Home / Berita / Gaung Pendidikan Merdeka Menyambut Satu Abad Tamansiswa

Gaung Pendidikan Merdeka Menyambut Satu Abad Tamansiswa

Menyongsong seabad Perguruan Tamansiswa yang didirikan Ki Hadjar Dewantara jadi momentum menggaungkan pemikiran guru bangsa itu bahwa pendidikan memerdekakan siswa dan guru. Pemikiran itu relevan hingga kini.
Merdeka Belajar menjadi jargon pendidikan nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di bawah kepemimpinan Nadiem Anwar Nakarim. Semangat Ki Hadjar Dewantara agar pendidikan memerdekakan bangsa merupakan buah pemikiran tokoh bangsa dalam pendidikan yang melampaui zaman dan hingga kini didambakan.

Konsep Merdeka Belajar yang berkembang jadi jargon lain Kampus Merdeka menjadi harapan untuk membuat pendidikan yang memerdekakan siswa dan guru. Harapannya, konsep ini diterapkan secara nyata pada fondasi pendidikan yang diletakkan bapak pendidikan nasional, yakni pendidikan yang memerdekakan.

Menyambut satu abad atau 100 tahun Tamansiswa yang didirikan Ki Hadjar Dewantara dengan prinsip pendidikan yang dilahirkannya, rangkaian diskusi digelar. Hal itu bertujuan untuk menguatkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan kiprah Tamansiswa memaknai pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara, terutama pendidikan yang memerdekakan.

Diskusi bulanan seabad Tamansiswa #Edisi 4 yang digelar Dewantara Institute & Front Tamansiswa Indonesia, Minggu (29/8/2021) malam, membahas ”Pendidikan Merdeka Menurut Ki Hadjar Dewantara”. Pemantik diskusi dipaparkan Francis Wahono sebagai penulis buku Pendidikan yang Memerdekakan; Sita Acetylena, peneliti pendidikan karakter; dan Jimmy Ph Paat, pakar pendidikan.

Sejak kelahirannya tahun 1922, Tamansiswa mewarnai jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara. Torehan tinta emas sejarah atas kerja-kerja kolektif Tamansiswa dipandu Ki Hadjar Dewantara dan para pendiri lainnya serta pelanjut kepemimpinan di Tamansiswa mengantarkan Tamansiswa memasuki satu abad atau 100 tahun usia organisasi.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, ”mendidik anak itu mendidik rakyat” serta dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri (zelfstandig), tidak tergantung kepada orang lain (onafhankelijk), dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijheid, zelfbeschikking). Kali ini pemerintah pun memakai jargon pendidikan merdeka. Apakah sesuai dengan konsepsi Ki Hadjar Dewantara?

Sekadar semboyan
Jimmy Ph Paat menilai, pangkal kemerdekaan yang dimaksudkan Ki Hadjar Dewantara kenyataannya masih belum mewujud, bukan dalam implementasi semata, melainkan juga dalam wawasan pendidik dan calon pendidik. Di perguruan tinggi yang menyiapkan calon guru, pemikiran Ki Hadjar Dewantara baru dikenal sebagai semboyan, belum pada makna yang sebenarnya.

”Tulisan dalam buku pengantar pendidikan yang dibaca calon guru di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) tidak dibahas mendalam. Kemerdekaan belajar tidak berpangkal dari kemerdekaan yang dimaknai Ki Hadjar Dewantara yang sudah meletakkan fondasi pemikiran pendidikan untuk bangsa ini,” ucapnya.

Jimmy tidak mengelak jika dengan slogan Merdeka Belajar kini membuat keberlimpahan kata merdeka dalam pendidikan meningkat. ”Tapi, kita harus hati-hati untuk mengatakan bahwa makna ini sudah sesuai yang dimaksud Ki Hadjar Dewantara,” ujarnya.

Siti Hanik Zubaidah, guru penggerak dari salah satu program Merdeka Belajar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, mengatakan mengetahui filosofi pendidikan Ki Hadjar ketika ikut sebagai guru penggerak. Ada ulasan soal pemikiran Ki Hadjar bagi para guru.

”Saya bersyukur menjadi tahu tentang Ki Hadjar dan mau lebih mendalami bagaimana menjalankan pendidikan yang membawa anak pada kodratnya,” kata Siti.

Sementara Sita Acetylena memaparkan, pendidikan merdeka dimaknai menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin. Bicara mengenai pendidikan bukan tentang anak bersekolah dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dan mendapat ijazah, melainkan pendidikan yang mampu melahirkan karakter. Sebab, manusia bukan barang dan sekolah bukan pabrik.

Sita menyoroti, pemikiran Ki Hadjar Dewantara juga lahir dari filosofi spiritual yang memampukan Ki Hadjar berkorban untuk bangsa. ”Seperti Ki Hadjar mengorbankan kebangsawanan untuk rakyat dan bangsa Indonesia,” katanya.

Merdeka yang didambakan sebagai manusia, juga sebagai bangsa. Untuk bisa mengelola Indonesia jadi negara yang merdeka lahir dan batin. Spiritualitas jadi pegangan untuk mengenal diri dan bangsa. Mencintai rakyat dan bangsa.

Francis Wahono mengatakan, pemikiran Ki Hadjar menjadi pendapat revolusioner dalam pendidikan, dari abad yang lampau bahkan untuk zaman sekarang. ”Sayangnya, kita sering tidak peduli pada sejarah perjuangan dan pergulatan pemikiran filsafat pendidikan zaman itu yang tetap relevan sampai saat ini,” tuturnya.

Menurut Wahono, kebijakan Merdeka Belajar setidaknya membuka kotak pandora tentang pendidikan yang memerdekakan. Tamansiswa harus mengambil momen ini untuk memperlihatkan pendidikan merdeka yang digagas Ki Hadjar Dewantara.

Menjaga pemikiran
Menyambuh seabad Tamansiswa jadi momentum bagi alumni Taman Siswa dan pencinta pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk tetap hidup di masyarakat pendidikan, khususnya Kemendikbudristek. Ki Hadjar Dewantara pada kurun waktu 1922-1930 mendirikan 145 sekolah Tamansiswa, banyak yang menghibahkan tanah dan mau menjadi pamong atau guru.

KOMPAS/ FERGANATA INDRA RIATMOKO—-Patung Ki Hadjar Dewantara di depan pendapa kompleks sekolah Tamansiswa, di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, Senin (11/4/2016). Sekolah itu didirikan pada 3 Juli `922 di rumah tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara dan melanjutkan perannya dalam mengedukasi generasi penerus bangsa.

Adanya jargon Merdeka Belajar atau Kampus Merdeka seharusnya menjadi momentum bagi Tamansiswa untuk menunjukkan pendidikan yang didambakan Ki Hadjar Dewantara bagi negeri ini. ”Sebagai sekolah pergerakan, sekolah Tamansiswa jangan sekadar mentransfer ilmu karena jauh dari nilai Ki Hadjar. Ini dimulai dari sistem among yang sejati,” ucap Sita.

Jimmy menekankan, harus ada gerakan 100 tahun Tamansiswa yang bermakna untuk membuat nama besar Ki Hadjar Dewantara lewat Tamansiswa tetap menjadi rujukan. Tidak bisa sekadar menunggu Merdeka Belajar untuk mengangkat kembali nilai-nilai pendidikan Ki Hadjar.

”Pesan untuk Tamansiswa ialah bagaimana pangkal kemerdekaan diaktualkan pamong dan terbatinkan oleh para siswa dan alumni Tamansiswa. Idealnya, guru Indonesia ada karakteristik Ki Hadjar Dewantara. Hal ini harus dipelajari dan diaktualkan di kelas, khususnya tentang pendidikan yang merdeka,” ungkapnya.

Upaya untuk mewariskan pemikiran Ki Hadjar dilakukan Tato Darmanto yang membuat film-film pendek menyangkut pemikiran pendidikan, budaya, dan jiwa merdeka. Ada enam film pendek yang akan dipersembahkan untuk 100 tahun Tamansiswa.

”Tamansiswa sudah seperti sekolah biasa. Tidak ada kekhususan. Kalau bicara jujur untuk pemikiran visioner Ki Hadjar Dewantara yang diposisikan untuk masyarakat pendidikan, khususnya untuk guru-guru, tidak terlihat. Mereka tidak kenal Ki Hadjar, apalagi pemikirannya. Tugas Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa adalah menjaga pemikiran Ki Hadjar tetap hidup di masyarakat pendidikan, khususnya Kemendikbudristek,” tutur Tato.

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 30 Agustus 2021

Share
%d blogger menyukai ini: