Home / Berita / Transmisi Lokal Varian Baru Covid-19 Berpotensi Jadi Bom Waktu

Transmisi Lokal Varian Baru Covid-19 Berpotensi Jadi Bom Waktu

Terdeteksinya varian baru virus penyebab Covid-19 di Indonesia beserta transmisi lokalnya agar jadi perhatian khusus. Pengawasan dan pelacakan perlu ditingkatkan.

Tiga varian baru SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19 dari Inggris, Afrika Selatan, dan India diduga sudah mengalami transmisi lokal. Hal ini ditandai dengan adanya warga Indonesia yang positif terinfeksi tiga varian baru ini, padahal mereka tidak memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, dalam pertemuan pers secara daring, Selasa (4/5/2021) mengatakan, pasien warga negara Indonesia dari Bali yang terinfeksi varian B.1.351 dari Afrika Selatan diambil sampelnya pada 25 Januari 2021 dan meninggal dunia pada 16 Februari.

“Pasien yang tertular varian B.1.351 merupakan pekerja wisata tidak pernah melakukan perjalanan dari luar negeri. Tetapi, dia banyak berhubungan dengan WNA (warga negara asing),” kata Nadia.

Spesimen yang mengandung varian baru dari Afrika Selatan ini awalnya diambil di rumah sakit dengan kondisi pasien mengalami gejala berat dan dirawat di unit gawat darurat (ICU). Riwayat kontaknya, kata Nadia, memang ada yang positif satu orang, tetapi tidak sampai menimbulkan kematian. Saat ini masih ditelusuri lebih lanjut kontaknya.

Menurut Nadia, tenaga kesehatan yang tertular varian dari India ini sudah mendapatkan vaksin. “Walaupun tetap tertular varian dari India ini, gejalanya ringan dan cukup isolasi mandiri. Anak dan suaminya juga isolasi mandiri,” kata dia.

Selain itu, satu warga negara India yang diambil sampelnya pada 22 April juga dipastikan tertular varian baru. Hingga saat ini pasien masih dirawat di RSPI Sulianti Saroso dengan kondisi stabil. “Dia merupakan bagian dari rombongan warga India yang datang beramai-ramai pada tanggal 10, 22, dan 23 April,” kata Nadia.

Untuk varian B.1.1.7 dari Inggris ditemukan 13 kasus di enam provinsi, yaitu empat kasus di Karawang (Jawa Barat/Jabar), masing-masing 1 kasus di Tapin (Kalimantan Selatan), Kota Balikpapan (Kalimantan Timur), Palembang (Sumatera Selatan), Kota Medan dan Kota Tanjung Balai (Sumatera Utara), dan Kota Bogor (Jabar), serta tiga kasus tak disebutkan lokasinya.

“Di Karawang diduga sudah terjadi transmisi lokal,” kata Nadia. Dua kasus dari pekerja migran Indonesia yang baru pulang dari Arab Saudi, satu orang dari penelusuran kontak dan satu kasus dari spesimen di laboratorium.

Peneliti genomik molekuler dari Aligning Bioinformatics dan anggota konsorsium Covid-19 Genomics UK, Riza Arief Putranto mengatakan, transmisi lokal terjadi jika pasien yang tertular varian baru ini tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri atau bertemu orang yang punya riwayat perjalanan dari luar negeri.

“Kalau melihat riwayat datanya, B.1.1.7 dan B.1.351 sudah masuk ke Indonesia sejak Januari 2021,” kata dia.

Menurut Riza, masuknya varian baru ini perlu jadi perhatian karena bisa lebih menular dan berisiko meningkatkan keparahan. Keterlambatan mengantisipasi sebaran varian baru menjadi salah satu penyebab ledakan kasus di India.

Riza menambahkan, perhatian terutama juga perlu diberikan terhadap varian B.1.351 dari Afrika Selatan yang menurut sejumlah kajian bisa menurunkan efektifitas vaksin. Misalnya, kajian oleh peneliti dari Beijing Institute of Microbiology and Epidemiology, China, Guo-Lin Wang dan tim di New England Journal of Medicine (NEJM) pada 7 April menyebutkan, vaksin Covid-19 buatan Sinopharm dan Sinovac mengalami sedikit penurunan efektivitasnya melawan B.1.1.7 dan secara signifikan kehilangan efektivitas terhadap B.1.351. Berbagai vaksin lain seperti Pfizer, Moderna, dan AstraZeneca juga mengalami penurunan efektivitas terhadap varian ini.

Bom waktu
Epidemiolog Indonesia di Griffith University Dicky Budiman mengatakan, terjadinya transmisi lokal sejumlah varian baru di Indonesia merupakan konsekuensi dari longgarnya pintu masuk perbatasan. “Indonesia termasuk negara yang tidak menutup perbatasan secara ketat. Karantina yang dilakukan juga relatif longgar, hanya lima haris dari yang seharusnya minimal 14 hari. Apalagi belakangan ada kasus pelaku perjalanan yang dibebaskan dengan membayar oknum,” kata dia.

Dengan adanya transmisi lokal ini, menurut Dicky, diperlukan penguatan pelacakan untuk mencegah penyebaran lebih luas. “Selama ini pelacakan kluster penularan kita tidak pernah tuntas,” kata dia.

Menurut Dicky, kluster Covid-19 yang tidak terindentifikasi atau tidak tuntas dilacak untuk kemudian dikarantina atau dirawat, bisa menjadi bom waktu ledakan kasus. “Keterlambatan pelacakan akan menyebabkan penularan terus terjadi dan meluas di komunitas,” kata dia.

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Iwan Ariawan mengatakan, berdasarkan evaluasi Inter Action Review atas beberapa indikator yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam penanganan Covid-19 yang terbaru, kemampuan lacak kita ternyata tidak membaik. “Pelacakan kontak erat kita masih 1:4 hingga 1:5, tidak jauh beda dengan tahun lalu,” kata dia.

Iwan mengatakan, pelibatan aparat keamanan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas tidak efektif dalam pecakan kasus Covid-19. “Masyarakat malah takut dan menghindar. Lebih baik memperkuat tenaga kesehatan masyarakat di Puskesmas dan Posyandu,” kata dia.

Kematian tinggi
Siti Nadia mengingatkan, dengan masuknya sejumlah varian baru ini, masyarakat diminta tidak mengendorkan protokol kesehatan dan menaati larangan pemerintah untuk tidak melakukan mudik selama Hari Raya Idul Fitri. Apalagi, menurut dia, dalam beberapa minggu terakhir, angka kematian terkait Covid-19 cenderung meningkat, padahal jumlah kasus relatif stagnan.

“Hari ini angka kematian meningkat 3,16 persen. Kalau kasus stabil dan kematian meningkat, ini kemungkinan terjadinya pemburukan yang cepat. Mutasi ini diketahui bisa meningkatkan keparahan penyakit Covid-19. Angka kematian yang terus meningkat ini menjadi kewaspadaan kita,” kata dia.

Selain kematian Covid-19, Nadia juga menyebut keterpakaian rumah sakit rujukan Covid-19 cenderung stabil bahkan meningkat sejak April 2021. Padahal, pada Februari hingga Maret 2021, keterpakaian rumah sakit rujukan Covid-19 sudah menurun.

“Minggu lalu misalnya, RS Hasan Sadikin di Bandung dan beberapa rumah sakit lain di Jawa Barat mengalami peningkatan kasus hampir 30-40 persen,” kata dia.

Data Kemenkes pada Selasa, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia bertambah 4.369 orang sehingga total menjadi 1.686.373 kasus. Sedangkan korban jiwa bertambah 188 orang sehingga total menjadi 46.137 orang. Sedangkan total kasus aktif di Indonesia mencapai 99.087 orang.

Menurut Nadia, ada sejumlah provinsi yang mengalami kenaikan kasus aktif secara signifikan sejak dua pekan terakhir. Kepulauan Riau mengalami kenaikan tertinggi, yaitu mencapai 183,9 persen, disusul Riau 131,7 persen, Lampung 100,8 persen, Kepulauan Banga Belitung 99,5 persen, Bengkulu 94,9 persen, Sumatera Barat 62,9 persen, dan Kalimantan Barat 59,9 persen. Sedangkan Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, dan Jambi mengalami peningkatan sekitar 15 persen.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 5 Mei 2021

Share
%d blogger menyukai ini: