Home / Berita / UMN Dorong Kolaborasi untuk Hadapi Era ”Big Data”

UMN Dorong Kolaborasi untuk Hadapi Era ”Big Data”

Perkembangan teknologi informasi dan kemunculan mahadata atau big data membutuhkan persiapan khusus dari perguruan tinggi. Lembaga tersebut perlu merancang strategi agar bisa menghasilkan lulusan yang mampu mengolah dan menginterpretasikan data secara tepat agar selanjutnya bisa dimonetisasi.

Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Ninok Leksono, seusai seremoni Wisuda XV di Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (29/6/2019), mengatakan, kompetensi mengolah dan memanfaatkan big data sangat penting. Pada era informasi, data merupakan sumber daya baru untuk dikembangkan dalam berbagai bidang. Namun, pengetahuan dan teknologi di dalam negeri masih terbatas.

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU–Sejumlah wisudawan Universitas Multimedia Nusantara yang lulus pada Sabtu (29/6/2019) di Serpong, Tangerang Selatan.

”Karena kita belum bisa mengembangkannya sendiri, salah satu kunci (untuk menyiasati) adalah dengan berkolaborasi dengan perguruan tinggi lain,” kata Ninok setelah meluluskan 381 mahasiswa dari 12 program studi (prodi).

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU–Rektor Universitas Multimedia Nusantara Ninok Leksono

Dalam upacara wisuda itu, hadir perwakilan dari sejumlah kampus yang bekerja sama dengan UMN, antara lain Findland University, Finlandia; Silla University, Korea; Chinese Culture University, Taiwan; International University at Bad Honnef, Jerman; Universiti Tun Abdul Razak, Malaysia; dan RFH, Jerman. Selain itu, ada pula Uppsala Universiteit, Swedia; DAAD Indonesia; UCSI Universiti, Malaysia; Nagoya University, Jepang; University of Technology Sydney, Australia; dan Swinburne University of Technology, Australia.

Salah satu bentuk kolaborasi yang dilakukan, ujar Ninok, adalah membangun laboratorium kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) di Jepang. Para pengajar juga dikirim ke kampus-kampus tersebut untuk mempelajari teknologi otomatisasi.

Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan UMN Andrey Andoko mengatakan, agar para lulusan mampu berkompetisi di industri yang telah memanfaatkan big data, kampus juga telah menyusun sejumlah kompetensi yang sesuai dengan konfigurasi tersebut.

Contohnya, kompetensi mengenai internet of things (IoT) di Prodi Teknik Komputer, otomatisasi di Prodi Teknik Elektro, dan kecerdasan buatan di Prodi Informatika. ”Ada pula kompetensi mengolah data di Prodi Sistem Informasi yang hasilnya akan digunakan untuk pengambilan keputusan di ranah bisnis,” kata Andrey.

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU–Suasana Wisuda XV Universitas Multimedia Nusantara di Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (29/6/2019).

Ia melanjutkan, persoalan data tidak berhenti pada pengolahan dan penciptaan teknologi untuk mengolahnya. Data juga harus diinterpretasi untuk memahami konteks tertentu. ”Oleh karena itu, kami juga melaksanakan kolaborasi antarprodi. Contohnya, jika mahasiswa Prodi Sistem Informasi mengolah data tanpa suatu konteks yang lain, ya, data itu menjadi tidak berarti,” ujar Andrey.

Kolaborasi antarprodi yang terakhir dilakukan oleh mahasiswa Sistem Informasi dengan Jurnalistik. Mereka membangun sistem untuk melakukan pemeriksaan fakta (fact checking) dalam kampanye calon presiden-wakil presiden pada Pemilu 2019.

”Jadi, teman-teman di Sistem Informasi mengolah data dengan kemampuan data analytic dan machine learning, kemudian hasilnya diberi konteks dan perspektif oleh teman-teman dari Prodi Jurnalistik. Ini adalah dua kompetensi yang memang kalau dituntut dari satu orang, ya, agak sulit. Oleh karena itu, tentu diperlukan kerja sama,” tutur Andrey.

Selain itu, keberadaan big data juga tidak selalu membawa manfaat. Sebagian orang justru memanfaatkannya untuk tindak kriminal. Muthia Saphira, wisudawan terbaik UMN dari Prodi Informatika, mengatakan, hal tersebut juga tidak luput dipelajari di kampus. Sejumlah materi mengarahkan pada mahasiswa agar waspada dan tidak terjebak menggunakan kekuatan big data untuk merugikan orang lain.

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU–Sudarto, Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi, dan Teknologi Informasi pada Kementerian Keuangan, hadir sebagai pembicara kunci dalam Wisuda XV Universitas Multimedia Nusantara.

Sudarto, Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi, dan Teknologi Informasi pada Kementerian Keuangan, yang hadir sebagai pembicara kunci dalam Wisuda XV UMN, menjelaskan, saat ini dunia telah mengarah pada era digital dan mendisrupsi berbagai aspek yang sebelumnya ada.

Ke depan, bidang-bidang yang menjadi pusat pengembangan adalah kecerdasan buatan (AI), block chain, komputasi awan (cloud computing), penggalian data (data mining), media sosial, aplikasi mobile, dan IoT. Seluruhnya akan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital.

”Kita harus mendapatkan keuntungan yang optimal dari perkembangan ekonomi digital,” kata Sudarto. Caranya, dengan memanfaatkan big data untuk berinovasi.

Inovasi, lanjut Sudarto, juga tidak akan terjadi jika tidak ada ekosistem yang menunjang. Oleh karena itu, pihaknya mendukung penuh pembangunan sumber daya manusia agar bisa berkompetisi di era big data. ”Salah satunya, dengan menganggarkan dana sebesar Rp 490 triliun untuk beasiswa pendidikan,” ujarnya.

–Wisudawan Terbaik UMN 2019, Martha Saphira (kiri), dan wisudawan peraih gelar Cendekiawan Oetama, Ryan Sucipto.

”Soft skill”
Selain kemampuan teknis, ucap Andrey, lulusan UMN juga dibekali sejumlah soft skill, seperti kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan memecahkan masalah. Sejumlah keterampilan itu merupakan tuntutan baru dalam industri masa kini. Mahasiswa yang mampu menguasai soft skill pun diapresiasi tinggi oleh kampus, yaitu dengan memberikan gelar Cendekiawan Oetama.

Pada Wisuda XV UMN, gelar tersebut dianugerahkan kepada Ryan Sucipto dari Prodi Desain Komunikasi Visual. Selama tiga tahun terakhir, Ryan aktif menjadi sociopreneur yang memberdayakan 18 kampung di Kabupaten Tangerang dengan memanfaatkan disiplin ilmu desain yang ia pelajari.

Dari kegiatan tersebut, dia mampu mengorganisasikan 1.400 relawan dari seluruh Indonesia untuk berkegiatan di 18 kampung binaannya. Hasilnya, para relawan dan masyarakat setempat mampu menghasilkan sejumlah produk otentik yang bernilai ekonomis.

Ryan mengatakan, dirinya termotivasi menggunakan kemampuannya untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya. ”Ilmu dan bisnis yang dikembangkan memang seharusnya memiliki dampak sosial terhadap masyarakat,” ujarnya.–KURNIA YUNITA RAHAYU

Editor M FAJAR MARTA

Sumber: Kompas, 29 Juni 2019

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: