Home / Berita / Penghargaan Kompas; Bangsa Butuh Semangat Totalitas

Penghargaan Kompas; Bangsa Butuh Semangat Totalitas

Bangsa Indonesia butuh individu-individu yang berkarya secara total di bidangnya. Semangat seperti itu perlu tetap ada kalau Indonesia ingin mengatasi ketertinggalan demi kesejahteraan rakyat.

Pesan itu disampaikan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama saat penyerahan penghargaan cendekiawan berdedikasi di Jakarta, Rabu (27/6). Sejak tahun 2008, Kompas memberi penghargaan kepada individu yang dinilai berdedikasi tinggi di bidangnya dan menginspirasi. Tahun ini bersamaan dengan ulang tahun Kompas ke-47.

”Bangsa ini butuh orang-orang yang melihat pekerjaan sebagai panggilan. Dengan itu, ia akan memberi segalanya,” kata Jakob, sebelum menyematkan pin kepada lima penerima penghargaan, kemarin.

Penghargaan diberikan pada mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef (85); penulis buku resep masakan tiga zaman, Julie Sutardjana (90); peneliti LIPI, Mochtar Pabottingi (66); peneliti sejarah kolonial pada Arsip Nasional RI, Mona Lohanda (64); dan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono (57).

Mereka dinilai berdedikasi tinggi, total, dan setia di bidangnya. Itu semua yang membuat mereka dikenal luas publik dengan spesialisasinya.

Pada sambutannya, Daoed Joesoef mengenang peran ibunya yang menebarkan benih mencintai dan membagikan pengetahuan sejak kecil. ”Emak (ibu) membuat saya terpanggil membagi pengetahuan,” kata mantan menteri periode 1978-1983 itu. Hingga kini, ia masih aktif menulis menggunakan mesin ketik.

Sementara itu, Mochtar, yang sejak awal setia menyoroti etika para wakil rakyat, aktif menulis di Kompas sejak tahun 1973. Ia masih berharap terus muncul orang-orang dan institusi yang setia menjaga kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan.

Bekerja dan bekerja

Totalitas dan kesetiaan para penerima penghargaan terlihat jelas dalam jejak mereka. Mona Lohanda, yang 40 tahun menjadi PNS, adalah peneliti utama. ”Saya terbengong-bengong ketika dipilih Kompas. Saya bekerja tanpa berpikir dapat hadiah,” kata peneliti sejarah masa kolonial itu.

Hal sama diungkapkan Ny Julie, yang menulis resep masakan sejak remaja. Ia mulai mengisi rubrik resep masakan pada mingguan Star Weekly tahun 1951.

Surono sejak puluhan tahun silam mengakrabi gunung api. Ia yang menyebut dirinya cendekiawan gagal selalu memantau langsung setiap fase peningkatan status gunung api di Indonesia.

”Semangat memberi segalanya harus tetap ada, termasuk untuk mengelola alam yang begitu murah, anugerah Tuhan,” kata Jakob Oetama. (SON/LAM/GSA)

Sumber: Kompas, 28 Juni 2012

Pemimpin Umum “Kompas” Jakob Oetama (kanan) memberikan penghargaan kepada lima cendekiawan berdedikasi menyambut HUT Ke-47 Kompas di Hotel Santika Premiere, Jakarta, Rabu (27/6). Para cendekiawan itu adalah (dari kanan) mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef, ahli kuliner Julie Sutardjana, pengamat politik LIPI Mochtar Pabottingi, peneliti Arsip Nasional Mona Lohanda, serta Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: