Turunan Varian Delta Bermunculan

- Editor

Sabtu, 2 Mei 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Varian Delta Plus dan varian baru lain SARS-CoV-2, virus korona penyebab Covid-19, terus ditemukan di Indonesia. Sejauh ini belum diketahui tingkat penularan varian baru tersebut di Indonesia.

Seiring dengan melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia, varian baru Covid-19 yang beredar di populasi terus bermunculan. Selain ditemukan varian AY.1 atau Delta Plus, juga ada varian lokal B.1.466.2 yang telah menjadi perhatian khusus dari Organisasi Kesehatan Dunia.

”Varian AY.1 atau B.1.617.2.1 merupakan turunan varian Delta atau B.1.617.2. Varian ini memang sudah ditemukan di Indonesia,” kata Kepala Pusat Genom Nasional Lembaga Eijkman Safarina G Malik, di Jakarta, Rabu (28/7/2021).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Safarina menjelaskan, mengacu pada data urutan total genom (whole genome sequencing/WGS) di Indonesia, varian AY.1 atau Delta Plus ini pertama kali diidentifikasi dari sampel di Mamuju, Sulawesi Barat, 15 Februari 2021.

”Tadinya sampel ini termasuk lineage (garis keturunan) lain, tetapi karena ada pemutakhiran dari Pangolearn (Phylogenetic Assignment of Named Global Outbreak Lineages) seiring data yang masuk lebih lengkap, lalu dimasukkan dalam AY.1. Varian ini juga ditemukan pada sampel dari Jambi pada 2 dan 9 April 2021,” katanya. Pangolearn merupakan mesin pintar untuk menandai garis keturunan.

Menurut Safarina, sejauh ini belum diketahui tingkat penularan varian ini di Indonesia. Namun, menurut laporan Indian SARS-CoV-2 Consortium on Genomics (Insagoc) atau konsorsium panel pemerintah yang terlibat dalam pengurutan genom Covid-19 di India, AY.1 dan AY.2 tidak lebih menular daripada Delta.

”Mereka juga terus berada di bawah 1 persen dalam urutan yang tersedia mulai Juni 2021 di India,” sebut Insagoc. Sementara Public Health England (PHE) menyebutkan, varian AY.1 memiliki mutasi K417N yang berada di protein spike (paku), yang berpotensi mempermudah virus menginfeksi tubuh manusia.

Data di cov-lineages.org, yang melacak keberadaan varian SARS-CoV-2, menunjukkan, varian AY.1 pertama kali diidentifikasi di dunia pada 15 Februari 2021 dan umumnya saat ini ditemukan di Amerika Serikat sebanyak 27 persen, Portugal 14 persen, Jepang 13 persen, Swiss 12 persen, dan Inggris 11 persen. Varian ini juga ditemukan di India, selain di Indonesia.

Varian Kappa
Selain AY.1, di Indonesia telah ditemukan turunan Delta lainnya, yaitu varian Kappa atau B.1.617.1. Varian Kappa ini ditemukan pada sampel di Januari 2021 di Sumatera Selatan dan Jakarta, kemudian ditemukan lagi pada April 2021.

Berdasarkan laporan dari Jejaring Surveilans Genom Indonesia, varian Delta makin mendominasi, sedangkan dua varian yang juga jadi perhatian, yaitu Alfa dan Beta, semakin menghilang. Data pada Juni menunjukkan, varian Delta ditemukan pada 699 sampel dibandingkan dengan hanya satu varian Alfa dan Beta tidak ditemukan.

Sementara pada Juli ini, varian Delta ditemukan pada 45 sampel, sedangkan Alfa dan Beta belum ditemukan. Temuan varian Alfa dan Beta paling banyak ditemukan pada sampel yang diambil pada Mei, yaitu 27 sampel, sebelum kemudian terus berkurang. ”Ini data sementara karena sampel bulan Juli memang belum banyak yang selesai analisis genomiknya,” kata Safarina.

Dari sebarannya, varian Delta terlihat makin menyebar luar di 23 provinsi. Selain diseluruh Pulau Jawa, varian ini juga ditemukan di Kalimantan, hampir seluruh Sumatera, termasuk di Papua ditemukan di 10 sampel, Nusa Tenggara Timur 41 sampel, serta Gorontalo dan Sulawesi Barat masing-masing 1 sampel.

Varian Indonesia
Safarina mengatakan, selain AY.1, saat ini ada varian garis keturunan atau lineage B.1.466.2 yang mendominasi di Indonesia. Sebelumnya juga ada B.1.470. Kedua varian ini juga kerap dikenal sebagai varian lokal, terutama karena terutama beredar di Indonesia.

”B.1.466.2 awalnya muncul pada November 2020, dan sebelumnya ada B.1.470 yang mulai muncul sejak April 2020,” katanya. Data di cov-lineages.org menyebutkan, B.1.466.2 ditemukan paling banyak di Indonesia, yaitu 78 persen, Singapura 7 persen, Malaysia 6 persen, sertavJepang dan Australia masing-masing 2 persen.

Safarina menambahkan, sejauh ini belum ada data rinci mengenai karakter dan kemampuan penularan B.1.466.2. ”Namun, WHO sudah menaruh perhatian khusus dan memberi peringatan untuk memberikan perhatian lebih lanjut,” ujarnya.

Dosen Pascasarjana Program Magister Biomedik Universitas Yarsi, Ahmad Rusdan Utomo, memaparkan, varian baru akan terus muncul selama tingkat penularan kasus Covid-19 sangat tinggi. ”Selama masih banyak yang berkerumun, varian akan kerap muncul, terutama ketika si virus menemukan inang yang mengalami imunokompromi,” katanya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 28 Juli 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB