Penghargaan Kompas; Bangsa Butuh Semangat Totalitas

- Editor

Kamis, 28 Juni 2012

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bangsa Indonesia butuh individu-individu yang berkarya secara total di bidangnya. Semangat seperti itu perlu tetap ada kalau Indonesia ingin mengatasi ketertinggalan demi kesejahteraan rakyat.

Pesan itu disampaikan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama saat penyerahan penghargaan cendekiawan berdedikasi di Jakarta, Rabu (27/6). Sejak tahun 2008, Kompas memberi penghargaan kepada individu yang dinilai berdedikasi tinggi di bidangnya dan menginspirasi. Tahun ini bersamaan dengan ulang tahun Kompas ke-47.

”Bangsa ini butuh orang-orang yang melihat pekerjaan sebagai panggilan. Dengan itu, ia akan memberi segalanya,” kata Jakob, sebelum menyematkan pin kepada lima penerima penghargaan, kemarin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penghargaan diberikan pada mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef (85); penulis buku resep masakan tiga zaman, Julie Sutardjana (90); peneliti LIPI, Mochtar Pabottingi (66); peneliti sejarah kolonial pada Arsip Nasional RI, Mona Lohanda (64); dan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono (57).

Mereka dinilai berdedikasi tinggi, total, dan setia di bidangnya. Itu semua yang membuat mereka dikenal luas publik dengan spesialisasinya.

Pada sambutannya, Daoed Joesoef mengenang peran ibunya yang menebarkan benih mencintai dan membagikan pengetahuan sejak kecil. ”Emak (ibu) membuat saya terpanggil membagi pengetahuan,” kata mantan menteri periode 1978-1983 itu. Hingga kini, ia masih aktif menulis menggunakan mesin ketik.

Sementara itu, Mochtar, yang sejak awal setia menyoroti etika para wakil rakyat, aktif menulis di Kompas sejak tahun 1973. Ia masih berharap terus muncul orang-orang dan institusi yang setia menjaga kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan.

Bekerja dan bekerja

Totalitas dan kesetiaan para penerima penghargaan terlihat jelas dalam jejak mereka. Mona Lohanda, yang 40 tahun menjadi PNS, adalah peneliti utama. ”Saya terbengong-bengong ketika dipilih Kompas. Saya bekerja tanpa berpikir dapat hadiah,” kata peneliti sejarah masa kolonial itu.

Hal sama diungkapkan Ny Julie, yang menulis resep masakan sejak remaja. Ia mulai mengisi rubrik resep masakan pada mingguan Star Weekly tahun 1951.

Surono sejak puluhan tahun silam mengakrabi gunung api. Ia yang menyebut dirinya cendekiawan gagal selalu memantau langsung setiap fase peningkatan status gunung api di Indonesia.

”Semangat memberi segalanya harus tetap ada, termasuk untuk mengelola alam yang begitu murah, anugerah Tuhan,” kata Jakob Oetama. (SON/LAM/GSA)

Sumber: Kompas, 28 Juni 2012

Pemimpin Umum “Kompas” Jakob Oetama (kanan) memberikan penghargaan kepada lima cendekiawan berdedikasi menyambut HUT Ke-47 Kompas di Hotel Santika Premiere, Jakarta, Rabu (27/6). Para cendekiawan itu adalah (dari kanan) mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef, ahli kuliner Julie Sutardjana, pengamat politik LIPI Mochtar Pabottingi, peneliti Arsip Nasional Mona Lohanda, serta Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono.

Informasi terkait

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:48 WIB

Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB

Artikel

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:32 WIB