Home / Artikel / Korona, Sebaran, dan Pertahanan Biologis

Korona, Sebaran, dan Pertahanan Biologis

CORONAVIRUS strain baru, 2019-nCoV atau Covid-19 berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok Tengah, Desember 2019. Virus tersebut mewabah dengan cepat baik di Tiongkok maupun ke berbagai negara. Keganasan virus korona jenis baru itu tampak dari kecepatan persebarannya. Hingga 18 Februari 2020, jumlah kasus Covid-19 mencapai 65.039 dengan jumlah kematian mencapai 1.875 orang (worldometers.info).

Korona berasal dari famili virus Coronaviridae, berukuran genom 26–32 kilo pasang basa (bp), yang merupakan ukuran genom yang terbesar untuk virus RNA. Virus itu ditemukan pada 1960-an sebagai virus bronkitis infeksi pada ayam dan 2 virus dari rongga hidung pasien manusia yang awalnya flu biasa, kemudian dinamai 4 Human Coronavirus 229E dan Human Coronavirus OC43 (Geller et al., 2012).

Virus korona yang ditemukan di Tiongkok telah berhasil diidentifikasi sebagai strain baru. Secara filogeni serupa dengan virus SARS yang ditemukan pada kelelawar namun diduga telah mengalami rekombinasi akibat interaksi bebas antardaging-daging hewan liar di pasar seafood, Wuhan, dalam jangka waktu lama. WHO telah mengambil sampel virus dari daging hewan liar di pasar tersebut, tetapi belum ditemukan asosiasi antara Covid-19 dan hewan tertentu sebagai inang.

Asosiasi filogenetik dan filogene yang ditemukan juga menunjukkan bahwa kemungkinan terdapat hubungan ko-evolusi antara beberapa coronavirus dan inangnya. Beberapa virus ditemukan mengalami pergeseran inang pada kelelawar yang hidup berdampingan. Sebagai contoh penelitian dari kelelawar genus Rhinolophus. Spesies berbeda dari Rhinolophus yang berada di dalam gua yang sama mengalami penularan virus antarspesies meskipun tingkat pergeseran inang coronavirus kelelawar Rhinolophus tidak terlalu tinggi bila dibandingkan dengan genus kelelawar lainnya. Pergeseran inang sebagai akibat dari ko-evolusi virus dan inang tidak hanya terjadi antarspesies pada genus yang sama. Evolusi juga diketahui telah menyebabkan penularan virus hewan ke manusia.

Di awal 2000-an, virus SARS dari kelelawar sepatu kuda menginfeksi lebih dari 8.000 orang dengan tingkat kematian 9,6 persen. Pada 2012, virus MERS dari Timur Tengah menginfeksi hampir 2.499 orang dan mengakibatkan lebih dari 861 kematian. Virus MERS diketahui berasal dari unta yang kemudian mampu menginfeksi manusia akibat durasi dan frekuensi kontak yang tinggi antara manusia dan hewan tersebut. Merujuk pada hal tersebut, pergeseran inang Covid-19 dari hewan ke manusia disebabkan adanya kontak antara daging kelelawar, musang, ular, dan manusia dalam perdagangan satwa liar di Wuhan.

Perluasan Wabah
Virus korona telah menjadi ancaman biologis dunia di awal 2020. Persebaran virus itu relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan virus pneumonia lain yang tercatat pernah menginfeksi manusia. WHO melaporkan bahwa umumnya pasien yang positif terinfeksi Covid-2019 adalah mereka yang berinteraksi langsung dengan pasar seafood di Wuhan atau yang berinteraksi dengan pasien yang telah terinfeksi. Diduga terjadi zoonosis (penularan dari hewan ke manusia) dalam kasus infeksi Covid-2019. Namun, seiring perkembangan, diketahui bahwa terjadi penularan dari manusia ke manusia yang menyebabkan virus itu mewabah pesat.

Penularan virus dari hewan dapat dengan mudah menginfeksi manusia akibat adanya interaksi dan hubungan evolusi yang cukup dekat antara manusia dan hewan, khususnya mamalia. Kontak fisik dengan hewan yang sakit seperti melalui gigitan, goresan, hingga tidak sengaja berkontak dengan cairan tubuh hewan yang sangat mungkin membuat manusia terpapar patogen zoonosis. Di era modern ini, interaksi antara hewan dan manusia semakin sering terjadi akibat perubahan gaya hidup maupun alih fungsi lahan hutan.

Alasan lain yang membuat wabah virus korona baru ini patut mendapat perhatian serius adalah masa inkubasi virus ini relatif lama, yaitu 7–14 hari setelah pasien terpapar kali pertama serta gejalanya yang umum seperti penyakit infeksi lain yang tidak mematikan. WHO melaporkan, beberapa pasien tidak ditemukan gejala infeksi hingga kondisi pasien telah parah. Pasien tanpa gejala merupakan silent reservoir yang berbahaya karena virus korona dalam tubuhnya tetap memiliki kemampuan menulari individu sehat layaknya virus pada pasien dengan gejala akut.

Antisipasi Pemerintah
Kemenkes RI melalui Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit telah meningkatkan kewaspadaan dini dengan penyediaan 135 thermal scanner di KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) Indonesia. Selain itu, kewaspadaan ditingkatkan di seluruh bandara yang mempunyai penerbangan langsung dari Tiongkok, dengan mengaktifkan thermal scanner, memberikan health alert card dan KIE kepada penumpang. Upaya itu juga didukung kebijakan Kementerian Perhubungan yang untuk sementara melarang penerbangan dari dan ke Tiongkok hingga situasi kondusif.

Beberapa media melaporkan adanya pasien suspect terinfeksi virus korona jenis baru di beberapa kota di Indonesia seperti Jambi, Manado, dan Bandung. Namun, hingga saat ini belum ada satu pun pasien yang teridentifikasi positif (WHO, 10 Februari 2020). Hal tersebut menguak sisi lain pertahanan bangsa Indonesia, yaitu pertahanan secara biologis. Sebab, beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Australia telah mengonfirmasi bahwa terdapat warga mereka yang positif terinfeksi virus korona.

Kiranya pertahanan itu perlu kita tingkatkan, salah satunya, dengan meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, membiasakan pola hidup bersih dan rajin cuci tangan, memakai masker jika batuk dan pilek, menghindari kontak dengan hewan sakit jika tidak diperlukan, serta saling menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Pemerintah juga sebaiknya terus melakukan upaya preventif dengan meningkatkan performa dan kesigapan tenaga medis jika keadaan mulai memburuk serta menyiapkan fasilitas rumah sakit dengan kemampuan isolasi yang memadai.

Semoga Indonesia dapat berperan lebih dalam penanganan virus korona baru mengingat belum ada vaksin/obat dari infeksi akibat virus tersebut. Semoga wabah Covid-19 dapat segera ditangani dan berakhir dengan tuntas. (*)

*) Budi Setiadi Daryono, Guru besar, dekan Fakultas Biologi UGM, dan ketua Konsorsium Biologi Indonesia

Editor : Dhimas Ginanjar

Sumber: Jawa Pos, 19 Februari 2020

Share
x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: