Home / Berita / MERS Kian Menyebar; Kabupaten/Kota Diperingatkan agar Waspada

MERS Kian Menyebar; Kabupaten/Kota Diperingatkan agar Waspada

Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) kian menyebar luas ke berbagai belahan dunia. Hingga tahun lalu, penyakit karena korona virus itu hanya ditemukan di Timur Tengah dan Eropa. Kini, sindrom itu sudah ditemukan di Asia Tenggara dan Amerika Utara.

Kasus terakhir Sindrom Pernapasan Timur Tengah (Middle East Respiratory Syndrom/ MERS) dilaporkan di Amerika Serikat, Jumat (2/5). Temuan itu sekaligus jadi kasus MERS pertama di Amerika. Sejak pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada September 2012, ada 425 kasus MERS di seluruh dunia dan 131 kasus di antaranya berakhir kematian. Itu berarti kematian MERS 31 persen.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) dan Amerika Serikat (CDC) menyebutkan, hingga 4 Mei 2014, jumlah kasus MERS di kawasan Timur Tengah mencapai 409 kasus, 124 pasien di antaranya meninggal. Kasus terbesar berada di Arab Saudi. Di Eropa, ada 10 kasus dan 5 pasien di antaranya meninggal. Dua kasus MERS di Asia, 3 kasus di Afrika, dan 1 kasus di Amerika Serikat.

Di Jakarta, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, Sabtu (3/5), mengatakan, kasus di Amerika Serikat terjadi pada orang yang baru pulang dari Riyadh, Arab Saudi, melalui London, Inggris. Tiga hari setelah tiba di AS, ia sesak napas dan demam. Uji laboratorium pada Jumat lalu memastikan, yang bersangkutan positif mengidap virus MERS.

Menurut Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, MERS awalnya berkembang di Arab Saudi. Setelah ditemukan kasus MERS di Jeddah dan Madinah, virus itu juga menyebar ke sejumlah negara, termasuk Perancis. Baru-baru ini, dalam 24 jam ada 10 pasien baru terjangkit virus itu. ”Ini merisaukan,” ujarnya.

Pada 27 April 2014, seorang warga Indonesia yang lama bermukim di Arab Saudi—yang dilaporkan terjangkit virus itu— dilaporkan meninggal di Arab Saudi. Pasien berumur 61 tahun itu meninggal setelah dirawat seminggu di rumah sakit. Selain mengalami gangguan pernapasan akut, korban juga menderita gagal ginjal.

Sejauh ini, di Indonesia belum ada laporan adanya pasien yang terjangkit virus itu. ”Ada beberapa warga yang melaksanakan ibadah umrah dan kembali ke Indonesia dengan beberapa gejala menyerupai MERS, tetapi negatif atau tidak terjangkit virus setelah pemeriksaan medis,” kata Nafsiah.

Mayoritas di Arab Saudi
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa dan CDC menyebutkan, kasus terbesar MERS berada di Arab Saudi. Mereka yang terjangkit di luar Timur Tengah umumnya terjangkit MERS setelah bepergian ke kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mereka yang terjangkiti MERS, dua pertiganya laki-laki. Median umur pasien adalah 52 tahun. Menurut studi pada jurnal Lancet Infectious Diseases, akhir Juli 2013, 96 persen yang terinfeksi MERS juga mengidap penyakit kronis, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, jantung, dan gangguan ginjal. Kontak langsung dengan orang yang terjangkiti virus itu jadi sumber penularan MERS.

Pemicu sindrom itu adalah virus korona (coronavirus) sehingga penyakit itu juga disebut MERS-CoV. Virus berasal dari genus yang sama dengan virus yang memicu sindrom pernapasan akut parah (severe acute respiratory syndrome/SARS) yang mewabah di banyak negara pada 2002. Selain gejala flu, seperti demam, batuk, dan sesak napas, sejumlah penderita MERS juga mengalami gangguan pencernaan, seperti diare dan muntah.

2173763585-SARS-MERS-virus-may-be-deadlier-than-SARS-8yFJika MERS lebih banyak menyerang orang paruh baya dan mengidap penyakit kronis, SARS lebih banyak menyerang orang muda dan sehat. Tingkat kematian pasien SARS mencapai 10 persen dari 8.098 kasus yang dilaporkan. Adapun tingkat kematian MERS kini 31 persen, menurun dibandingkan Juli 2013 yang mencapai 50 persen, seiring makin banyak dan menyebarnya kasus.
Kewaspadaan

Meski belum ditemukan kasus MERS di Indonesia, Kementerian Kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan virus itu. Saat ini, jumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, terhitung besar. Apalagi, banyak warga Indonesia bepergian ke Arab Saudi menunaikan umrah.

Untuk itu, pemerintah mengeluarkan peringatan kepada masyarakat, terutama yang akan bepergian ke Timur Tengah agar mewaspadai penularan MERS. ”Kami memberikan peringatan ke semua kabupaten atau kota, mengundang semua biro perjalanan penyelenggara umrah untuk memberikan peringatan mengenai MERS,” kata Nafsiah.

Sejauh ini, pemerintah sebatas memperingatkan warga yang hendak bepergian ke negara di mana ada kasus MERS, khususnya Arab Saudi, tentang bahaya virus itu. Adapun WHO belum mengeluarkan larangan bepergian ke Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi juga menjamin dapat mengendalikan penularan.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Fidiansjah menambahkan, pengendalian penyebaran penyakit menular pada calon haji yang akan berangkat ke Tanah Suci lebih terkontrol dibandingkan jemaah umrah. Satu-satunya kesempatan petugas kesehatan mengetahui kondisi kesehatan calon jemaah umrah ialah saat vaksinasi meningitis. (MZW/ADH/EVY/LIVESCIENCE)

Sumber: Kompas, 5 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: