Home / Berita / Kasus Menurun, Varian Baru Semakin Banyak Ditemukan

Kasus Menurun, Varian Baru Semakin Banyak Ditemukan

Tersebarnya varian baru B.1.1.7 di sejumlah daerah di Indonesia menuntut kewaspadaan tinggi. Apalagi kasus Covid-19 secara global kembali meningkat meski vaksinasi telah dilaksanakan di banyak negara.

Kasus Covid-19 yang sebelumnya menurun secara global kembali meningkat seiring dengan dominasi sejumlah varian baru di beberapa negara. Sekalipun kasus di Indonesia cenderung menurun, tersebarnya varian baru B.1.1.7 di komunitas menuntut kewaspadaan lebih tinggi.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, di Jakarta, Selasa (16/3/2021), mengatakan, temuan varian baru B.1.1.7 di Indonesia kembali bertambah. ”Ada penambahan satu kasus, warga Bogor, Jawa Barat,” ujarnya.

Menurut Siti, pasien dengan sampel B.1.1.7 ini memiliki riwayat perjalanan dari Ghana. Seluruh kontak erat pasien ini sudah diambil spesimennya. Dengan penambahan ini, setidaknya telah ditemukan tujuh kasus dengan varian baru yang pertama kali diidentifikasi di Inggris ini. Sebelumnya, telah dilaporkan enam sampel yang mengandung varian B.1.1.7.

Tiga spesimen diambil dari pekerja migran yang baru pulang dari Arab Saudi, masing-masing dua warga Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dan satu lagi dari Kalimantan Timur. Sementara tiga sampel lainnya diambil dari pasien di rumah sakit yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri, yaitu dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Berdasarkan laporan Satuan Tugas Penanganan Covid-19, jumlah kasus di Indonesia bertambah 5.414 orang dalam sehari dan korban jiwa bertambah 180 orang. Total kasus menjadi 1.430.458 dan total korban meninggal 38.753 jiwa.

Epidemiolog Indonesia di Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan, penurunan kasus di Indonesia terjadi seiring dengan penurunan jumlah tes sehingga belum bisa dimaknai bahwa wabah terkendali. ”Strategi tes kita juga belum tepat dan belum memadai, antara lain, jumlah orang yang masuk dalam kategori kontak banyak yang belum bisa ditemukan,” katanya.

Menurut Dicky, penurunan kasus dan rawat inap harus dilihat dengan hati-hati karena perilaku masyarakat di Indonesia yang cenderung menunda ke rumah sakit hingga kondisi kritis. ”Perlu dikhawatirkan ada lonjakan lagi tingkat keparahan dan perawatan, terutama dengan penyebaran varian baru dari Inggris di Indonesia dan kemungkinan juga varian lainnya,” tuturnya.

Gelombang baru
Menurut Dicky, kemunculan berbagai varian baru saat ini menjadi penyebab kembali meningkatnya gelombang Covid-19 secara global. Selain lebih menular, varian B.1.1.7 juga lebih mematikan. Sementara varian P.1 dari Brasil dan B.1.135 dari Afrika Selatan bisa menurunkan efektivitas vaksin.

”Kabar baiknya, varian baru itu sendiri tidak kebal terhadap strategi tes, lacak, dan isolasi, selain juga terhadap konsistensi perubahan perilaku yang taat protokol kesehatan,” ungkapnya.

Kajian terbaru peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, Nicholas G Davies, yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 15 Maret 2021 menyebutkan, varian B.1.1.7 tidak hanya mudah menular dibandingkan dengan varian SARS-CoV-2 yang ada, tetapi juga dapat menyebabkan penyakit lebih parah. Risiko kematian akibat varian baru ini 61 persen lebih tinggi dari varian sebelumnya.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, kasus Covid-19 global meningkat, termasuk Eropa yang telah menyuntikkan vaksin. Penghitungan terakhir, penambahan kasus menjadi 490.000 per hari, padahal pertengahan Februari 2021 penambahan kasus pernah 304.000 per hari.

Tingkat infeksi di Uni Eropa saat ini berada pada level tertinggi sejak awal Februari 2021 dan beberapa negara bersiap memberlakukan tindakan penguncian baru yang ketat.

Italia akan memberlakukan kembali pembatasan di sebagian besar negara pekan depan setelah mengalami penambahan 27.000 kasus harian baru dan 380 kematian. Lonjakan kasus juga tercatat di Perancis yang mencatat lebih dari 26.000 kasus baru pada akhir pekan lalu.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 17 Maret 2021

Share
%d blogger menyukai ini: