Mengenang Tiga Tokoh Pendidikan

- Editor

Sabtu, 14 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perjuangan agar terbebas dari penjajah tidak harus dengan cara mengangkat senjata, tetapi dapat pula dilakukan dengan menanamkan kesadaran kebangsaan lewat pendidikan. Perjuangan melalui jalur pendidikan ini dilakukan oleh tiga tokoh pendidik Indonesia, yaitu Willem Iskander, Ki Hadjar Dewantara, dan Engku Muhammad Syafei.

Kisah perjuangan tiga tokoh tersebut menjadi intisari dari buku Inspirasi Kebangsaan dari Ruang Kelas karya wartawan senior Kompas, St Sularto. Buku Inspirasi Kebangsaan dari Ruang Kelas diluncurkan di Hotel Santika Premiere, Slipi, Jakarta Barat, Jumat (13/5).

Engku Syafei adalah pendiri Inlandsche Nijverheid School (INS) Kayutanam pada 1926 di Desa Kayutanam, Sumatera Barat. Adapun Ki Hadjar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, adalah pendiri Perguruan Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Willem Iskander adalah pendiri Kweekschool Tanobato, Sumatera Utara, pada 1862.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ketiga sekolah itu menebarkan bibit semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia dari ruang kelas. Selain pengajaran ilmu pengetahuan, ketiganya mengajarkan nilai luhur berwawaskan kebangsaan,” ujar Sularto.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan yang menghadiri acara peluncuran buku itu mengatakan, Inspirasi Kebangsaan dari Ruang Kelas mengajak pembacanya untuk mengenal, memahami, dan menerapkan berbagai pemikiran pendidikan ketiga tokoh pendidikan.

“Mereka genius, tekun, gigih, dan pemikirannya jauh ke depan, melampaui orang-orang sezamannya,” ujar Anies saat memberikan sambutan.

11021072016-05-13-10.43-.52-780x390Acara itu dihadiri pula oleh Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1978-1983 Daoed Joesoef, peneliti Daniel Dhakidae, pengamat dan pegiat pendidikan Itje Chodidjah, serta siswa SMK 48 Jakarta Affifah Nur Asriani tampil sebagai pembicara dalam diskusi buku. Affifah adalah finalis lomba film pendek Ki Hadjar Dewantara.

“Buku ini memasadepankan masa lalu. Ketiga tokoh ini tidak hanyut oleh zaman, tapi justru pemikiran mereka puluhan tahun yang lalu itu digunakan untuk membentuk masa depan yang mereka gambarkan,” tutur Daoed.

Daniel menilai, Willem Iskander, Ki Hadjar Dewantara, dan Engku Muhammad Syafei sangat berani dan gigih karena tidak mudah menyelenggarakan pendidikan untuk pribumi di zaman penjajahan Belanda. “Mereka adalah guru yang menumbuhkan nasionalisme,” katanya.

Itje berharap buku ini mendorong guru-guru supaya mereka menginspirasi murid-murid. “Mengutip perkataan Willem, jika ada satu guru pintar, 100 siswa akan pintar. Sebaliknya, satu guru tidak pintar, maka 100 siswa juga akan ikut tidak pintar,” ujar Itje.

Affifah bangga Indonesia memiliki pemikir hebat yang idenya masih sesuai dengan kondisi saat ini. (C11)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Mei 2016, di halaman 11 dengan judul “Mengenang Tiga Tokoh Pendidikan”.

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 36 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB