Home / Berita / Warisan Hidup Daoed Joesoef

Warisan Hidup Daoed Joesoef

”Terpujilah wahai engkau Ibu, Bapak, Guru/
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku/
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku/
Sebagai prasasti terima kasihku untuk pengabdianmu/
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan/
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan/
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa/…”

Dengan penuh kekhidmatan, Putri Amantha Negara (17) dan Nasya Ammaara Putri Zuchradi (17) menyanyikan lagu berjudul ”Hymne Guru” tersebut di Pendopo Waskitaning Budaya, Jakarta, Sabtu (3/3).

Puluhan orang pun duduk tenang menikmati nyanyian mereka. Tidak, mereka tidak sedang merayakan Hari Guru, tetapi mengenang 40 hari meninggalnya tokoh pendidikan Daoed Joesoef. Dalam acara itu, hadir pula sahabat-sahabat Daoed Joesoef, antara lain Harry Tjan Silalahi, Jusuf Wanandi, Clara Juwono, Philip J Vermonte, dan Pontjo Sutowo.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1978-1983 itu tutup usia 24 Januari lalu. Ia yang lahir di Medan, 8 Agustus 1926, meninggal pada usia 91 tahun. Daoed meninggalkan istri, Sri Soelastri Joesoef; seorang anak, Sri Sulaksmi Damayanti Jusuf; menantu, Bambang Pharmasetiawan; dua cucu, Natasha Pharmasetiawan dan Garin Pharmasetiawan; cucu menantu, Aldy Nugroho; dan satu cicit, Anya Nugroho.

Selain itu, Daoed juga meninggalkan beberapa keluarga kecil. Salah satunya keluarga dari SD Kupu-Kupu, sekolah yang ia dirikan bersama Yanti dan Bambang 13 tahun yang lalu.

”Eyang menekankan kepada kami agar rajin membaca. Eyang pernah bilang, orang yang pintar jika tidak rajin membaca, itu percuma,” ujar Nasya sembari memanggil ingatan masa kecilnya terhadap Daoed. Sejak SD, ia bersekolah di SD Kupu-Kupu yang berada di dalam areal rumah Daoed.

Eyang menekankan kepada kami agar rajin membaca. Eyang pernah bilang, orang yang pintar jika tidak rajin membaca, itu percuma.

KURNIA YUNITA RAHAYU–Sri Sulaksmi Damayanti Jusuf, Philip J Vermonte, Pontjo Sutowo, Arief Rahman, St Sularto, Bambang Pharmasetiawan (dari kiri ke kanan) dalam acara Mengenang 40 Hari Meninggalnya Daoed Joesoef di Jakarta, Sabtu (3/3). Dalam acara itu pula buku kumpulan opini Daoed yang dibukukan berjudul Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya diluncurkan.

Pesan untuk rajin membaca pun mewujud dalam program sekolah. Nasya mengatakan, terdapat program pekan buku tahunan. Selama pekan buku, semua murid diajak membaca bersama dan tukar-menukar buku.

Menurut Nasya, pemilik sekolah yang disapa eyang oleh para murid itu merupakan sosok yang ramah. Ia tidak jarang menyapa anak-anak yang datang ke sekolah. Bahkan, Daoed juga kerap mengajar mereka secara langsung.

”Ketika kami sedang belajar ilmu pengetahuan alam, eyang pernah menghampiri kami lalu mengajak berkeliling dan memberi tahu jenis-jenis pohon yang ada di dalam sekolah kami serta memberi tahu buahnya seperti apa,” tutur Nasya.

Berbagai interaksi yang terbangun antara Daoed dan murid-murid SD Kupu-Kupu tentu saja membangun kedekatan emosional di antara mereka. Hal itu mendorong para murid untuk selalu memberikan hadiah kepada eyang yang mereka sayangi.

”Setiap kali eyang ulang tahun, kami dari organisasi siswa intrasekolah (OSIS) selalu membuat acara, menyanyikan lagu, dan membacakan puisi untuknya,” kata Amantha. Oleh karena itu, dalam rangka memperingati hari ke-40 meninggalnya, hal-hal tersebut tidak lupa mereka persembahkan.

Ketimbang interaksi langsung, kata Amantha, ia lebih banyak mengenal Daoed dari guru Sejarah. Dalam materi Sejarah Indonesia masa Orde Baru, ia mendapatkan penjelasan mengenai berbagai kebijakan pemerintah, termasuk dalam bidang pendidikan.

”Beberapa minggu lalu kami diputarkan video mengenai Orde Baru, dijelaskan mengenai kebijakan kontroversial eyang, yaitu normalisasi kehidupan kampus/badan koordinasi kemahasiswaan (NKK/BKK). Dari situ saya memahami apa yang dipikirkan eyang, mengapa ia membuat kebijakan seperti itu,” kata Amantha. ”Saya juga sadar, betapa eyang sangat mementingkan pendidikan nasional,” tambahnya.

SD Kupu-Kupu
Bambang mengakui, pendirian SD Kupu-Kupu merupakan upaya untuk mengejawantahkan gagasan pendidikan Daoed. Sepanjang petualangan intelektualnya, Daoed menghasilkan berbagai konsep. Namun, belum pernah diterapkan secara langsung.

Kekosongan praktik itu mendapatkan momentum perubahan ketika Yanti merasa kesulitan mendapatkan sekolah yang cocok untuk anak pertamanya. Menurut Yanti, sebagian besar sekolah sejak saat itu hingga kini memiliki kecendrungan mengutamakan nilai agama dan kurang mengakomodasi budaya Indonesia yang beragam. ”Saya sulit mendapatkan sekolah yang mendidik anak menjadi seorang nasionalis,” ujarnya.

Sejak saat itu, ide untuk mendirikan sekolah sendiri muncul. Bambang dan Yanti pun mengajukan konsep pendirian sekolah yang mengadaptasi pemikiran-pemikiran Daoed.

”Mendirikan sekolah itu hal yang gila, membutuhkan banyak uang, dan biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang kaya yang memiliki banyak uang tidak terpakai,” kata Bambang menirukan reaksi Daoed saat mendengar ide untuk membangun sekolah.

Ia menambahkan, alasan itu juga yang menjadi penyebab Daoed tidak kunjung merealisasikan gagasan-gagasan pendidikannya.

Meski demikian, Daoed mendukung ide untuk membangun sekolah tersebut. Mereka memulainya, menantang risiko yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam hidup mereka.

Bambang mengatakan, keluarga kecil Daoed kemudian membongkar tabungan mereka yang jumlahnya tidak sampai Rp 1 miliar. Daoed dan Soelastri menambahkannya dengan menjual karya-karya lukisan mereka berdua.

”Kami juga mengencangkan ikat pinggang waktu itu. Saya harus diet membeli buku, benang rajut, bahkan tidak membeli pakaian karena kami sedang membangun sekolah,” kata Yanti.

Kami mengencangkan ikat pinggang waktu itu. Saya harus diet membeli buku, benang rajut, bahkan tidak membeli pakaian karena kami sedang membangun sekolah.

Memanusiakan anak
SD Kupu-Kupu mulai dibangun pada 2004 dan mulai menerima murid pada 2005. Pada 2011, sekolah didirikan pula SMP dan SMA Garuda Cendekia. Sekolah yang berada di dalam areal rumah Daoed itu pun berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya.

Areal sekolah terdiri dari beberapa gedung kelas, pendopo, dan taman yang luas. Gedung kelas di bangun di tepi areal sekolah, yang berada di tengah, justru taman dan pendopo.

Bambang mengatakan, pendopo yang dinamai Waskitaning Budaya itu merupakan bangunan pertama yang didirikan. Hal itu terkait dengan pengalaman dan imaji Daoed tentang Taman Siswa, sekolah yang didirikan Ki Hajar Dewantara pada awal abad ke-20.

”Pak Daoed mengatakan, semasa tinggal di Yogyakarta di masa penjajahan, ia sering berdialog dengan Ki Hajar Dewantara di pendopo yang disinari terang bulan di malam hari,” ujar Bambang. Oleh karena itu, pendopo tampak sebagai bangunan utama dari seluruh kompleks sekolah dan dikelilingi oleh taman dengan pohon-pohon besar.

Pak Daoed mengatakan, semasa tinggal di Yogyakarta di masa penjajahan, ia sering berdialog dengan Ki Hajar Dewantara di pendopo yang disinari terang bulan di malam hari.

Di Taman Siswa, Ki Hajar memang menerapkan konsep taman dalam membangun sekolah. Di taman, murid-murid dapat bermain dan berkembang sesuai kodratnya. Sementara itu, di sekolah yang berbentuk kompleks gedung tinggi, murid cenderung terpisah dari lingkungannya.

Menurut Daoed, sekolah merupakan tempat sosialisasi awal bagi anak-anak untuk bermasyarakat. Untuk itu, bangunannya harus dibuat semirip mungkin dengan rumah mereka. Dilengkapi dengan taman, binatang peliharaan sehingga mudah ditangkap oleh pikiran anak yang masih sederhana (Memperingati 40 Hari Wafatnya Ki Dr Daoed Joesoef, hlm 115).

Selain dalam ranah fisik, pemikiran Daoed juga diimplementasikan dalam ranah kurikulum. Yanti mengatakan, ide mengenai pluralisme salah satunya mewujud dalam pelajaran agama yang mengakomodasi seluruh agama di Indonesia.

”Ketika pelajaran agama, semua anak dan semua guru agama dikumpulkan. Kami akan menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat berbagai agama. Dengan begitu, diharapkan mereka memahami kondisi Indonesia yang plural sejak dini sehingga mereka bisa menghormati satu sama lain,” kata Yanti.

SD Kupu-Kupu hanya menerima 26 murid setiap tahun. Menurut Daoed, pertumbuhan jiwa raga anak yang sehat membutuhkan kasih sayang dari guru. Guru harus bisa memperlakukan murid sebagai manusia, bukan sekadar deretan nomor induk (Memperingati 40 Hari Wafatnya Ki Dr Daoed Joesoef, hlm 115).

Yanti mengatakan, ia juga mengutamakan penilaian perilaku saat merekrut guru. Persyaratan bagi guru tidak hanya soal penguasaan pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk membangkitkan gairah belajar anak.

Hasilnya, kata Amantha, para guru cenderung bisa memosisikan diri sebagai teman selama belajar. Hal itu membuatnya tidak pernah terbebani meskipun harus mempelajari materi yang sulit. ”Kami bisa bersikap terbuka dengan guru, kami juga lebih banyak diskusi, mereka tidak pernah mendikte,” ucapnya.

Pada awal pendirian SD Kupu-Kupu, Daoed menuliskan, sekolah itu dengan sadar dibangun untuk mengembangkan disiplin berpikir (disciplinary ways of thinking) serta menciptakan lingkungan pendidikan yang mencakup nilai-nilai pencerahan, kemajuan, dan memperhitungkan kemajuan zaman. Namun, seluruhnya tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan (human practices and values) (Memperingati 40 Hari Wafatnya Ki Dr Daoed Joesoef, hlm 115).

Kini, Daoed memang telah pergi. Ia tidak hanya mewariskan pemikiran, tetapi juga gairah membangun pendidikan kepada orang-orang di sekitarnya. Melalui SD Kupu-Kupu pula, Daoed meninggalkan warisan hidup yang akan terus-menerus mengembangkan gagasan-gagasannya. (DD01)

Sumber: Kompas, 4 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: