Home / Berita / UGM Selidiki Mahasiswa Joki Ujian Masuk Perguruan Tinggi

UGM Selidiki Mahasiswa Joki Ujian Masuk Perguruan Tinggi

Universitas Gadjah Mada menyelidiki mahasiswanya yang tertangkap menjadi joki ujian masuk pada Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya. Permasalahan itu didalami untuk menentukan hukuman atas pelanggaran tersebut.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Universitas Gadjah Mada (UGM) Iva Ariyani mengatakan, sudah mengonfirmasi pihak Universitas Muhammadiyah Surabaya terkait informasi tersebut. Informasi tersebut diperoleh melalui pemberitaan di sejumlah media. Ada dua nama mahasiswa dari perguruan tinggi tersebut yang tersangkut kasus itu.

Sejumlah barang bukti yang ditunjukkan dalam jumpa pers mengenai praktik joki pada ujian masuk Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, di Ruang Rapat UAD, Yogyakarta, Senin (30/7/2018). Barang buktinya terdiri dari jaket, adaptor, aki, hingga pemancar sinyal.
KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO (NCA)
30-07-2018

KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO–Sejumlah barang bukti yang ditunjukkan dalam jumpa pers mengenai praktik joki pada ujian masuk Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Senin (30/7/2018). Barang bukti antara lain berupa jaket, telepon seluler, adaptor, aki, dan pemancar sinyal.

“Ada dua nama yang disampaikan. Satu nama kami temukan di data kemahasiswaan UGM, sedangkan satu nama lainnya tidak kami temukan,” kata Iva, Rabu (22/5/2019).

KOMPAS/HARIS FIRDAUS–Kepala Bagian Humas dan Protokol Universitas Gadjah Mada (UGM), Iva Ariani, memberi keterangan pada media, Selasa (6/11/2018), di kantornya di Yogyakarta.

Iva menyatakan, komite etik sedang mendalami kasus itu untuk membuktikan pelanggaran. Jika memang ada pelanggaran hukum, bakal ada sanksi tegas dari pihak perguruan tinggi.

“Pasti akan ada sanski tegas. Segala macam bentuk perilaku tidak baik dan melanggar tata aturan universitas pasti ada sanksi tegas,” ujar Iva.

Iva menyampaikan, sanksi terberat pelanggaran etik di perguruan tinggi adalah dikeluarkan atau drop out. Tetapi, sanksi itu masih dalam pengjakian komite etik. Kebenaran informasi perlu dipastikan terlebih dahulu.

Secara terpisah, Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Dikti Litbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Lincolin Arsyad membenarkan, terdapat joki dalam ujian masuk tersebut. Ada empat joki tertangkap. Dua di antaranya mengaku berasal dari Universitas Gadjah Mada. Hal itu diketahuinya karena kebetulan sedang meninjau ujian masuk di Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jawa Timur, Selasa (21/5).

“Saya kecewa sekali kenapa harus ada yang melakukan kecurangan seperti ini. Terlebih lagi dilakukan pada ujian masuk Fakultas Kedokteran,” kata Arsyad, saat dihubungi, Rabu sore.

KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO–Sejumlah barang bukti yang ditunjukkan dalam jumpa pers mengenai praktik joki pada ujian masuk Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, di Ruang Rapat UAD, Yogyakarta, Senin (30/7/2018). Barang buktinya terdiri dari jaket, adaptor, aki, hingga pemancar sinyal.

Arsyad menyampaikan, panitia penyelenggara sebenarnya sudah membuat aturan ketat karena menggunakan sistem ujian berbasis komputer. Tetapi, masih ada saja pihak-pihak yang mau mencoba melakukan kecurangan. Mereka selalu mencoba mencari celah yang bisa dimanfaatkan untuk berbuat curang.

“Mereka ini cukup nekat juga. Mungkin, mereka merasa akan didiamkan saja oleh pengawas. Tetapi, pengawas sebenarnya juga sudah menandai peserta-peserta yang berusaha berbuat curang,” kata Arsyad.

Modus
Arsyad menjelaskan, cara joki membantu peserta ujian adalah dengan sama-sama turut serta dalam ujian tersebut. Joki selanjutnya mengerjakan soal ujian dan menuliskan jawabanannya di kertas untuk diberikan kepada peserta yang menyewanya. Tindakan joki itu terlihat mencurigakan karena mereka bisa mengerjakan soal begitu cepat.

“Dalam penyelenggaraan, kami akan berusaha untuk membuat ujian lebih ketat lagi. Ini untuk meminimalisasi tindak-tindak kecurangan seperti joki. Tindakan seperti itu tidak bisa dibenarkan,” kata Arsyad.–NINO CITRA ANUGRAHANTO

Editor GREGORIUS FINESSO

Sumber: Kompas, 22 Mei 2019

Share
%d blogger menyukai ini: