Home / Pidato Ilmiah / Ut Taxonomian Defendamus

Ut Taxonomian Defendamus

Mien A. Rifai
Pidato pengukuhan, diucapkan pada upacara penerimaan jabatan Guru besar Luar Biasa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Depok, Rabu 22 Maret 1995

Yang terhormat
Saudara Rektor Universitas Indonesia,
Para Anggota Senat Guru Besar Universitas Indonesia,
Para Pembantu Rektor, Dekan, Ketua Lembaga dan Pejabat Struktural di lingkungan Universitas Indonesia,
Para Dosen, Asisten, Mahasiswa dan Karyawan Universitas-Indonesia, khususnya pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Para Undangan, dan Hadirin sekalian,Yang saya muliakan!

Assalamu ‘alaikum wa rakhmatullahi wa barakatuh,
Puja dan puji syukur dari lubuk hati yang paling dalam dipanjatkan oleh hambaNya yang hina dina ini ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan rakhmat, berkah, kesehatan, keselamatan, kenikmatan, kebahagiaan, kedudukan, kehormatan dan kemuliaan yang sudah dikaruniakanNya kepada saya. Akan berdosa besarlah saya jika mengingkari bahwa semuanya itu adalah berkat kemurahan Allah ‘Azza wa Jalla semata-mata. Bukanlah untuk mempersekutukan Tuhan yang Maha Esa, dan sama sekali tidak dimaksudkan guna sekadar berbasa-basi, jika secara lantang dinyatakan pula bahwa keberdirian saya di hadapan hadirin pagi ini adalah juga karena keberjayaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. Tanpa terwujudnya pengejawantahan asas yang melandasi negara kita tercinta ini, akan mustahillah bagi saya-yang hanya anak seorang mantri pegaraman sehingga dengan sistem PGPS sekarang cuma berpangkat I/C-bisa mengenyam dan menuntaskan pendidikan sampai berhasil meraih jenjang akademis tertinggi, serta diberi kesempatan memangku jabatan penuh kehormatan yang penerimaannya dikukuhkan pada hari ini. Seandainya tidak dibesarkan di alam Indonesia merdeka, tidaklah mungkin akan terbuka peluang bagi saya buat menekuni bidang biologi dengan spesialisasi taksonomi yang menurut anggapan beberapa orang membaurkan batas ilmu dan seni. Di bawah kungkungan belenggu kolonial saya tidak akan mendapat kesempatan mendalami seluk-beluk penamaan (naming), pencirian (characterizing), dan penggolongan (dassifying) sekelompok makhluk tak berarti seperti jamur yang ketersohorannya hanyalah kemuskilan bentuknya guna pemuas dahaga kemelitan (curiosity), serta kemolekan penampilannya untuk dipandang mata. Jika Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 tidak berkesaktian, pastilah bidang ilmu dan objek penelitian memikat tadi akan tetap menjadi monopoli ilmuwan dari kalangan penjajah bumi nusantara kita nan indah permai sehingga tertutup buat saya dan bagi kaum pribumi lainnya. Bukankah beberapa ilmuwan barat’ meragukan kemampuan orang Indonesia untuk berpikiran abstrak sehingga bisa menghayati dan mengmukan makna dalarn kesimpangsiuran kaitan berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan budaya seperti yang diperlukan oleh taksonomi?

Pada pihak lain, sekarang adalah era ketika kepesatan bioteknologi menyita tajuk utarna surat-surat kabar, karena pesona terobosan rekayasa genetikanya sangat’menakjubkan sehingga seakan-akan penuh mukiizat seperti dongeng seribu satu malam saja layaknya. Oleh karena itu memang pantas dipertanyakan keperluan bagi perguruan tinggi kenamaan seperti Universitas Indonesia untuk mengangkat seorang guru besar berspesialisasi dalarn cabang ilmu yang dalarn beberapa tahun terakhir dijauhi orang karena dianggap ketinggalan zaman. Buat apa membebani otak mahasiswa Indonesia dengan lika-liku penamaan, pencirian dan penggolongan makhluk-yang penguasaannya dalarn waktu dekat tidak akan mampu menghasilkan produk teknologi untuk membuat hidup lebih layak dan lebih nyaman dijalani-sedangkan pengembangan pemanfaatannya ditentukan oleh terobosan ilmu dan teknologi pada tingkat molekul? Bukankah pengekstrakan, pengisolasian, pemurnian dan pengidentifikasian substansi bioaktif yang diperlukan industri dapat dilakukan tanpa mengetahui nama ilmiah makhluk tertulis dalarn ballasa Latin yang dapat mematahkan lidah bila diucapkan? Mengapa memusingkan penggolongan ilmiah ruahan khazanah keanekaragaman hayati yang serba pelik, jika dari zaman dulu nenek moyang kita telah berhasil mendayagunakan sumber daya alam tersebut dengan tidak kurang suatu apa? Dengan tersedianya teknologi untuk langsung mengotak-ngatik DNA, yang nieniungkinkan penjalinan gen (gene splicing) ikan dari kutub utara ke dalam kromosom tomat tropik sehingga kini orang dapat bercocok tanpm tomat di daerah bersalju, apa masih perlu mempelajari kekerabatan jenis-jenis makhluk bernilai ekonomi untuk keperluan pemuliannya secara konvensional?

Pertanyaan-pertanyaan mengusik tersebut telah mengilhami dan menuntun saya untuk menggunakan kesempatan baik yang terbuka ini bunt mengajukan suatu pleidooi bagi taksonomi. Namun bukan hanya pembelaan saja yang diperlukan, sebab sekalipun pelbagai macam pertemuan internasional telah menganggap disiplin tersebut amat penting, perlu sekali, sangat vital, harus disokong, wajib didukung, supaya dikembangkan, serta bertumpuk rekomendasi dan resolusi telah diajukan untuk mewujudkannya, tidak terlihat tindak lanjut yang berarti sudah dilaksanakan orang. Oleh karena itu pantas pula dimohonkan pengertian semua pihak akan keperluan mempertaiiankan kelengkapan sistem ilmu-ilmu biologi sebagai suatu keseutuhan (entity). Dengan demikian diharapkan tidak akan terjadi penganaktirian, atau hanya mau melihat dengan sebelah mata, ataupun bahkan meninggalkan sama sekali cabang ilmu yang kegunaannya sebenamya tidak maya atau hanya terasa, tetapi masih terbukti dan tersaksikan secara nyata. Semua orang tentu sepakat bahwa memang sudah menjadi pembawaan manusia untuk selalu menamakan, mencirikan dan menggolongkan setiap objek di sekitarnya, yang merupakan kegiatan yang dikerjakannya begitu seseorang terjaga dan membuka mata sampai saat is akan pergi tidur, suatu naluri yang timbul sejak is lahir dan pasti akan dibawanya mati. Pendalaman dengan pendekatan ilmiah serta pemberian landasan falsafahlah yang telah menyebabkan pengalaman dan pengetahuan manusia tentang penamaan, pencirian dan penggolongan makhluk sekitar menjadi suatu disiplin ilmu yang menjadi ranah taksonomi.

Sebenamya buah tangan Aristoteles, Theophrastus, Plinius, dan setumpuk lagi tulisan-tulisan pertama tentang alam hayati yang dihasilkan para pawang ilmu di kala fajar biologi baru menyingsing selalu berkutat seputar taksonomi, terutama dalam kaitannya dengan pengungkapan kegunaan sumber daya alam hayati bagi umat manusia. Sebagai pioner biologi, disiplin ini memang mudah penguasaannya dan dapat pula ditekuni pencinta alam amatir dengan sempuma sampai mereka mampu menjadi tokoh berautoritas yang disegani. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika dalam abad XVIII sampai perempat pertama abad XX banyak dokter istana (Linnaeus), wakil kantor dagang (Rumphius), gubernur jenderal (van Rheede), pendeta (Berkeley), perwira kolonial (Kolonel C. Munro), guru sekolah (Backer), administratur perkebunan (Junghuhn), atau para bangsawan (Lamarck) dan orang-orang berada (Darwin), biasa mengisi waktu terluangnya dengan mendalami peri kehidupan alam bertemakan taksonomi. Dengan sendirinya pada waktu yang hampir bersamaan bermunculan raksasa-raksasa ahli yang profesional guna menduduki jabatan berpengaruh di lembaga-lembaga kerajaan (Bentham, Blume, Huxley), perguruan tinggi (Pulle, Dapham, Bessey), atau pusat kajian biologi lainnya (Merril, de Beer, Boedijn). Mereka semua, baik yang amatir maupun para profesional, adalah tokoh-tokoh sakaguru taksonomi yang namanya terus melekat di bibir para mahasiswa biologi karena keharusan mempelajari buah karyanya. Bahwa dorongan ekonomi sering merupakan faktor penentu di belakang kegiatan mereka selama masa kejayaan abad kolonialisme tadi memang tidak dapat diremehkan, terutama karena keinginan untuk mengambil manfaat kekayaan alam hayati pelbagai tapak yang berjauhan dari pusat perkembangan peradaban saat itu.

Dari semula taksonomi disepakati merupakan induk atau ratu bagi ilmu-ilmu biologi yang lain karena kemampuannya menghimpun semua data dan informasi dalam suatu sintesis yang mengamalgasi, mengolasi, mengo ordinasi, mengatur dan menyusun seluruhnya dalam suatu sistem penyimpulan, perampatan (generalization) dan penyimpanan pelbagai keterangan yang sangat efektif, serta memiliki nilai prediksi yang tinggi. Penyebutan Hibiscus rosasinensis secara indah tidak hanya memberikan nama yang dikenal secara universal untuk kembang sepatu, tetapi sekaligus menggambarkan bentuk perawakan, menunjukkan kekerabatan, memberitahukan asal-usul, ciri dan sifatnya, menentukan posisi dalam sistem alam dan sejumlah keterangan lain lagi. Berdasarkan kenyataan ini jasa dan kedudukan disiplin taksonomi sebagai pelayan bagi semua cabang biologi lain juga selalu ditekankan orang. Keefektifan sistemnya sangat mempesona, sebab dengan hanya berbekalkan nama sederhana tadi sebagai kunci akan terbuka semua pintu gudang-gudang khazanah pengalaman, pengetahuan dan ilmu yang dimiliki manusia tentang jenis ini, baik yang ditulis dalam bahasa Latin, Inggris, Cina, Swahili ataupun yang disuguhkan dalam bahasa Madura. Jadi selain menyediakan sarana untuk mengenal, mencirikan dan menentukan golongan kekerabatannya, jasa pelayanan taksonomi sebagai penunjuk jalan sangatlah diperlukan orang sehingga disiplin tua usia ini di mata ilmu-ilmu yang lain di masa lampau menjadi terpandang harkatnya.

Sesungguhnya amatlah mengherankan bahwa posisi terhormat tersebut dicapai berdasarkan hasil pendidikan taksonomi yang sangat kaku, karena kegiatan instruksionalnya hanya dipusatkan pada pengamatan untuk mengana lisis contoh kelompok makhluk agar bisa mengenal sifat cirinya yang akan memungkinkan penyusunan batasan satuan dan penentuan peringkat taksonomi ataupun kekerabatannya. Sebagai akibatnya landasan teoretis sering ditinggalkan sehingga mata kuliah dapat membosankan dan mahasiswa tidak mengetahui untuk apa semua itu dipelajari. Pembinaan kader dilakukan dengan sistem pemagangan pada seorang pakar yang sudah mapan dengan cara melihat contoh kerja nyata dan langsung menirunya. Untuk suatu rentang waktu yang sangat lama orang lalu mengira dan percaya bahwa taksonomi itu merupakan ilmu yang tidak memiliki asas, hukum, teori dan metodologi. Oleh karena itu jarang disadari bahwa penggolongan makhluk atau klasifikasi biologi tidaklah sama dengan penggolongan benda mati. Walaupun keharmonian unsur dalam sistem klasifikasi memang perlu diperhatikan, dan teori proporsi yang dicetuskan arsitek Romawi kuno Vitruvius dalam batas-batas tertentu juga berlaku, kekerabatan alamiah lekat diri (inherent) antar semua makhluk yang terjadi berkat proses kladogenesis dan divergensi adaptasi, dari semula sudah melandasi upaya penggolongan. Pendekatan ini tanpa disadari sudah diterapkan jauh sebelum tercetusnya teori Darwin yang kemudian menyebabkan terpakainya landasan evolusi organik untuk menafsirkan makna afinitas. Dengan demikian dapatlah dimengerti mengapa garis besar sistem klasifikasi yang disusun orang dari dulu sampai sekarang-yang mewariskan kepada kita kelompok yang sangat alamiah seperti monokotil, Compositae, vertebrata, moluska, Cyanophyceae jarang yang menyimpang secara radikal. Memang merupakan suatu kebetulan yang menguntungkan bahwa ciri atau bukti taksonomi utama yang mendasari sistem-sistem kalsifikasi sering tahan ujian zaman untuk terus terpakai sehingga landasan pemikiran dan pendekatannya boleh dikatakan mengandung kebenaran.

Tetapi di mata ilmuwan lain gerak laju taksonomi seakan-akan mengalami kestatisan, karena data dan informasi terus berakumulasi dengan sangat pesat namun tidak dapat cepat disintesiskan dalam sistem klasifikasi yang ada. Ketidaksamaan kemutakhiran data untuk semua jenis makhluk telah menyulitkan interpolasi keseluruhannya dalam sistem yang memerlukan perlakuan serba sama bagi semua unsur yang ditanganinya. Pada pihak lain terjadi peledakan taksiran jumlah jenis makhluk, bersamaan dengan peningkatan jumlah spesimen yang membanjiri herbarium, museum dan tempattempat pemusatan koleksi. Kedua faktor ini tidak dapat cepat diantisipasi dampaknya pada kemajuan (atau kemacetan) laju penyelesaian pengungakapan keanekaragaman jenis makhluk yang merupakan ajang tempat taksonomi berkiprah. Selama 250 tahun terakhir di seluruh dunia tidak sampai 1.000.000 jenis makhluk yang sudah dipertelakan dan diberi nama ilmiah serta diklasifikasi. Kim timbul dugaan bahwa jumlah total yang dihadapi mungkin sampai 30 juta jenis, jadi bukannya hanya 2 juta seperti diperkirakan sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah sekitar 35 tahun yang lalu.

Dengan sendirinya disiplin-disiplin biologi lain serta pihak pemakai informasi (seperti para perencana dan pengambil kebijakan) menjadi tidak sabar, sebab sulit diperhitungkan berapa abad akan diperlukan sampai semua keanekaragaman hayati yang ada itu terungkap secara ilmiah untuk dijadikan landasan pegangan pemanfaatannya. Karena pendekatan dan metodologi untuk menguraikan keanekaragaman tidak berkembang sejalan dengan kepesatan kemajuan ilmu dan teknologi secara menyeluruh-yang antara lain telah bisa membuat citra penginderaan jauh dari luar angkasa, mampu memotret susunan perniukaan renik dengan mikroskop elektron payar (SEM), atau dapat mengukur jarak bangunan dengan kecermatan persepuluhan milimeter oleh bantuan teknologi laser-sukarlah membuang kesan dan anggapan kekunoan taksonomi yang semakin terpuruk ke belakang. Tantangan kemelitan untuk merangsang kader baru seakan-akan tidak ada, karena lacunae yang menganga cukup diisi dengan kegiatan sangat bersifat deskriptif, yang tidak menggalakkan kegairahan minat ilmuwan muda yang haus akan kegegapgempitaan petualangan arena ilmiah baru yang bergemerlapan.

Keadaannya di Indonesia lebih menyedihkan lagi, terutama jika diingat besar keseluruhan keanekaragaman hayati yang dihadapi, dengan segala pengejawantahan kisaran macam ekosistem, tingginya jumlah jenis dan keluasan variasi genetikanya yang ada. Karena diduga sekitar 12-15% makhluk yang hidup di muka bumi sekarang merupakan penghuni Indonesia, jelas terpampang bergunung kesulitan yang dihadapi untuk menyelesaikan inventarisasi kekayaan hayati tanah air yang lengkap dengan penamaan, pencirian dan penggolongannya. Jika seandainya akan dapat dikerahkan semua tenaga peneliti taksonomi dunia-suatu keadaan hipotetis yang tidak mungkin terjadi-untuk menangani sensus makhluk yang terdapat di Indonesia saja, maka akan diperlukan beberapa abad untuk merampungkannya menganngt kinerja para ahli taksonomi selama ini. Kalau diimpikan akan menyandarkan pelaksanaannya di atas pundak orang setempat, kemustahilan menjadi sangat terkentara sebab jumlah ilmuwan Indonesia yang berkualifikasi untuk melakukannya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Selain dipengaruhi keadaan yang bersifat global, ketimpangan ini mungkin pula merupakan akibat langsung kekurangcepatan kita mengambil langkah koreksi dalam menangani pendidikan tenaga penelitinya. Karena berbagai keadaan lingkungan yang kurang menguntungkan, pengelolaan perguruan tinggi Indonesia terlalu lama dibiarkan ditangani oleh tenaga sarjana yang tidak memperhatikan pemajuan ilmu dan teknologi melalui kegiatan penelitian yang mapan. Sebagai akibatnya perguruan tinggi lamban mengadakan program pendidikan magister dan doktor yang menyebabkan upaya penguasaan taksonomi dan ilmu-ilmu lain menjadi jauh panggang dari api.

Hambatan lain juga dialami pendidikan biologi di Indonesia, karena kecuali dulu di Institut Teknologi Bandung ketika masih merupakan bagian Universitas Indonesia, mahasiswa kita mungkin tidak pernah belajar biologi dalam arti yang penuh. Sebagaimana diketahui sarjana-sarjana biologi pertama Indonesia kebanyakan dididik oleh insinyur pertanian, dokter hewan, sarjana kehutanan, atau ahli teknik kimia, sehingga segi praktis yang bersifat antroposentris dan seringkali sangat terfragmen selalu mendasari sudut pandang mereka. Bahan pelajaran yang diterimanya pun sering berdasarkan materi yang berasal dari daerah beriklim sedang sebab buku-buku teks yang dipakai juga ditulis oleh biologiwan belahan bumi utara. Dengan demikian mereka jarang dapat cepat menghayati makna kehidupan tumbuhan yang berfotosintesis di alam tropik, memahami arti penyerbukan oleh kelelawar dan latar belakang genetika yang mengaturnya. Mereka mungkin tidak sadar akan peranan pemencaran oleh genangan air hujan di lantai hutan dan implikasi persebaran geografinya, serta kaitannya dalam penyintesisan kesemuanya untuk menentukan tingkat taksonomi maupun laju evolusinya. Tidak banyak di antara mahasiswa kita yang melihat keistimewaan kesempatan mempelajari kegiatan makhluk sebagai jasad yang hidup di bawah pengaruh alam katulistiwa, menyerap zat makanan, bernapas, berkembangbiak dengan strategi bersaing dan berebut kawan hidup untuk berperan nyata dalam ekosistem yang sangat unik namun beraneka ragam. Oleh karena itu akan sulitlah bagi mereka untuk mengembangkan kekhasan biologi Indonesia, dengan kaca mata lokal, mendekat pada realitas kehidupan masyarakat etnis setempat, dan berlandaskan jiwa budaya tanah tumpah darah, kalau itu memang ada. Kita harus berani mengakui kenyataan bahwa kebanyakan sarjana biologi Indonesia mungkin telah merupakan korban lintasan sejarah pendidikan yang tidak kondusif, sehingga kiprah mereka belum berdampak nyata secara universal. Kegagalan mereka dalam kaitan ini disebabkan oleh ketidakmampuannya menunjukkan kelebihan komparatif daya saingnya dengan menyuguhkan kekhasan hakikat alam hayati Indonesia. Ini terlihat dari kestereotipean pendekatan mereka yang sulit menawarkan alternatif yang sangat diperlukan pembangunan nasional, sukar menemukan dan membatasi masalah lokal yang layak diteliti karena berdampak global, tidak tahu bagaimana mengajukan pertanyaan beruntun yang bermakna, dan sukar keluar dari kungkungan kotak penyudutan yang ditawarkan metodologi asing yang secara berlebihan sering diagung-agungkannya.

Khusus dalam bidang taksonomi dijumpai masalah lebih parah lagi karena telah terjadi kesalahan yang fatal dalam pemahaman konsep dan ruang lingkup disiplin ilmunya. Kesalahan ini terjadi sejak di bangku sekolah, karena digunakannya istilah sistematika dalam buku pelajaran yang diwarisi dari zaman penjajahan untuk bahan yang hanya membahas pengetahuan pelbagai ragam bentuk peri kehidupan makhluk. Pemberian pengetahuan dan bukannya ilmu tidaklah merupakan masalah untuk pelajaran di sekolah, tetapi sebagai bahan pendidikan di perguruan tinggi persoalannya menjadi lain. Mahasiswa Indonesia mungkin merasa telah belajar taksonomi padahal kuliah yang mereka terima sebenarnya hanyalah pengungkapan grafis keanekaragaman hayati, yang tidak membuka diri untuk didalami melalui penelitian dan pengembangan. Mata kuliah yang mereka geluti belum menyentuh hukum pengenalan dan penamaan, asas penelitian, teori penggolongan dengan segala landasan falsafah dan pendekatan metodologi yang berciri ilmiah yang dituntut oleh taksonomi sebagai suatu disiplin ilmu. Bagaimana ilmu bisa berkembang bila kader dan canon pembinanya hanya disuguhi pengetahuan faktual belaka? Keadaan serupa terlihat pula pada mata kuliah morfologi dan anatomi, yang juga telah memberikan ilusi yang salah pada mahasiswa sebab mereka sama sekali tidak mendalami ilmu susunan tubuh yang menyangkut proses, perkembangan, asal usul, topografi, homologi dan analogi. Alih-alih mereka diminta mengapalkan seperangkat peristihan zoo- dan fitografi yang tidak akan bisa melahirkan penelitian atau dapat dikembangkan menjadi teknologi yang terterapkan sebab memang bukan ilmu. Karena lemahnya penguasaan morfologi dan anatomi, para sarjana botani Indonesia hampir selalu berbicara tentang buah melinjo, padahal yang mereka maksudkan sebenarnya adalah biji melinjo.

Selama ini keformalan menjadi jiwa mata kuliah taksonomi yang didukung oleh morfologi dan anatomi yang salah penamaan sehingga tidak instrumental untuk memunculkan topik penelitian yang merupakan persyarat an pemajuan ilmu. Taksonomi betul-betul bersifat esoterik dan malahan berkembang menjadi mata pelajaran yang ditakuti mahasiswa Indonesia karena kesalahan persepsi seolah-olah hanya harus mengapalkan nama Latin yang sering dikeramatkan2, mengetahui di luar kepala posisi setiap makhluk dalam sistem klasifikasi, dan tahu ciri-ciri semua peringkat penggolongannya. Keadaannya semakin tidak tertolong oleh kenyataan bahwa sistem yang selama ini disuburkan kepada pelajar sekolah dan mahasiswa adalah kategorisasi dan bukannya klasifikasi (Rustaman 1990), yang semuanya harus ditelan bulat-bulat oleh para peserta didik. Sebagai akibat pemaksaan konsep ini, produk pendidikan. kita sangat sulit mengembangkan alternatif, karena semuanya harus sesuai dengan pakem (canon) yang diberikan oleh pengajarnya yang kebenarannya seakan-akan semutlak ayat kitab suci dan tak dapat ditawar lagi. Dapatkah sarjana (dan warga masyarakat lain) dipersalahkan kalau budaya restu sulit dikikis, sebab dari pelajaran taksonomi saja seakanakan tertanam konsep terjadinya kesalahan dan dosa besar kalau menyimpang dari penggarisan yang diberikan?

Didikan yang menjurus ke arah kekurangpercayaan pada diri sendiri ini seakan-akan terus dipupuk dan disuburkan di beberapa perguruan tinggi tertentu di Indonesia, seperti tersaksikan dari bertubinya pertanyaan tidak berarti yang datang ke Herbarium Bogoriense. Contoh talas, sirih, ubi jalar, jambu biji, gelagah, pisang emas, terung, dan tanaman sehari-hari yang terdapat di sekitar kita berdatangan untuk dideterminasi dan diberikan nama ilmiahnya secara tertulis. Bahan tadi kebanyakan milik mahasiswa peneliti yang sedang menyelesaikan tugas akhir skripsi sarjana, tesis magister, atau disertasi doktornya, sehingga mereka pasti mengetahui identitas objek penelitiannya tersebut. Ternyata banyak perguruan tinggi mengharuskan pendeterminasian dan pemberian nama ilmiah itu melakukan secara formal dan resmi oleh lembaga yang berwewenang. Pemapanan budaya restu dengan perlakuan dan pendekatan begin dalam jangka panjang pasti akan menyebabkan produk perguruan tinggi kita menjadi orang yang takut mengambil keputusan, tidak beram bertanggung jawab, dan seumur-umur tidak akan pernah bisa siap pakai. Sehubungan dengan itu terkadang timbul pertanyaan menggoda, apakah seorang mahasiswa yang dalam tugas akhirnya perlu menuliskan rumusan 2 x 3 = 6 harus kembali ke guru di sekolah dasarnya untuk mendapatkan pengesahan?

Salah satu dosa yang acapkali dilontarkan para pengguna jasa kepada taksonomi adalah keseringan produk disiplin ini berpotensi membawa kekacauan karena keharusan melakukan penggantian nama ilmiah yang sudah mapan. Dalam lima puluh tahun terakhir, misalnya, cengkih berubah nama dari Eugenia aromatica menjadi Eugenia caryophyllata, lalu berganti nama lagi menjadi Eugenia caryophyllus untuk kemudian dimapankan sebagai Syzygium aromaticum. Begitu pula jeunjing atau sengon bergonta-ganti nama dari Albizia falcala, lalu menjadi Albizia falcataria untuk akhir-akhir ini dibaptiskan sebagai Paraserianthes falcataria. Para mahasiswa pun sering dipusingkan karena jika dalam buku-buku tua jamur merang Volvaria volvacea atau Volvariella volvacea merupakan anggota suku Agaricaceae sekarang jenis ini dikelompokkan dalam Amanitaceae. Upaya untuk mengatasi kendala ini memang telah diusahakan orang dengan jalan menciptakan nama yang dilestarikan, tetapi kesepakatan melalui legislasi kode internasional tata nama lambat bisa mendapatkan persetujuan semua peneliti taksonomi. Kepada ilmuwan bidang lain hanyalah diharapkan pengertiannya bahwa perubahan dan penggantian nama itu dituntut oleh bertambah baiknya pengetahuan manusia sebagai hasil temuan penelitian dan kemajuan penggalian ilmu. Kita juga diminta menyadari bahwa kalau seseorang mengadakan penggolongan maka yang diklasifikasi itu bukanlah objeknya-yang tetap tidak berubahtetapi adalah pengetahuan manusia tentang objek termaksud. Karena di Indonesia ada suku-suku bangsa yang pernah berkebiasaan atau mempunyai sistem penggantian nama diri begitu kedudukan seseorang meningkat, atau memperoleh nama tua sebagai akibat ritual peralihan daur kehidupan, keluhan penggantian nama ilmiah memang tidak begitu gencar dilontarkan orang.

Taksonomi mengadakan kepada kita keindahan nama sebagai suatu sistem atau kunci bertuah pembuka khazanah pengetahuan, ilmu dan teknologi. Dalam konteks yang lebih luas nama sangat erat dengan diri kita sebagai manusia sebab dari nama dirinya dapat diduga kaitan kekerabatan dan afinitas etnis, dan dengan demikian juga kebangsaan seseorang. Jika keadaan sekeliling sekarang disimak, akan terlihat gejala terjadinya erosi pada kebanggaan akan keindonesiaan nama kita. Ketebalan benteng kenasionalan dan budaya bangsa Indonesia seakan-akan tertembus serangan dari luar, sebab nama bayi Indonesia yang lahir dalam dasawarsa terakhir telah juga mengalami pengglobalan. Nama-nama Sitti, Dyah, Sri, Dewi, Euis, Muhammad, Abdul, Ujang, Bambang, Joko, mulai menghilang sebagai bagian nama orang Indonesia. Di tempatnya bermunculan nama yang lebih berbau internasional seperti Marina, Melissa, Daisy, Itje, Joni, Edi, Soni, Riki, atau Robi. Tidak hanya nama diri orang yang diinternasionalkan sebab sekarang nama geografi kita juga tercemar oleh unsur asing. Kita tinggal menunggu waktu pemindahan ibu kota kabupaten Bekasi ke Lippo City, dan janganlah anda mengira berada di Inggris bila berjalan jalan melewati Raffles Village, Royal Sentul Highland, Riverside Golf Course, Rainbow Hill, dan Bogor Lake Side. Apakah ini tidak menunjukkan kelunturan rasa kenasionalan bangsa kita, terutama penghargaannya pada bahasa yang sudah sejak tahun 1928 dijunjung tinggi sebagai sarana perjuangan? Saya yakin akan ada pahlawan pejuang kemerdekaan kita yang terbalik di kuburnya karena melihat akan adanya kompleks permukiman bernama Oude Batavia! Melalui taksonomi bahasa Indonesia sudah berhasil menyumbangkan kosakatanya kepada khazanah dunia nama dan istilah internasional seperti pandanus, durio, arenga, pinanga, renghas, sintoc, bamboo, rattan, rajapa, babirousa, tapirus, tupaia, tetapi mengapa generasi sekarang giat memperlancar arus sebaliknya?

Produk taksonomi yang paling banyak dihasilkan penelitinya adalah pengungkapan kekayaan biota sesuatu daerah yang disusun dalam bentuk flora, fauna atau mikrobiota. Amat disayangkan bahwa berjilid-jilid hasil yang dicapai itu Bering kurang berarti bagi masyarakat pemakai yang ingin dilayaninya sebab demi ekonomi, ketepatan dan efisiensi ilmiah semuanya telah ditulis dalam bahasa asing secara khusus, dengan tata istilah dan cara penyajian yang hanya dimengerti sesama pakar dan pekerja taksonomi. Kita memang harks merasa sedih bahwa hasil upaya penelitian taksonomi-serta penelitian dalam cabang biologi lainnya-sekarang tidak bisa lagi dibaca oleh sebagian besar sarjana Indonesia karena bahasa dan peristilahan dasarnya saja sudah tidak dimengerti. Namun harus diakui bahwa karya taksonomi memang tidak users’ friendly sehingga kurang dapat diakrabi pemakai yang bukan spesialis. Upaya untuk mengatasi kelemahan ini sudah mulai dirintis dengan menggalakkan penggunaan komputer, yang karena kekompleksan kemungkinannya akan dapat menghasilkan perangkat penolong yang bisa dimanfaatkan setiap orang yang menyenangi komputer (Jarvie & Welzen 1994). Untuk itu kita di Indonesia harus pula berupaya keras untuk membudayakan dan membiasakan agar pelajar dan mahasiswa tidak mengalami komputerfobia, sambil menyadarkan mereka bahwa peranti canggih ini diciptakan orang bukan hanya untuk dijadikan mesin ketik semata sebab banyak sekali fungsi lain yang bisa disadap darinya. Bagi kita rasanya masih jauh perjalanan yang harus ditempuh sebelum kejayaan taksonomi sebagai penolong ilmu-ilmu lain bisa dipulihkan untuk era ketika biologi sudah menghendaki spesialasasi yang sangat terinci seperti sekarang.

Selanjutnya taksonomi juga harus mengaku salah terhadap tuduhan telah menjauhi makhluk ekonomi seperti tanaman budidaya atau hewan piara, karena ilmu yang bersusah payah digali, dibina, dipupuk dan dikembangkan agak sulit diterapkan langsung untuk keperluan pengembangan pertanian dalam arti yang luas. Memang tidaklah mudah menganalisis kekerabatan kultivar-kultivar kelapa atau ras-ras ayam kampung karena berkesinambungannya sifat ciri yang dihadapi, yang sewaktu-waktu dapat berubah oleh campur tangan manusia sesuai dengan tuntutan perkembangan selCra atau mode. Sampai sekarang orang belum bersepakat bagaimana menangani, hierarki kultivar tanaman budidaya dalam hubungannya dengan tumbuhan liar kerabatnya. Kenyataan ini bukanlah keanehan sebab dalam kaitannya dengan penentuan hierarki di bawah jenis, antara para ahli taksonomi tumbuhan dan hewan serta jasad renik pun terdapat jurang pemisah yang semakin melebar sehingga seakan-akan tak terjembatani. Akibat keengganan taksonomi menangani makhluk ekonomi ini semakin membesarlah jarak antara penghasil data dan pemakai yang mendukungnya. Akan tetapi karena banyaknya masalah yang harus dihadapi, semakin hari semakin bertambah data ekologi dan data biologi lain-yang biasanya dirangkum tetapi kini tidak sempat dijamah taksonomi lagi padahal mungkin berguna untuk diterapkan-menjadi tidak tersedia lagi dalam bentuk yang mudah dipahami guna dipakai dengan penuh keyakinan oleh bukan ahli taksonomi.

Untuk Indonesia yang memiliki jutaan hektar hutan yang dicadangkan untuk dikonversi maka tugas taksonomi menjadi lebih berat lagi, karena kita harus segera membawa ke meja laboratorium semua bentuk keanekaragaman hayati yang dikandung wilayah dengan tipe ekosistem yang akan diubah tersebut. Dipastikan banyak bentuk kehidupan akan ikut menghilang untuk selamanya bersamaan dengan pengubahan habitat sebelum ilmu tahu akan adanya dan sempat memberi nama makhluk yang mengalami kiamat lebih awal tadi. Bukti-bukti sejarah dari masa lalu pulau Jawa memang menunjukkan betapa gampangnya kemurahan Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang termusnahkan demi pelaksanaan sistem tangm paksa di Jawa Barat di awal abad XIX, atau karena pembabatan hutan berekosistem rapuh di Madura oleh rakyat yang lapar lahan menjelang abad XX. Akan tetapi tidak banyak pengambil keputusan yang akan mau menyetujui penyediaan dana buat membiayai penelitian taksonomi yang inti-nya hanya mengotak-ngatik penamaan,-pencirian dan penggolongan bahan herbarium dan museum yang diperoleh sebagai hasil eksplorasi keanekara-gaman hayati sesuatu wilayah. Namun kita mempunyai tugas mulia sebagai khalifah Allah di bumi republik ini untuk mengetahui secara terinci semua makhluk yang ada sekalipun tujuannya bukan untuk dimanfaatkan sekarang tetapi dipertahankan demi keperluan anak cucu di masa mendatang.

Seperti sudah disinggung pada berbagai kesempatan (Rifai 1990) kita memang harus berpandangan bahwa generasi sekarang tidaklah mewarisi khazanah keanekaragaman hayati dari nenek moyang untuk dipakai secara sewenang-wenang. Kita harus mengubah sikap dan berlaku sebagai peminjam pusaka tadi dari generasi mendatang, sehingga semuanya harus dikembalikan tidak saja dalam bentuk utuh tidak kurang suatu apa melaknkan juga lengkap dengan bunganya. Oleh karena itu melalui pemahaman taksonomi kekayaan tadi kita wajib melestarikan penggunaan sumber daya alam terperbarukan tersebut, sebab kalau kita betul-betul bertekad akan mencari, menemukan dan melestarikan manfaamya, kita telah giat melakukan ibadat karena tidak merusak alam. Dalam upaya melestarikan pemanfataannya, sebagai bangsa beradab yang sadar akan hari esok secara automatis kita tentu berupaya agar keberadaan khazanah tak ternilai tadi tetap terjaga dan terjamin selamanya untuk diteruskan kepada generasi mendatang. Dengan demikian konservasi sumber daya hayati yang umumnya mendapat tentangan dari rakyat dan para politisi diha-rapkan akan didukung, sebab kita ingin melestarikan kelangsungan pemanfaatannya dan bukan melestarikan demi pelestariannya semata-mata (Rifai 1994). Pelestarian keanekaragaman hayati adalah segi lain hasil samping kegiatan taksonomi, sebab dari semula kegiatan konservasi alam memang datang dari kepedulian para pakar taksonomi akan kelestarian sumber daya tadi. Tokoh-tokoh pelestarian alam dan juga pentolan gerakan keanekaragaman hayati yang secara sejagat sekarang sedang naik daun memang banyak yang berlatar belakang taksonomi (seperti Jacobs, Fosberg, Hawkes, Prance, dan Wilson).

Ketidaksempurnaan penanaman konsep taksonomi dengan segala perangkatnya dalam semua peringkat sistem pendidikan kita rupanya memhunyai dampak meluas sehingga telah berkembang pelbagai keadaan yang urang menggembirakan. Taksonomi mengajarkan asas bahwa untuk suatu ituan dengan batasan, kedudukan dan tingkat yang tertentu hanya dibenarkan dipakainya satu nama sahih yang berlaku, yang sangat berguna untuk keperluan koordinasi dan pembakuan. Kekurangcermatan pemahaman asas ini telah menyebabkan kekuranghati-hatian kita menaatasasi sistem tata nama sehingga dapat disaksikan beberapa kerancuan, kesimpangsiuran dan ketidaktaatasasan yang terkadang sangat mencolok. Dalam pranata lembaga, misalnya, jika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memiliki ketua, maka untuk kedudukan, tingkat dan batasan ruang lingkup tugas eselon I yang sama ada direktur jenderal di Badan Tenaga Atom Nasional, dan kepala di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian serta badan-badan litbang departemen yang lain. Pada pihak lain kita disodori istilah kepala untuk mengarahkan pusat dan biro (eselon II), dan kepala pula untuk menangani bagian dan balai (eselon III) dan juga kepala lagi untuk mengelola subbagian atau laboratorium (eselon IV). Dalam hubungan ini mau tidak mau kita harus mengangkat topi kepada leluhur kita karena sejak zaman kejayaan Majapahit sistem pernerintahan telah tertata dengan pemahaman hierarki perwilayahan berasaskan kotak-dalam-kotak yang rapi dengan penamaan pangkat pejabatnya yang mapan pula. Beberapa di antaranya kits warisi sampai sekarang, seperti terlihat dari tingkat-tingkat bupati, wedana, camat (yang dulu bemama akuwu) dan lurah. Begitu pula di beberapa kerajaan Jawa dikenal antara lain pangkat penewu (setingkat komandan batalion) dan penatus (setingkat komandan kompi) dalam sistem kemiliteran tempo doeloe.

Tata nama pribumi dan sistem pengklasifikasian yang ada di nusantara memang menarik untuk dipelajari, sebab tatanan yang dilahirkan mencerminkan kedalaman pendekatan bangsa kita untuk mampu menarik simpul an dan berpikir secara berhierarki yang teratur dan bersistem. Kita sudah mengetahui adanya sistem macapat pada budaya Jawa, dan sudah pula mendengar sinyalemen bahwa sistem yang dianut orang Sunda lebih rumit dari dugaan semula. Kalau kita menelaah tata nama warna suku-suku bangsa Indonesia, segera terlihat bahwa kebanyakan sudah memiliki tingkat kemajuan budaya yang tinggi dan bahkan berderajat maksimum kalau diklasifikasi berdasarkan sistem Berlin & Kay (1969). Sistem-sistem pengaturan ruang, suksesi vegetasi, bentuk hidupan dan objek lain yang berkembang di kalangan orang pedalaman Kalimantan, Madura, Timor, Seram dan lain-lainnya yang dilaporkan oleh Waluyo, Soedjito, Widjaja & Rifai (1991) memperlihatkan kesadaran bangsa kita akan asas-asas penamaan, pencirian dan penggolongan. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya terbuka peluang besar untuk mengembangkan dan menyuguhkan sistem-sistem klasifikasi ilmiah yang berakar pada bumi dan budaya kita sendiri serta dapat dipertanggungjawabkan karena bersifat universal.

Mungkin karena kurang baiknya cara penghayatan asas-asas penggolongan di bangku sekolah dan ruang kuliah, paradigma yang berkaitan dengan sistem juga kurang dicermati dengan baik. Kaienanya beberapa penataan pranata yang ada sexing terasa kurang pas, seperti dapat disaksikan dari nama badan, organisasi satuan tugas, judul dan anak judul karangan ilmiah, atau dokumen resmi. Penyajian sistematika kerangka karangan sebagai bagian pendahuluan-yang sering dijumpai dalam beberapa bentuk dokumen resmi seperti makalah yang disusun untuk P4, yang kemudian banyak ditiru peserta lomba karya penelitian ilmiah remaja-menunjukkan tidak dimengertinya kaitan bagian penyusun unsur dan sistemnya. Dalam penyajian itu hampir selalu ditemukan lagi butir pendahuluan dicantumkan sebagai unsur pendahuluan yang mewadahinya, suatu kejanggalan yang sulit dipahami. Penggabungan riset3 dan teknologi untuk nama portofolio kabinet, misalnya, tidaklah merupakan kombinasi yang lazim, sebab yang umum berlaku adalah pengaitan penelitian dan pengembangan (research and development) sebagai sarana penggali dan wahana kegiatan untuk memajukan dan memanfaatkan ilmu. Adapun teknologi hampir selalu dipadukan dengan ilmu sehingga untuk science and technology di Indonesia dikenal akronim iptek. Sayangnya singkatan ini pun merupakan suatu misnomer karena diturunkan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Logika bahasa istilah ilmu pengetahuan sulit dipahhami karena tidak sesuai dengan epistemologi ilmu yang bermula dari pengalaman, lalu tumbuh menjadi pengetahuan, dan baru kemudian berlandaskan ciri-ciri ilmiah berkembang sebagai ilmu. Pemadanan science dengan istilah ilmu pengetahuan juga menunjukkan ketidakacuhan kita akan pola kesingkatan untuk berhemat kata dan istilah yang dituntut gaya penulisan ilmiah. Gabungan kata ini pun menyebabkan terjadinya pembatasan untuk penjabaran kata ilmu lebih lanjut4.

Jika selama lebih dari dua abad posisi taksonomi sebagai primadona biologi hampir tak tergoyahkan, sekarang nasib ilmu ini ibarat pohon yang meranggas dan terkulai berkesedihan karena seakan-akan menghadapi suatu konspirasi internasional yang benar-benar akan memuseumkannya sepern spesimen bahan baku utamanya. Dalam beberapa dekade terakhir memang terlihat adanya polarisasi pandangan orang terhadap taksonomi yang sangat merugikan upaya memajukan dan mengembangkan disiplin ini (Sivarajan 1988). Pada satu pihak, taksonomi terus dianggap sebagai ilmu terhormat yang berperangkat kecanggihan pemikiran kompleks, penuh kecendckiaan ;erta kegiatan akademis dan jargon yang tidak mudah dipahami orang bukan ahlinya. Penghormatan berlebihan ini datang dari kelompok peneliti yang berkecimpung dalam penanganan jamu tradisional dan zoo- maupun fitofarmaka, kehutanan, perikanan, hortikultura serta para hobhvists yang kadar kebiologian keperluannya agak cair. Pada sisi lain oleh para ahli biologi yang berspesialisasi dalam cabang disiplin berbau eksperimental, taksonomi dianggap. pekerjaan juru pendeterminasi makhluk berdasarkan pengetahuan yang sudah ketinggalan zaman. Karena tidak berperan dalam upaya memajukan atau memperlebar batas terra incognita ilmu, menurut pandangan kelompok ini taksonomi tidak perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh.

Sebagai akibat sikap yang terakhir banyak kekosongan jabatan guru besar taksonomi di perguruan tinggi tersohor kini tidak diisi lagi dengan bidang keahlian yang sama (Cambridge), dan lembaga taksonomi terkenal mengurangi stafnya (Leiden), atau bahkan ada yang telah ditutup sama sekali (Utrecht). Mahasiswa dan kader berkualifikasi untuk mengisi posisi tersebut memang semakin sulit dipikat untuk dibina karena meningkatnya pamor serta besarnya daya tarik biologi sel dan biologi molekul yang tantangan dan rangsangan terobosannya lebih bisa menawarkan imbalan menggiurkan (Korf 1994). Dalam waktu tidak lama lagi gejala yang bersifat global ini dipastikan akan membuat pakar taksonomi sebagai komoditas yang betulbetul sangat langka. Seperti disinggung di atas, di mana-mana sekarang dana hibah dan anggaran penelitian lebih mudah dikucurkan buat membiayai penelaahan pengurutan DNA alih-alih untuk menyelesaikan inventarisasi flora dan fauna atau mikrobiota habitat kaya keanekaragaman hayati yang terancam gusuran untuk dikonversi menjadi kawasan industri atau permukiman mewah.

Kemunduran yang dialami taksonomi memang mengharuskan para penganjurnya untuk mewawas diri dan menyuruti salah langkah yang mungkin telah dilakukannya. Abad tempat kita berkiprah sekarang sangat bersifat komersial sehingga keberhasilan kegiatan taksonomi juga ikut ditakar dengan keuntungan berjangka pendek yang sering dikaitkan dengan masa bakti pejabat pengambil keputusan yang terkait. Sebaliknya para ahli taksonomi (dan juga ilmuwan lainnya) melihat segala sesuatunya dalam perspektif dan skala waktu yang menjamin tidak bakal berantakannya strategi kegiatan pembangunan dalam jangka panjang. Akan tetapi sudah merupakan rahasia umum bahwa ilmuwan merupakan kelompok orang yang sangat dihormati hak asasinya untuk menyuarakan pendapat seleluasanya, di samping memiliki juga hak istimewa untuk tidak didengarkan. Alhasil kegiatan penelitian yang mencakup inventarisasi, revisi, monografi, pencadangan dan semacamnya yang merupakan tulang punggung pemacuan taksonomi tidaklah mendapat dukungan sama sekali sebab disiplin ini seakan-akan telah direduksi menjadi kegiatan seorang tukang. Sekalipun demikian sukarlah untuk dibantah bahwa sampai sekarang pun kunci keberhasilan pemajuan ilmu-ilmu lain (seperti pencarian bahan obat untuk kanker dan HIV, pengembangan produk hortikultura seperti mangga atau salak, pemantapan program-program ekologi, pengelolaan tegakan hutan, penggalakan gerakan pelestarian alam) masih ditentukan oleh bantuan taksonomi.

Adanya tudingan bahwa taksonomi tidak merupakan ilmu yang modern telah menyebabkan para pekerjanya lalu mulai menekuni pola variasi dan asal-usul makhluk yang menjadi objeknya. Jadi terjadi pengalihan pumpunan perhatian ke arah penelitian mendasar untuk mematai-matai proses evolusi guna memahami kekerabatan unsur-unsurnya melalui pendekatan baru yang disebut taksonomi eksperimental atau biosistematika. Gabungan kegiatan taksonomi (yang meliputi penamaan, pencirian, penggolongan) dan taksonomi eksperimental inilah yang sekarang diwadahi dalam disiplin ilmu yang disebut sistematika5. Pendekatan baru ini memang menambah harkat dan makna bagi kegiatan taksonomi yang selama ini dianggap tidak tanggap terhadap perubahan dan kemajuan zaman. Disiplin ilmu yang mulai memfosil ini seakan-akan memperoleh angin segar dan napas baru, karena kescmpatan yang terbuka telah menyebabkan taksonomi bisa ikut memanfaatkan temuan biologi molekul, turut bersmmi-ramai bersama ilmu yang lain mencrapkan teknik DNA fingerprinting, serta juga menggunakan komputer guna tnettgolall data yang semakin menumpuk. Berkembanglah pendekatan fenetik dan pendekatan filogenetika dalam melakukan penggolongan yang berturut-turut menggunakan teknik numeris dan kladistika, di samping pendekatan klasik yang sudah banyak digunakan orang sebelumnya dengan teknik intuisi yano sangat subjektif (Ridley 1986). Akan tetapi kegiatan penelitian dan petnikiran baru yang pernah melahirkan gerakan new systematics ini ternyata telah memunculkan kontroversi dan polemik yang banyak sekali.

Biologi molekul, biologi sel, bioteknologi dengan rekayasa genetikanya yang mentercengangkan itu selalu berkecondongan mencari asas ihnialt tunggal untuk mereduksi dan menyatukan semuanya menjadi suatu landasan berpijak yang sama, dan menekankan keserbasamaan ciri-ciri kehidupan. Kegiatan ini memang menghasilkan ketunggalikaan dalam kebhinnekaan yang dicoba dimanfaatkan oleh sejemput peneliti taksonomi modern, sekalipun dasarnya sangat bertentangan dengan tujuan disiplin ilmu ini sendiri. Dalam hiruk pikuk perlombaan kepesatan ilmu dan teknologi modern untuk bersamasama menubuhkan pemahaman dasar biologi kehidupan yang menyatu, taksonomi merupakan satu-satunya ilmu yang ibarat seekor anjing menggonggong kesepian di padang pasir terus menyuarakan keperluan penelaahan keanekaragaman variasi makhluk. Pendekatannya tetap menekankan kesederhanaan dan hukum parsimoni sehingga sekalipun tumpukan data dan informasi datang bertubi-tubi semuanya dicoba disatukan secara sederhana dalam sistcm klasifikasi biologi yang efektif. Taksonomi memang tidak lagi melulu dilakukan secara klasik dengan pencirian melalui pertelaan “daun menjari, perbungaan malai rata, kuntum menggenta dan kelopak berbulu kempa” secara deskriptif. Berkat bantuan perangkat laboratorium mutakhir, taksonomi sekarang sudah mampu merangkum data dan informasi yang digali dari asal-usul organ yang terungkap dari pengamatan embriogenesis dan evolusi varian, susunan dan organisasi unsur-unsur submikroskopik, perilaku penangkaran populasi, pengurutan DNA yang dibaca dari polimorfisme panjang fragmen restriksi (RFLP) atau melalui rRNA yang diamplifikasi oleh reaksi rantai polimerase (PCR), sifat fisika dan konstitusi biokimia yang dihimpun dari teknik-teknik analisis serba canggih. Dengan demikian taksonomi betul-betul dapat diibaratkan sebagai suatu tractus digestivus atau sistem pencernaan biologi, karena semua data dimamah, disintesis dan direduksi untuk disajikan dalam sistem klasifikasi biologi yang ringkas tetapi penuh makna. Kita dapat pula mengandaikan taksonomi sebagai halte tempat pemberhentian ilmu sementara, guna memberi kesempatan mengambil napas dan mengonsolidasi semua data dan informasi yang telah terkumpul sampai saat penarikan suatu simpulan, untuk kemudian maju lagi bersama-sama. Tepatlah jika dikatakan bahwa taksonomi merupakan ilmu dengan proses kegiatan tanpa akhir.

Perkembangan baru ini telah berhasil menjadikan taksonomi kembali bergairah, diminati lagi sebagai kajian terhormat, mampu menghilangkan kesan bahwa ilmu ini hanya tukang pendeterminasi spesimen, serta giat ikut berkiprah di baris terdepan perkembangan ilmu dan teknologi serta tidak ketinggalan kereta api dalam upayanya to keep up with the Jonesses. Bukti taksonomi baru berupa pelbagai macam data yang tak tersedia sebelumnya kini dapat dimanfaatkan walaupun kebanyakan hanya berguna untuk mengerti lebih baik ramifikasi jenis dan bagian-bagiannya. Teori-teori klasifikasi mendapat perhatian sangat mencolok dibandingkan sebelumnya, seperti tersaksikan dari banyaknya tulisan yang diterbitkan belakangan ini. Kegiatan tersebut antara lain menghidupkan polemik abadi tentang pelbagai macam definisi konsep jenis morfogeografi, jenis biologi dan jenis internodon (Kornet 1993), dan bersimpangsiurnya silang pendapat tentang keperluan serta kemungkinan pengobjektifan penyusunan klasifikasi filogenetika (Hennig 1966, Ridley 1986) melalui metodologi yang dapat diulang kembali.

Akan tetapi perkembangan dan pendekatan modern yang sangat pesat ini mungkin telah berlangsung dengan memakan korban produksi monografi. revisi, flora dan sejenisnya, yang secara nyata menjadi merosot jumlahnya. Begitu pula kepentingan segi ekonomi yang sebelumnya sangat dominan terpaksa ditinggalkan, sehingga upaya penangkaran harkat taksonomi ini malah lebih menjauhkan pengguna jasa dan pelanggan hasil tradisionalnya. Apalagi karena pemutakhiran kegiatan sering terpaksa dilakukan dengan memakai pendekatan yang terlalu bersifat teoretis dengan peristilahan yang muluk-muluk tanpa kegunaan yang jelas dalam praktik. Keprofesiogalan juga mulai ditekankan sehingga sekarang metmang akan sulit dibayangloan bahwa seorang amatir akan bisa menjadi tokoh lagi seperti dahulu, kalau tidak didukung oleh dana, sarana, dan laboratorium yang memadai.

Dari uraian di atas terlihat bahwa tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa taksonomi merupakan disiplin ilmu yang tidak berderap langkah seirama dengan zaman. Sekalipun dalam beberapa dasawarsa terakhir pra sangka, pemberitaan dan publisitas buruk telah mengabuti reputasinya, sepak terjang ilmu ini tidaklah kalah dibandingkan cabang-cabang biologi yang lain. Dengan demikian taksonomi mempunyai hak hidup, bahkan melebihi hari-hari sebelumnya, apalagi karena menjunjung tugas mulia menyelesaikan inventarisasi keanekaragaman hayati yang secara global sekarang dipermasalahkan orang kelestariannya. Pengakuan dan penyegaran lisensi untuk memungkinkan taksonomi menunaikan tugas maha penting ini seleluasanya mamang sangat tepat diberikan sekarang, saat timbulnya kesadaran global yang tinggi bahwa sintasan (survival) atau keberlanjutan hidup umat manusia di muka bumi amat bergantung kepada keberhasilan kita mempelajari, memadai dan melestarikan keanekaragaman hayati. Mengingat kenyataan ini para penggaris kebijakan, pengambil keputusan, perencana, dan kaum cerdik cendekiawan serta orang-orang terpelajar sejagat kini dituntut untuk memahami apa yang sebenarnya dipertaruhkan. Dengan demikian semuanya diharapkan akan menyelaraskan sistem kerja dan kegiatannya masing-masing dengan gejolak kepedulian universal akan hari esok umat manusia.

Karunia Tuhan yang telah memberkahi tanah air kita dengan kekayaan keanekaragaman hayati melimpah yang dimanifestasikan dalam tipetipe ekosistem yang sangat bervariasi, beraneka macam jenis tetumbuhan, hewan dan jasad renik yang menghuni bercorak ragam habitat pula, yang dengan sendirinya dilandasi oleh besarnya variasi genetika yang menyebabkan plasma.nutfah makhluk Indonesia diminati sejagat, harus pula dihayati implikasinya. Guna membenahi khazanah pengetahuan kita tentang keanekaragaman fauna, flora dan mikrobiota ibu pertiwi mau tidak mau kegiatan penelitian harus digalakkan dan ditingkatkan. Pada pihak lain di atas sudah disinggung keengganan para penyandang dana membiayai kegiatan berbau inventarisasi yang tidak terlihat manfaat nyatanya dalam jangka pendek. Oleh karena itu akan diperlukan suatu perubahan sikap untuk bersedia mendukung macam penelitian yang harus dan layak dilaksanakan, perubahan pandangan untuk mau menekuni suatu bidang penelitian yang tidak merupakan disiplin primadona, dan mengubah pendekatan pendidikan untuk membangkitkan minat mahasiswa guna menjamin pengadaan tenaga manusia yang diperlukan buat melaksanakan kegiatan penanganan keanekaragaman hayati tadi.

Karena sangat besarnya limbak (bulk) objek dan ruang lingkup tugas yang dihadapi, secara kasar diduga bahwa Indonesia akan memerlukan sekitar satu kompi ahli taksonomi untuk memungkinkan pemanfataan berkelanjutan sumber daya alam hayati yang kaya raya itu mempunyai landasan ilmiah. Keperluan akan tenaga berkeahlian khusus yang sangat banyak ini dapat dijadikan salah satu mata rantai uji coba dalam kegiatan pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang memerlukan penanganan mendasar agar dicapai beberapa sasaran sekaligus. Ini berarti bahwa pembinaan tenaga tadi seyogianya dikaitkan dengan upaya nasional untuk membenahi pemahaman taksonomi secara tepat dan meluruskan kesalahan langkah masa lalu, antara lain dengan memperbaiki pemahaman keanekaragaman hayati di semua peringkat pendidikan. Gagasan penyempurnaan ke arah ini sebenamya sudah mulai dirintis 25 tahun yang lalu (Rifai 1979) dan Alhamdulillah sudah tersalurkan dan tertampung secara penuh dalam Kurikulum Sekolah 1994. Oleh karena itu, alih-alih menyuguhkan pokok bahasan taksonomi atau sistematika seperti sebelumnya, di sekolah dasar sampai sekolah menengah umum sekarang disajikan penanaman konsep dan pemahaman pengertian keanekaragaman tetumbuhan, hewan dan jasad renik, dengan sistem klasifikasi hanya dipakai sebagai latar belakang kerangka penyajian materi. Dengan demikian peri kehidupan makhluk yang beraneka ragam tadi diharapkan akan diajarkan dengan menekankan peran mereka dalam jaring-jaring kehidupan secara luas dan menyeluruh dalam bermacam pola habitat dan ekosistem yang mewadahinya serta dengan tidak melupakan variasi genetika yang mendasarinya. Selanjutnya diharapkan bahwa penyajian pelajaran biologi yang berbau sejarah (seperti ceritera pembuktian asal-usul kehidupan, riwayat hidup Linnaeus, kisah perjalanan Darwin di Galapagos) akan dibuang. Ditempatnya seyogianya disuguhkan materi yang lebih mutakhir dan bermanfaat (seperti peran DNA dalam pemahaman proses kimia kehidupan dan pengerahan terobosan bioteknologi untuk kesejahteraan hidup umat manusia) yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah berkat kemajuan penggalian ilmu dan teknologi yang pesat.

Sejalan dengan perkembangan dan tuntutan zaman, untuk pelbagai program studi, jurusan dan fakultas di perguman tinggi mata pelajaran taksonomi seyogianya juga lebih ditekankan pada keanekaragaman tetumbuhan, hewan dan jasad renik yang pemilihan contoh-contohnya disesuaikan dengan keperluan praktik lapangan pekerjaan yang akan dimasuki sarjana kita (Anonim 1992). Keterkaitan contoh keanekaragaman hayati terpilih dengan pembahasan dalam mata kuliah biokimia, mikrobiologi, genetika modern yang berlandaskan pendekatan biologi sel dan biologi molekul harus ditekankan untuk menyiapkan mahasiswa memasuk era bioteknologi. Adapun asasasas taksonomi hanya disinggung seperlunya di akhir kuliah, dan sistem klasifikasi diperkenankan sebagai wahana penyajian data dan informasi untuk memungkinkan mereka memahami pemanfaatan pengetahuan dan ilmunya di kemudian hari. Mata kuliah keanekaragaman hayati tersebut harus pula menyediakan bekal cukup yang akan memungkinkan peserta didik kelak berkemampuan mencari jalan sendiri untuk mendapatkan informasi yang diperlukannya berdasarkan sumber-sumber rujukan yang tersedia.

Taksonomi sebagai suatu disiplin ilmu secara penuh seyogianya hanya diberikan pada tingkat-tingkat terakhir jurusan biologi FMIPA, dan pendalamannya dilalcukan di peringkat pendidikan S2 dan S3 pada program studi taksonomi, keanekaragaman hayati dan sejenisnya. Merekalah yang harus dipersiapkan untuk menekuni bidang ini sebagai suatu spesialisasi melalui penelitian terarah yang dipersiapkan untuk diterbitkan hasilnya. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut memang terdapat pembenaran (justification) bagi perguruan tinggi berwibawa seperti Universitas Indonesia untuk mengangkat seorang guru besar dalam disiplin ilmu sangat tidak populer ini. Dunia ilmu Indonesia harus menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Universitas Indonesia atas kesediannya menanggapi rekomendasi Executive Board of Foundation Flora Malesiana yang-seperti badan-badan keilmuan internasional lainnya-mengusulkan agar kursi guru besar taksonomi diciptakan di negara kita karena pcrlunya bidang ini dikembangkan untuk menangani keanekaragakman hayati yang sangat besar itu.

Sekalipun segala kegiatan penanganan keanekaragaman hayati harus diselaraskan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi, untuk Indonesia taksonomi perlu lebih diprioritaskan dibandingkan sistematika. Ini bukan untuk mengecilkan makna sumbangan analisis kladistika atau pengurutan DNA untuk memahami kekerabatan, tetapi penyelesaian sensus keanekaragaman hayati seluruh wilayah tanah air tidak bisa ditunda lagi. Kita harus segera meningkatkan kemampuan nasional agar dapat berperan serta menyelesaikan projek internasional penulisan buku Flora Malesiana dan meluncurkan projek baru untuk memungkinkan terbitnya buku-buku pegangan sejenis, misalnya Fauna Malesiana dan Mycobiota Malesiana. Sistematika perlu kita tunda dulu, sebab untuk pulau Jawa yang sudah sekian lama dunventarisasi kekayaan alam hayatinya ilmuwan hanya akan dapat melakukan penelitian biosistematika tumbuhan tinggi saja karena sudah memadainya pengetahuan kita tentang floranya, sedangkan untuk kelompok makhluk lain masih banyak kegiatan eksplorasi bersifat alfa yang perlu dituntaskan.

Contoh koleksi makhluk dari wilayah pedalaman yang belum dieksplorasi secara memadai dipastikan menyimpan ribuan jenis dan marga atau bahkan suku yang baru untuk ilmu, yang sudah menunggu dengan tidak sabar buat diungkapkan. Dalam biologi sudah ada anak bangsa yang diusulkan ilmuwan Indonesia dan diterima secara luas, dan peluang untuk mengulangi prestasi ini masih sangat besar mengingat banyaknya makhluk pribumi yang belum memiliki nama ilmiah apalagi diteliti secara mendalam. Beberapa mahasiswa yang saya asuh sudah menemukan jenis jenis yang baru untuk ilmu sebelum mereka lulus ujian sarjananya. Bahkan simpulan penelitian seorang mahasiswi sebenarnya memberinya hak untuk memindah suatu bangsa dari satu kelas ke kelas yang lain. Sayangnya karena pola skripsi, tesis dan disertasi ataupun penelitian kita tidak menggalakkan atau mempercepat terbitnya hasil yang terungkap, penerbitan temuannya kedahuluan oleh seorang peneliti Amerika sehingga kredit taksonominya tidak dinikmati putri Indonesia tadi. Sekarang sudah sekitar 300 jenis makhluk yang sepanjang zaman nama ilmiahnya akan terus terkait pada ilmuwan Indonesia penemu dan pemberi namanya. Jumlah ini dapat dengan mudah dan harus segera dilipatgandakan, selain untuk kemajuan ilmu juga demi kebanggaan nasional kita. Semoga saja akan bertambah banyak si Otong, si Doel, si Simin, si Inem, dan si Butet yang mau terjun ke bidang yang masih penuh tantangan ini, yang betul-betul merupakan lahan sangat subur dari segi temuan ilmiah walaupun tidak dapat menawarkan lapangan kerja yang “basah” sehingga tidak akan menjadikan seseorang kaya.

Oleh karena itu perkenankanlah saya secara khusus sekarang menyampaikan ucapan selamat datang dan imbauan kepada para mahasiswa dan kader lain yang mungkin merasa terpanggil untuk menjadikan taksonomi sebagai pilihan spesialisasinya. Dalam ajaran agama Islam ada hadis Nabi Muhammad yang meminta orang tua agar menyadari sepenuhnya bahwa anak-anak kita adalah untuk masa generasinya sendiri. Oleh karena itu menjadi kewajiban orang tua dan pendidik seperti saya untuk menyiapkan anda menjadi manusia berilmu yang mampu berkiprah dalam zaman yang akan anda masuki. Akan salah besarlah saya sebagai pendidik jika hanya menemukan ilmu yang pernah saya terima tiga puluh lima tahun yang lalu, ketika taksonomi numeris masih berupa bayi, analisis pola baru mau lahir, dan teknik RFLP serta PCR belum lagi diciptakan. Saya sangat bangga bahwa berkat asuhan, dorongan dan kesediaan bersama-sama belajar mencobakan teknik terbaru, beberapa mahasiswa yang sekarang menjadi kolega saya sudah sangat jauh melampaui saya dalam kecanggihan pendekatan penelitiannya. Nlereka sudah mahir bermain-main dengan isozim, analisis kladistika, dan mampu memerintah komputer untuk menyusun dan membuatkan pertelaan teknis serta menyusunkan kunci determinasi jenis makhluk yang ditelitinya.

Jadi mereka sudah berhasil mengerahkan segala kecanggihan parafernalia laboratorium modern untuk memperkuat kegiatan taksonominya sekalipun bahan dan landasan pendekatannya masih tetap dapat dikatakan tua usiab. Dari sini terlihat bahwa pekerja taksonomi tidak perlu takut dikatakan berpendekatan kuno dan ketinggalan zaman karena metodologi penelitian termodern pun akan dapat diikuti secara penuh kalau dikehendaki.

Seperti telah disinggung di atas kalau dulu para amatir saja dapat menjadi ahli taksonomi yang terhormat, akan mudahlah bagi mahasiswa berbakat yang berminat untuk menekuni bidang ini secara profesional. Memang harus diakui bahwa taksonomi menghendaki kader dengan beberapa persyaratan kemampuan akademis yang secara kumulatif seakan-akan tak bisa dipenuhi seseorang sehingga bisa mengecutkan pemula. Kalau disimak mereka yang berhasil ditokohkan sebagai ahli taksonomi memang memiliki kombinasi kemampuan dan minat yang sangat luas. Selayak ilmuwan (scientist) mereka menguasai morfologi dan anatomi secara mendalam, mampu mengorelasikan pengamatan yang seakan-akan tak berkaitan, suka akan rincian, berjiwa pioner untuk menjelajah daerah tak terpetakan guna mengumpulkan spesimen baru, serta senang akan koleksi spesimen mungkin seserakah filatelis atau pustakawan. Untuk kelancaran pekerjaannya mereka perlu berdayaingatan fotografi, berkepiawaian mempertelakan dan menggambarkan nisbah, berkemampuan melihat keharmonian sistem, dan bisa cepat melihat penyimpangan simetri bentuk. Tak ubahnya kebanyakan pandit (scholar), rata-rata mereka memiliki rasa kesejarahan yang tinggi, berkemahiran berpoliglot, berpenciuman setajam Sherlok Holmes agar mampu bermain detektif menelusuri pustaka kuno yang terlupakan, dan menguasai pula teknik berpokrol bambu sehebat para ahli hukum di sidang pengadilan agar dapat memahami dan menghayati pasal dan ayat kode internasional tata nama makhluk yang kesederhanaannya terkadang menyesatkan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika orang yang memiliki taxonomic fair dapat dengan mudah bertindak sebagai juri pelbagai macam kompetisi, menjadi penilai naskah di luar bidangnya untuk keperluan penyuntingan, mampu menata organisasi sehebat seorang ahli analisis sistem, dan sangat cocok untuk menjadi kepala biro personalia. Tetapi ilmuwan yang berkemampuan demikian hanyalah merupakan stereotipe sosok beberapa orang yang dikompositkan. Pelbagai persyaratan yang didambakan tadi mustahil dipenuhi seseorang sehingga tidak perlu dirisaukan benar, asal saja dimiliki minat besar untuk selalu belajar dengan penuh ketekunan. Memang perlu disadari bahwa taksonomi meminta keuletan dan kesediaan bekerja keras, serta menghendaki orang yang tidak takut pada kesulitan, sebab tidak ada penelitian taksonomi-dan sebenarnya juga kegiatan penelitian cabang ilmu lainnya-yang mudah. Menjadi peneliti memang berarti menantang kesulitan untuk diatasi.

Dari kenyataan ini terlihat bahwa sintasan taksonomi di Indonesia sangat tergantung pada kesediaan mahasiswa menyambut tantangan tadi. Karena’sedikitnya saingan, peneliti taksonomi Indonesia dapat cepat menjadi tokoh dalam bidang spesialisasinya, dan kemitraan internasional terbuka luas bagi yang berminat memasukinya.

Sesuai dengan tradisi perkenankanlah saya mengakhiri pidato penabalan saya sebagai guru besar luar biasa ini dengan merekam persantunan (acknowledgement) dan menyampaikan penghargaan serta rasa terima kasih saya yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memungkinkan semuanya ini terjadi. Saya wajib berterima kasih kepada Pemeritah Republik Indonesia yang melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah mempercayai saya untuk memangku jabatan berwibawa ini. Insya Allah kepercayaan tersebut tidak akan saya sia-siakan, yang untuk mewujudkannya secara sungguh-sungguh saya mengharapkan kerja sama dan kerja keras mahasiswa yang tertantang untuk bersama-sama memajukan taksonomi di Indonesia.

Kepada Rektor Universitas Indonesia Prof. dr. M. K. Tadjudin dan seluruh anggota Senat Guru Besar Universitas Indonesia saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kesediaan dan dukungan untuk mengusulkan pengangkatan saya sehingga membuka peluang untuk mendarmabaktikan segenap pengetahuan yang saya miliki melalui lembaga akademis yang terhormat ini. Sebenarnya saya bukan orang baru di lingkungan Universitas Indonesia sebab pada tahun 1958 saya terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia di Bogor, yang karena desakan ekonomi sesudah beberapa hari terpaksa saya tinggalkan untuk pindah ke Akademi Pertanian di Ciawi Bogor. Segera sesudah pulang dari Inggris, tepatnya sejak 1 Oktober 1967 saya mulai diminta mengasuh mata kuliah kriptogami FIPIA UI yang mula-mula diselenggarakan di Bogor, dan terns sampai sekarang membimbing beberapa mahasiswa pascasarjana FMIPA UI.

Saya sangat berterima kasih kepada Dekan FMIPA UI Prof. Dr. G. Parangtopo Sutokusumo yang bersama-sama Prof. Dr. S. Somadikarta, Prof. Dr. Indrawati Gardfar dan Prof. Dr In M. Soerjani telah mengajukan usul pengangkatan saya sebagai guru besar luar biasa di FMIPA UI. Semoga saya tidak mengecewakan para rekan sejawat pendukung saya tersebut dalam upaya meningkatkan gairah belajar biologi tumbuhan dan jamur sebagai suatu sistem hidup di perguruan tinggi berpengaruh ini. Kerja sama keilmuan yang k ta jalin sdama ini telah berjalan dengan membuahkan hasil baik sehingga diharapkan akan semakin meningkat di masa-masa menantang.

Untuk segala macam pengetahuan yang termiliki, saya sangat berhutang budi kepada para ustadz dan guru mengaji di pesantren, serta semua guru sekolah mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan menengah di Madura. Para pahlawan tanpa tanda jasa ini jumlahnya terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu, tetapi saya ingin mengenang beberapa di antara mereka yang sangat mengesankan karena secara nyata terasa membentuk sosok kepribadian saya, yaitu K. H. Muchtar, K. H. Asnah, dan Nyai Hajjah Salbiah (di pesantren), M. Narawitjitra, Sjamsul Arifin, Hasanuddin, R. A. Prijono (di sekolah dasar), Ki Moh. Wasik, Soejanto, Soepardi, dan Rohani (di sekolah menengah pertama), Moh. Halil, M. Izzy, Salehuddin, dan Soewarso (di sekolah menengah atas), yang kebanyakan adalah guru-guru bahasa, sejarah, menggambar dan biologi.

Puluhan dosen di Akademi Pertanian Ciawi Bogor telah memompakan ke benak saya bekal dasar pengetahuan dan ilmu tentang kehidupan yang tak ternilai harganya. Dari sebegitu banyak pengajar saya terutama sangat berterima kasih kepada Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo (yang memilih saya dari sekian ribu pelamar untuk mendapatkan beasiswa, dan yang mengajarkan keterkaitan biologi dengan segala sistem alam lingkungannya), In Rahayu Iskak (insinyur pertanian wanita pertama Indonesia yang saya idolakan dan yang berhasil mengruskan pengetahuannya tentang jamur yang diterimanya dari Prof. Dr. K. B. Boedijn kepada saya), Prof. Dr. In Soemartono Sosromarsono (yang membimbing saya menulis skripsi sarjana muda berbahasa Inggris tentang hubungan jamur dan serangga), dan Mr. Herman Busser (yang pelajaran kimianya meningkatkan minat saya pada bahasa Indonesia yang dikuasainya dengan sangat sempurna sekalipun beliau seorang Belanda totok). Persantunan khusus harus disebutkan di sini bahwa kematangan pendekatan keilmuan telah saya peroleh di Ciawi berkat gemblengan Prof. Dr. In Andi Hakim Nasoetion melalui kuliah matematika dan statistika serta petuah sambil lalu selama kerja lapangan ilmu tanah ke pelbagai pelosok pulau Jawa. Bersama In Sadikin Sumintadikarta (Direktur Akademi Pertanian), beliau “menjuruskan” kehidupan akademis saya untuk mendalami jamur guna mengisi relung yang dikosongkan Prof. Dr. K. B. Boedijn, dengan permintaan agar saya mengikuti teladan kepakaran tokoh jamur tropik yang memang saya kagumi ini, tetapi disertai pula pesan janganlah saya sampai meniru kesukaannya akan minuman keras. Atas prakarsa beliau berdua saya berkesempatan belajar jamur pada Prof. Dr. Jasper H. Garner untuk beberapa minggu di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia Bogor.

Selama setahun menjadi pegawai bulanan di Herbarium Bogoriense saya mendapat kehormatan magang kepada Prof. Dr. A. J. G. H. Kostermans yang dengan dogmatik dan autoriter mengajar saya berbagai kiat penelitian taksonomi. Jasanya menjadikan saya mikologiwan tidak kecil sebab beliaulah yang mencarikan beasiswa, universitas, dan promotor serta asrama bagi saya, sehingga dengan bantuan dukungan In Sadikin Sumintadikarta (selaku Direktur Lembaga Pusat Penyelidikan Alam) akhirnya saya dapat segera diberangkatkan ke Inggris untuk melanjutkan pelajaran tentang jamur dalam usia yang relatif muda. Adalah Prof. Dr. A.J.G.H. Kostermans yang menuntut saya untuk sedikitnya menghasilkan lima orang penerus yang harus dapat saya banggakan karena menjadi tokoh taksonomi lebih besar daripada saya, dan yang bertekad akan mengembangkan school of thought yang terjelma, suatu tugas yang tidak ringan.

Saya sangat berhutang budi kepada Prof. Dr. John Webster (Sheffield University) dan Dr. R.W.G. Dennis (Herbarium of the Royal Botanic Gardens, Kew) yang dengan penuh kesungguhan mendidik saya mempelajari jamur di lapangan, di laboratorium, di herbarium, serta di perpustakaan. Saya merasa beruntung karena dapat menimba ilmu dari Prof. Dr. Richard P. Korf (Cornell University, Ithaca, New York) melalui korespondensi yang tak berkeputusan sampai sekarang. Cara dan pendekatan mendidik ketiga orang ahli jamur kenamaan inilah yang telah membentuk saya menjadi peneliti jamur yang konon masuk bilangan, antara lain dengan jalan mengajarkan kepada saya teknik memirsani sepintas tetapi melihat rincian menyeluruh lalu mengorelasikan hasilnya sebanyak-banyaknya dan menyimpulkan semuanya secara meluas untuk kemudian menyiapkan tulisan efektif yang dapat langsung segera diterbitkan.

Kepada segenap jajaran pimpinan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas keleluasaan yang memungkinkan saya berkiprah di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan terutama untuk izin guna memangku jabatan guru besar luar biasa di samping jabatan fungsional saya selaku ahli peneliti utama di LIPI. Di lingkungan Puslitbang Biologi–LIPI Bogor saya ingin menyampaikan penghargaan kepada para rekan sejawat di Herbarium Bogoriense atas kerja sama dalam rangka hubungan kolegialitas sehingga teiah banyak menghasilkan gagasan dan kegiatan yang diyakini akan membantu pengembangan taksonomi di Indonesia. Begitu pula kepada rekan-rekan di Jurusan Biologi FMIPA Ul saya berterima kasih atas penerimaan saya di kalangan anda semua untuk bersama-sama memajukan biologi melalui pengembangan pendidikan Biologi. Dalam hubungan ini saya ingin pula merekam terima kasih saya kepada para sejawat di Program Pascasarjana IPB, di Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Ditjen Pendidikan Tinggi, di Komisi-Komisi Majelis Penelitian Perguruan Tinggi, di NATURINDO Inc., di Foundation Flora Malesiana, di Dewan Riset Nasional, serta di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, atas ajakan untuk bekerja sama, singsingan lengan baju dan dukungan untuk mewujudkan impian bersama agar terjadi peningkatan nyata mutu pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi dan di lembaga-lembaga pengerian dan pengembangan Indonesia. Di hadapan lembaga kita semua terbentang tantangan dari masyarakat pemakai jasa yang harus dijawab bersama melalui kegiatan yang berdampak nyata. Saya berkeyakinan penuh bahwa kita akan dapat memanen hasil melimpah, yang akan dituai dengan penuh kebahagiaan karena kita sendirilah penabur benihnya.

Alangkah bangga rasa hati kedua almarhum orang tua saya Mas Atmosoegondo dan Ny. Hajjah R. Aj. Halimatussa’diah seandainya mereka dapat menyaksikan peristiwa anaknya yang konon paling bengal ini dikukuh kan menjadi guru besar. Rasanya sembah bakti dan panjatan doa Allahummaghfirli wali walidayya warhamhuma kanw rabbayani saghira lima kali sehari, untuk tidak memutus amal mereka selama hayat saya dikandung badan, tidaklah cukup untuk mengurangi hutang hidup, hutang pendidikan dan hutang budi saya kepada keduanya, yang dalam ketidakcukupannya dan dengan caranya sendiri telah berjuang mengupayakan kepuasan lahir batin masa kecil saya yang sangat indah. Bukan main bahagia saya seandainya ayah dan ibu mengetahui bahwa pusaka warisan yang diamanatkannya berupa kapenterran majhalannaghi konco’na po’lot (‘kepandaian menggerakkan ujung pensil’) terbukti betul-betul lebih berharga bagi saya dibandingkan dengan tanah warisan seluas desa Batu Ampar atau batangan emas yang dibagikannya kepada cucu-cucunya. Pada kesempatan ini wajib pula direkam hutang budi saya kepada semua kakak dan para ipar saya, terutama H. Zaenal Abidin dan H. Moh. Hasan, yang sepeninggal ayah lalu mengambil alih tanggung jawab menyelesaikan pendidikan saya adik-beradik.

Kepada kedua mertua saya H. Mohammad Noer dan Ny. Hajjah Siti Rachma saya juga harus menghaturkan terima kasih yang tak terhingga atas kesudiannya menggantikan kedudukan almarhum kedua orang tua saya, dan atas segala suri teladan, bimbingan, dorongan nasihat, sambungan doa, dan dukungan moril serta materiil yang sangat diperlukan dalam meniti karir dan membina keluarga saya. Tiada cukup kata-kata untuk mengungkapkan perasaan saya kepada istri saya Siti Noeroel Hajati dan kedua putri saya Sri Hidajati Ramdani dan Tiara Timuariana yang tercinta dan tersayang, atas segala pengertian dan kesabarannya menjalani suka duka hidup keluarga seorang pegawai negeri, yang panggilan hidup, kesenangan dan kebahagiannya tercapai bila sibuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk kehidupan jamur dan mengajarkan serta membagi-bagikan pengetahuannya sebagai penambah perbuatan amal baik di dunia.

Akhirnya kepada para hadirin yang dengan penuh kesabaraan mengikuti upacara pengukuhan ini saya ingin menyampaikan penghormatan dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Begitu pula kepada semua pihak yang telah meinungkinkan terselenggaranya upacara pengukuhan ini saya tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan dapat membahas budi dan amal baik kesemuanya tadi dengan takaran pahala yang Insya Allah akan jauh melebihi dugaan.
Wa billahit taufik wal hidayah,
Wassalamua ‘alaikum wa rakhmatullahi wa barakatuh.

—————————–

CATATAN AKHIR
1. Bandingkan pengamatan Bartlett (1929): “Warneck, one of the leading authorities on the Batak of Sumatra, goes much too far in saying that the Batak have no sense of color, but equally decided statements about other Malayan peoples are often made by Europeans”.

2. Pengeramatan nama ilmiah terlihat dari kesukaan peneliti Indonesia untuk mencantumkan nama Latin dalam judul penelitian mereka sekalipun objek yang mereka teliti adalah ayam, badak jawa, padi, kelapa sawit, atau jamur merang yang tidak mungkin dikelirukan identitasnya. Timbul kesan bahwa pencantuman nama Latin tersebut hanyalah untuk secara semu menambah bobot bagi tulisan yang tidak bernilai ilmiah tinggi.

3. Dalam kaitan ini perlu dicatat bahwa di Indonesia perangkat yang terangkum dalam kata riset itu termasuk penelitian, pengembangan dan rekayasa (research, development and engineering).
Pelibatan istilah rancang bangun (design) dalam konstelasi ini telah pula menambah kekusutan permasalahan.

4. Lihat lebih lanjut Jujun S. Suriasumantri (1983) yang secara panjang lebar membahas masalah ini.

5. Ilmuwan umumnya mencampuradukkan pengertian taksonomi dan sistematika karena bagi beberapa orang perbedaan keduanya hanyalah bersifat semantik. Pemisahan seperti digariskan di atas dilansir oleh Davis & Heywood (1963) dianggap bermanfaat untuk menajamkan pendekatan dan ruang lingkup kegiatan yang memang berlainan.

6. Seperti diuraikah Sivarajan (1988) sekalipun berpendekatan serba canggih, taksonomi tetap menggunakan sumber data primernya yang digali dari 1) bahan penelitian hidup yang terdapat di alam, atau dipelihara di kebun raya serta kebun binatang dan koleksi kultur jaringan, sel atau jasad renik, 2) spesimen yang diawetkan di herbarium atau musem, dan 3) kepustakaan taksonomi atau publikasi ilmu-ilmu terkait.

PUSTAKA ACUAN
Anonim. 1992. Pemantapan Silabus Taksonomi Tumbuhan di Perguruan Tinggi Indonesia. Risalah seminar yang diselenggarakan Penggalang Taksonomi Tumbuhan Indonesia dan Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada di Yogyakarta, 17 Juni 1989. Sisipan Floribunda 3: 1-28.

Bartlett, H. H. 1929. Color nomendature in Batak and Malay. Papers of Michigan Academy of Science, Arts and Letters 10: 1-52.

Berlin, B. & Kay, P. 1969. Basic Color Terms. Los Angeles: University of California Press.

Davis, P. H. & Heywood, V. H. 1963. Principles of Angiosperm Taxonomy. Princeton: Van Nostrand, Inc.

Hennig, W. 1966. Phylogenetic Systematics. Urbana: University of Illinois Press.
Jarvie, J. & Welzen, P. van. 1994. What are tropical floras? Taxon 43: 444-448.

Korf, R. P. 1994. Fifty years of fun with the Discomycetes, and what’s left to do. Makalah dalam Sympsium on Mycology: Past, Present and Future, 21 October 1994. Cornell University, Ithaca, New York.
Kornet, D. J. 1993. Reconstructing Species. Ph.D. Thesis Leiden University. Leiden: Rijksherbarium/Hortus Botanicus.

Ridley, M. 1986. Evolution and Dassification. London: Longmans.

Rifai, M. A. 1979. Jenis-jenis Sderoderma: Pencerminan penelitian taksonomi Indonesia. Makalah dalam Kongres Biologi Nasional IV, Juli 1979. Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Rifai, M. A. 1990. Nilai nisbi dan perossotan hidupan liar. Majalah Hidupanliar Indonesia 1(1): 1-6.

Rifai, M. A. 1994. A discourse on biodiversity utilization by local Indonesians. Dalam Umboh, 1. et al. (penyunting). Risalah Lokakarya Nasional Keanekaragaman Hayati Tropik Indonesia: 101-132. Serpong: Dewan Riset Nasional.

Rusiaman, N. Y. 1990. Kemampuan Klasifikasi Logis Anak. Disertasi Doktor IKIP Bandung. Bandung: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Sivarajan, V. V. 1988. Epilogue. Makalah dalam National Seminar on the Role of Herbaria in Scientific Research and Development, 12-15 February 1988. University of Rajasthan, Jaipur.

Suriasumantri, J. S. 1983. Ilmu dalam perspektif moral, sosial dan politik. Dalam Sastrapradja, D. et al. (penyunting). Risalah Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional: 73-82. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Waluyo, E. B., Soedjito, H., Widjaja, E. A. & Rifai, M. A. 1991. Penguasaan etnoekologi secuplikan masyarakat etnis di Indonesia. Makalah dalam Kong:-es Ilmu Pengetahuan Nasional V, 3-7 September 1991. LIPI, Jakarta.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: