia juga bersyukur karena lembaga tempatnya bernaung, tidak membeda-bedakan fasilitas bagi perempuan maupun laki-laki. “Kesempatan penelitian ditawarkan secara terbuka. Kalau memenuhi syarat bisa masuk tim,” ujarnya.

Prof Dr Yayuk Rahayuningsih Suhardjono
Suami: Suhardjono, peneliti LIPI
Anak: Primadina Banusita
Lahir: Magelang, 25 September 1950

Pendidikan
– Sekolah Rakyat Negeri II Secang, Magelang, Jawa Tengah 1962
– SMP Negeri II Sleman, DIY, 1965
– SMA Negeri III Yogyakarta, DIY, 1968
– Sarjana Muda Biologi UGM (1972)
– S1 1 FMIPA UI (1978)
– S3 Pascasarjana UI (1992)

BRIGITTA ISWORO LAKSMI DAN SONYA HELLEN SINOMBOR

Sumber: Kompas, 21 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sri Budiarti Melawan Bakteri Resisten Antibiotik

Sri Budiarti memilih mendalami mikrobiologi, terutama penelitian terapi bakteriofag untuk membunuh bakteri resisten antibiotik. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: