Musuh Terkuat Manusia

- Editor

Rabu, 22 Juli 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TOPSHOT - Medical staff members carry a patient into the Jinyintan hospital, where patients infected by a mysterious SARS-like virus are being treated, in Wuhan in China's central Hubei province on January 18, 2020. - The true scale of the outbreak of a mysterious SARS-like virus in China is likely far bigger than officially reported, scientists have warned, as countries ramp up measures to prevent the disease from spreading. (Photo by STR / AFP) / China OUT

TOPSHOT - Medical staff members carry a patient into the Jinyintan hospital, where patients infected by a mysterious SARS-like virus are being treated, in Wuhan in China's central Hubei province on January 18, 2020. - The true scale of the outbreak of a mysterious SARS-like virus in China is likely far bigger than officially reported, scientists have warned, as countries ramp up measures to prevent the disease from spreading. (Photo by STR / AFP) / China OUT

CATATAN IPTEK

Manusia telah menjelajah nyaris ke seluruh di penjuru Bumi dan berpikir telah menguasai semua hal-hal liar. Namun, ada musuh paling berbahaya yang tak bisa diatasi hingga kini, bahkan semakin kuat dan bervariasi. Musuh itu bukanlah yang terbesar dengan penampilan paling mengerikan, justru yang paling renik dan tak kasad mata, yaitu virus!

Belum tuntas kita mengatasi wabah virus korona penyebab sindrom pernafasan akut atau SARS-Cov (Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus), yang menewaskan 800 jiwa dan menginfeksi 8000 orang pada 2003 di Asia, varian baru virus ini mewabah di Timur Tengah pada 2012. Strain baru itu diberi nama Midlle East Respiratory Syndrome Coronavirus atau (MERS-Cov) dan menewaskan ratusan orang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini, muncul strain baru virus korona. Strain ke tujuh virus korona ini pertama kali dideteksi di pasar pangan laut di Kota Wuhan, China ini pada akhir Desember 2019. Dua minggu kemudian, virus ini telah menginfeksi ratusan orang di berbagai kota di China, dan 4 di antaranya meninggal.

Virus memicu masalah pneumonia ini juga telah melintasi perbatasan negara hingga Jepang, Korea Selatan, dan Thailand. Setelah awalnya diduga hanya menular dari binatang ke manusia, pada Senin (20/1/2020), virus ini dipastikan bisa menular dari manusia ke manusia.

Dengan menular dari orang ke orang, strain baru korona ini telah mengikuti pendahulunya sebagai virus zoonosis, artinya bisa menulari baik hewan maupun manusia. Investigasi sebelumnya menemukan bahwa SARS-CoV ditularkan dari musang ke manusia dan MERS-CoV dari onta dromedaris ke manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, secara global, sekitar satu miliar kasus penyakit dan jutaan kematian per tahun dipicu oleh zoonosis. Sekitar 60 persen dari penyakit menular yang muncul yang dilaporkan secara global adalah zoonosis.

Lebih dari 30 patogen manusia baru telah terdeteksi dalam tiga dekade terakhir, 75 persen darinya berasal dari hewan, termasuk di antaranya virus paling mematikan seperti ebola dan HIV.

Lompatan virus binatang ke manusia yang kian marak belakangan ini terjadi seiring dengan masifnya ekstraksi alam liar. Hutan-hutan yang dulu menjadi rumah bagi para predator terkuat yang dihindari leluhur kita, nyaris tak ada lagi yang perawan. Demikian juga lautan.

Kita memang berhasil menyingkirkan para predator yang dulu ditakuti, serta aneka binatang pesaing dalam rantai makanan. Sebagian fauna itu telah punah, lainnya dikumpulkan di kebun binatang dan menjadi tontotan anak-anak.

Namun, semakin dekat manusia dengan benteng alam liar terakhir, semakin dekat kita dengan predator terkuat, yaitu virus yang selama ini hidup di dalam dunia binatang.

Tidak ada yang tahu persis kapan virus muncul atau dari mana mereka datang, karena virus tidak meninggalkan jejak sejarah seperti fosil. Namun, virus kemungkinan telah ada sejak munculnya kehidupan awal di Bumi.

Virus tidak benar-benar hidup: struktur mereka non-seluler, dan mereka tidak dapat bertahan lama tanpa inang. Mereka bereproduksi dan berevolusi, tetapi mereka tidak bernafas, makan, atau mengeluarkan kotoran.

Doroty H. Crawford, profesor mikrobiologi dari Universias Edinburg, Inggris dalam bukunya The Invisible Enemy: A Natural History of Viruses (2002) menggambarkan, virus biologis serupa dengan virus komputer, yaitu sepotong kode, serangkaian huruf dan angka. Selama dia tidak ada di dalam sistem operasi komputer, kode itu tidak berbahaya dan abstrak. Namun, begitu berada di komputer, ia bisa mengakuisisinya, mereproduksi diri dan menyebar ke komputer lain.

Jadi, di luar sel hidup, virus biologis ini tidak lebih dari sepotong informasi, potongan asam nukleat dalam amplop protein.

Sepanjang keberadaannya, virus bertujuan untuk masuk ke dalam sel, menggunakan fasilitas sel untuk mereproduksi dirinya sendiri, dan kemudian menyebar ke inang berikutnya. Contohnya, virus rabies, begitu berada di dalam korban baru, dia akan memasuki ujung saraf lokal hingga perlahan menuju otak. Begitu mencapai sel-sel otak, dia menyebabkan ensefalitis, membuat hewan atau orang yang terinfeksi menjadi seperti gila, dan seringkali menggigit untuk menularkan virus rabies.

Selain kemampuannya untuk membajak inangnya, salah satu karakter berbahaya virus sebagai predator ulung adalah kemampuanya berevolusi. Berbeda dengan organisme lain, terutama manusia, kecepatan evolusi virus jauh lebih cepat karena dipicu tingginya tingkat mutasi.

Mutasi cepat ini merupakan salah satu siasat mereka menghindari sergapan sistem kekebalan tubuh inang ataupun obat-obatan. Dengan mutasi cepat ini, rasanya tidak mustahil, suatu ketika nanti bakal muncul virus dengan daya mematikan seperti ebola, namun dengan kecepatan penularan seperti influenza atau corona.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 22 Januari 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Kincir Angin: Dari Ladang Belanda Hingga Pesisir Nusantara
Surat Panjang dari Pinggir Tata Surya
Ketika Matahari Menggertak Langit: Ledakan, Bintik, dan Gelombang yang Menggetarkan Bumi
Mengalirkan Terang dari Gunung: Kisah Turbin Air dan Mikrohidro yang Menyalakan Indonesia
Arsitektur yang Bertumbuh dari Tanah, Bukan dari Langit
Dusky: Senandung Ibu dari Sabana Papua
Dari Garis Hitam ke Masa Depan Digital: Kronik, Teknologi, dan Ragam Pemanfaatan Barcode hingga QRIS
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 12 November 2025 - 20:57 WIB

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Minggu, 27 Juli 2025 - 21:58 WIB

Kincir Angin: Dari Ladang Belanda Hingga Pesisir Nusantara

Kamis, 17 Juli 2025 - 21:26 WIB

Surat Panjang dari Pinggir Tata Surya

Selasa, 15 Juli 2025 - 08:43 WIB

Ketika Matahari Menggertak Langit: Ledakan, Bintik, dan Gelombang yang Menggetarkan Bumi

Senin, 14 Juli 2025 - 16:21 WIB

Mengalirkan Terang dari Gunung: Kisah Turbin Air dan Mikrohidro yang Menyalakan Indonesia

Berita Terbaru

Berita

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 19 Nov 2025 - 16:44 WIB

Artikel

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Rabu, 12 Nov 2025 - 20:57 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Tarian Terakhir Merpati Hutan

Sabtu, 18 Okt 2025 - 13:23 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Hutan yang Menolak Mati

Sabtu, 18 Okt 2025 - 12:10 WIB