Home / Berita / Waspada Zoonosis

Waspada Zoonosis

Dalam 50 tahun terakhir, berbagai penyakit baru terus bermunculan. Dunia ternyata tak sempat bernapas lega meski penyakit cacar sudah berhasil dieradikasi dan sindrom HIV/AIDS mampu diatasi.

Sepanjang abad ke-21 merebak severe acute respiratory syndrome (SARS) yang sempat mengancam kawasan Asia, middle east respiratory syndrome (MERS), dan flu burung. Sebelumnya, dalam bukunya, The Coming Plaque (1994), Laurie Garrett menyebut puluhan penyakit infeksi baru yang perlu diwaspadai: hanta, demam lassa, flu babi, dan ebola.

Sebagian penyakit di atas termasuk penyakit zoonosis, karena bersumber dari infeksi pada hewan yang kemudian menular ke manusia. Penyebab zoonosis ini beragam, bisa virus, bakteri, parasit, ataupun jamur.

Anggota Unit Respon Cepat Dinas Pertanian bagian Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat, dan Veterinarian Kabupaten Bandung sedang memusnahkan itik yang telah positif flu burung di Kampung Lebak Wangi, Desa Sekar Wangi, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (24/2). Sebanyak 760 itik mati karena flu burung sejak tiga minggu terakhir di kampung itu.–Kompas/Benediktus Krisna Yogatama (BKY)
24-02-2017

KOMPAS/BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA–Anggota Unit Respon Cepat Dinas Pertanian bagian Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat, dan Veterinarian Kabupaten Bandung sedang memusnahkan itik yang telah positif flu burung di Kampung Lebak Wangi, Desa Sekar Wangi, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (24/2/2017).

Di Indonesia, ada penyakit zoonosis lama, seperti rabies, antraks, leptospirosis, dan toksoplasmosis. Rabies, misalnya, sudah ditemukan di Indonesia sejak abad ke-19 dan ditularkan melalui gigitan binatang, seperti anjing, kucing, kera.

ANTARA FOTO/NYOMAN BUDHIANA–Petugas Dinas Peternakan Denpasar menyuntikkan vaksin anti rabies pada anjing milik warga di kawasan Renon, Denpasar, Bali, Senin (18/4/2016).

Antraks menginfeksi manusia melalui saluran pernapasan, luka, atau daging ternak yang tidak dimasak sempurna, seperti kambing, domba, sapi, bahkan unta. Sementara leptospirosis umumnya ditularkan oleh tikus dan toksoplasmosis oleh kucing.

Kalau harian Kompas tepat 49 tahun lalu memberitakan temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa ada tidak kurang dari 150 penyakit hewan yang dapat menulari manusia, saat ini lebih dari 200 penyakit zoonosis ditemukan di Indonesia (”200 Penyakit Zoonosis di Indonesia”, https://ugm.ac.id, 5 Desember 2013).

Orang dengan infeksi zoonosis bisa sangat sakit sampai meninggal, tetapi pada sebagian lain tidak muncul gejala bahkan sehat-sehat saja. Gejala yang umum adalah panas tinggi, pegal linu pada otot, diare, dan perdarahan.

Ebola, misalnya, merupakan penyakit zoonosis kompleks yang sangat mematikan pada manusia. Dalam Mapping the Zoonotic Niche of Ebola Virus Disease in Africa, 2014, David M Pigott dan kawan-kawan menyebut ebola menginfeksi primata dan kelelawar, kemudian manusia.

Mencegah penyakit zoonosis di tingkat makro perlu regulasi, kerja keras antardisiplin, dan pengawasan ketat. Pada tingkat mikro, pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga higiene dan sanitasi pada diri manusia, hewan peliharaan dan ternak, serta lingkungan. (nes)

Sumber: Kompas, 8 Maret 2018
————-
KOMPAS, 8 MARET 1969: 150 Penyakit Hewan Tulari Manusia

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA–Dokter hewan memberi bantuan oksigen kepada anak anjing jenis Golden Retriver berusia tiga minggu yang sakit kejang di sebuah klinik dan penitipan hewan Nature Vet di kawasan Tebet, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan sekitar 150 macam penyakit hewan yang dapat menulari manusia melalui berbagai macam perantara. Menurut Daniel Coren, seorang dokter hewan WHO, penyakit itu antara lain rabies, antraks, rinderpest, TBC, cacar, dan pleuropneumonia. Perantaranya antara lain air minum dan makanan yang diawetkan.

Sumber: Kompas, 8 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: