Home / Berita / Cerita Kelelawar dan Virus Korona

Cerita Kelelawar dan Virus Korona

Kelelawar adalah inang alami virus korona, seperti terbukti pada penyakit SARS dan MERS. Bagaimana dengan virus korona baru Wuhan?

Kelelawar tiba-tiba menjadi viral ketika penyakit yang disebabkan virus korona baru merebak di Wuhan, China. Cerita makin dramatis ketika di media sosial ramai beredar video seorang perempuan makan sup kelelawar. Kelelawar dalam sup tersebut masih utuh dengan gigi mirip vampir.

Hubungan kelelawar dan virus korona baru, antara lain, dikupas Catharine I Paules dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), serta Hilary D Marston dan Anthony S Fauci dari Institut Kesehatan Nasional, Maryland, AS.

Artikel mereka yang berjudul ”Virus Korona: Lebih dari Sekadar Pilek” dimuat dalam The Journal of the American Medical Association edisi 23 Januari 2020. Artikel mereka juga dimuat dalam Science Daily tanggal yang sama.

Dalam artikelnya, mereka menulis bahwa virus korona manusia (human coronavirus/HCoV) telah lama bertanggung jawab sebagai penyebab flu biasa pada manusia. Namun, pada abad ke-21, ada dua HCoV yang sangat patogenik atau menyebabkan penyakit pernapasan.

Kedua HCoV itu adalah virus korona sindrom pernafasan akut yang parah (severe acute respiratory syndrome coronavirus/SARS-CoV) dan virus korona sindrom pernafasan Timur Tengah (middle east respiratory syndrome coronavirus/MERS-CoV).

PHOTO BY STR / AFP–Petugas medis membawa seorang pasien ke Rumah Sakit Jinyintan, tempat pasien yang diduga terinfeksi virus mirip SARS sedang dirawat, di Wuhan, Provinsi Hubei, wilayah tengah China, Jumat (17/1/2020).

Kedua virus corona ini bermigrasi dari reservoir atau inang hewan. Virus ini menyebabkan epidemi global dengan morbiditas atau angka kesakitan dan mortalitas atau angka kematian yang mengkhawatirkan.

Pada 31 Desember 2019, HCoV patogen lainnya, virus korona baru atau novel coronavirus 2019 (2019-nCoV), dideklarasikan di Wuhan, China. Virus 2019-nCoV telah menyebabkan penyakit dan kematian yang serius. Sebagian besar pasien melaporkan paparan ke pasar makanan laut yang menjual banyak spesies hewan hidup.

Virus korona adalah virus asam ribonukleat (ribonucleic acid/RNA) untai positif berukuran besar terbungkus. Virus korona dibagi menjadi empat genus, yaitu alfa, beta, delta, dan gamma. CoV alfa dan beta diketahui menginfeksi manusia. Empat HCoV, yaitu HCoV 229E, NL63, OC43, dan HKU1, bersifat endemik secara global dan merupakan 10-30 persen dari infeksi saluran pernapasan atas pada orang dewasa.

”Virus korona secara ekologis beragam dengan variasi terbesar yang terlihat pada kelelawar, menunjukkan bahwa mereka adalah inang bagi banyak virus ini,” tulis Paules dan kawan-kawan. Selain itu, mamalia peridomestik dapat berfungsi sebagai inang perantara, memfasilitasi rekombinasi, dan mutasi dengan perluasan keanekaragaman genetik.

KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANA–Pulau Myoskun, kira-kira satu jam perjalanan dari Pelabuhan Waisai, Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat, menjadi rumah kelelawar.

Penelitian tentang hubungan kelelawar telah dilakukan pada 2015 di China. Penelitian dilakukan tim ilmuwan dari Institut Virologi Wuhan, China, seperti Ben Hu, Xingyi Ge, dan Zhengli Shi, serta Lin-Fa Wang dari Universitas Nasional Singapura. Penelitian mereka berjudul ”Kelelawar, Asal-usul Virus Korona Manusia” dimuat dalam Viroloy Journal edisi 22 Desember 2015.

Dalam jurnal, mereka memaparkan, survei epidemiologis menunjukkan bahwa kasus awal SARS pada 2002-2003 dan keempat kasus pada 2003-2004 memiliki riwayat kontak hewan melalui perdagangan hewan di pasar basah atau di restoran tempat hewan hidup dipelihara di Provinsi Guangdong.

Deteksi molekuler dan studi isolasi virus menunjukkan bahwa SARS-CoV yang menyebabkan pandemi berasal dari musang yang diperdagangkan di pasar basah. Ini secara tidak langsung dikonfirmasi oleh pemusnahan besar musang pasar, yang diyakini memainkan peran utama dalam secara efisien mengandung pandemi SARS dan tidak ada lagi kasus SARS yang dilaporkan setelah 2004.

”Namun, studi epidemiologi ekstensif berikutnya tidak menemukan SARS-CoV pada musang yang ditangkap atau ditangkap, menunjukkan bahwa hewan lain terlibat dalam transmisi SARS-CoV di pasar hewan atau kegiatan perdagangan lainnya dan musang tidak mungkin merupakan sumber alami SARS-CoV,” tulis Ben Hu dan kawan-kawan.

Beberapa tahun sebelum pecahnya SARS, dua virus zoonosis lainnya, virus Nipah dan virus Hendra, muncul di Asia dan Australia dan mereka berdua diketahui berasal dari kelelawar. Hal ini mengarahkan para ilmuwan untuk mempertimbangkan kelelawar dalam pencarian reservoir SARS-CoV.

Pada 2005, sebuah terobosan dibuat ketika dua kelompok penelitian independen melaporkan, hampir secara bersamaan, penemuan virus corona baru yang terkait dengan SARS-CoV pada kelelawar tapal kuda (Rhinolophus sp) di China, yang disebut virus korona seperti SARS atau SARS-like coronavirus (SL-CoV).

Penemuan kelelawar SL-CoV meningkatkan minat peneliti dalam studi pengawasan virus korona pada kelelawar. Pada tahun-tahun berikutnya, RNA SL-CoV terdeteksi pada kelelawar Rhinolophus sp dari rentang geografis yang lebih luas di China. Provinsi atau daerah tempat kelelawar positif SL-CoV ditangkap meliputi Hong Kong, Guangxi, Hubei, Shandong, Guizhou, Shaanxi, dan Yunnan.

SL-CoV juga ditemukan pada kelelawar Rhinolophus sp dari Slovenia, Bulgaria, dan Italia di Eropa. SL-CoV Eropa ini menunjukkan variasi genetik yang signifikan dari isolat China. Strain BM48-31 dari Rhinolophus blasii di Bulgaria sangat berbeda dari isolat China. Di Afrika, virus korona beta baru yang terkait dengan SARS-CoV telah terdeteksi di kelelawar Hipposideros sp dan Chaerophon sp dari Ghana, Kenya, dan Nigeria.

ARSIP LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN I–Kelelawar (Pteropus sp).

Pada kasus MERS, kelelawar juga menjadi inang alami. Bukti menunjukkan bahwa SARS-CoV dan MERS-CoV berasal dari kelelawar, reservoir alami, kemudian ditransmisikan ke manusia masing-masing melalui inang perantara musang dan unta.

Menurut Ben Hu dan kawan-kawan, infeksi SARS-CoV pada manusia berasal dari kontak langsung antara manusia dan musang di pasar atau restoran. Menutup pasar basah dan memusnahkan musang memutus rantai penyebaran SARS-CoV dan secara efektif mengakhiri epidemi SARS.

Sebaliknya, MERS-CoV diyakini telah ada di unta untuk waktu yang sangat lama. Unta didistribusikan secara luas di Timur Tengah dan negara-negara Afrika, berfungsi sebagai vektor transportasi penting serta sumber daging dan susu untuk penduduk lokal. Oleh karena itu, sulit untuk mengadopsi strategi yang sama dari kontrol SARS-CoV dalam pencegahan wabah MERS-CoV di masa depan.

Bagaimana dengan virus korona baru Wuhan? Penelitian dan upaya global telah dilakukan untuk mengatasinya. Indonesia tidak terkecuali harus ikut dalam upaya global tersebut, termasuk memutus mata rantai kelelawar untuk dikonsumsi manusia, yang telah menjadi budaya di beberapa tempat di Indonesia.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 25 Januari 2020

Share
x

Check Also

Teleskop Robotik dari Jerman untuk Penelitian di Lampung

Penelitian astronomi di Lampung diharapkan tumbuh seiring adanya kerja sama Institut Teknologi Sumatera dengan produsen ...