Home / Berita / Tsunami di Teluk Palu Bisa dari Sejumlah Lokasi Longsor

Tsunami di Teluk Palu Bisa dari Sejumlah Lokasi Longsor

Tsunami yang terjadi di Teluk Palu setelah gempa 28 September 2018 memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan lazimnya sehingga menarik perhatian para peneliti dari dalam dan luar dunia. Selain waktu tiba tsunami yang sangat cepat setelah gempa, sumbernya diketahui dari sejumlah arah sehingga menuntut mitigasi yang berbeda.

?Sejumlah survei awal yang dilakukan para ahli menemukan adanya bukti-bukti longsoran bawah laut di dalam Teluk Palu. Sejumlah longsoran ini terjadi di perbukitan yang menerus hingga di dalam laut, selain juga terjadi karena ambruknya daratan di bekas reklamasi maupun di muara-muara sungai. Pantai yang curam dan kedalaman Teluk Palu menyebabkan tingginya kerentanan longsor ini.

?“Kami menemukan setidaknya tujuh longsoran ke dalam laut yang diduga kuat menjadi sumber dari tsunami lokal di Teluk Palu,” kata Purna S Putra, peneliti geologi dan paleotsunami dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Palu, Minggu (11/11/2018).

Selama sepekan terakhir, Purna melakukan survei dengan sepuluh peneliti dari Eropa. Survei juga diikuti tim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Kementerian Koordinator Maritim (Kemenkomar).

?Dari survei tersebut ditemukan setidaknya tujuh titik longsor yang teramati di sisi timur maupun barat Teluk Palu, mulai dari wilayah Kota Palu hingga Kabupaten Donggala. Beberapa lokasi longsor tersebut yaitu tiga lokasi di Wani, Labuan, Watusampu, Loli, dan Tasiburi.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Daratan bekas reklamasi di daerah Penggaraman, Kota Palu yang amblas ke laut setelah gempa dan tsunami. Amblas ya tanah reklamasi ini menyingkap keberadaan bekas dermaga lama yang dibangun di zaman penjajahan Belanda yang kemudian diuruk dan ditutup jalan sejak tahun 1980-an, seperti terlihat Minggu (11/11/2018).

?Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa arah datangnya tsunami berasal dari lokasi-lokasi longsor yang menerus ke bawah laut. Banyaknya sumber longsor ini yang menyebabkan arah datang tsunami dari sejumlah jurusan. “Saat ini kami masih menghitung volume material yang longsor, apakah memang bisa memicu tsunami. Nanti akan dibuat pemodelannya,” kata Purna.

?Adanya longsoran bawah laut ini juga ditemukan dari survei batimetri oleh para ilmuwan yang tergabung dalam Operasi Bakti Teknologi Sulawesi Tengah yang membawa Kapal Baruna Jaya 1-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Mereka melakukan pemetaan bawah laut di Teluk Palu dan sebagian Selat Makassar dengan menggunakan Multi-Beam Echo Sounder (MBES) serta observasi visual bawah laut menggunakan Remote Operating Vehicle (ROV).

?Tim survei yang dipimpin perekayasa BPPT Udrekh ini menemukan, kedalaman dasar Teluk Palu berkisar 50 – 800 meter (m), sedangkan kedalaman di sebagian Selat Makassar yang dipetakan berkisar 310 – 1760 m. Didalam Teluk Palu ditemukan sistem sungai bawah laut. Selain itu terpetakan juga sistem pengendapan kipas bawah laut yang terletak pada tebing sisi timur Teluk Palu.

?Menurut Udrekh, di dalam Teluk Palu juga ditemukan beberapa lokasi terjadinya longsoran bawah laut. Sekalipun demikian, dia belum bisa memastikanapakah longsoran tersebut terjadi akibat gempa 28 September lalu atau sebelumnya. Sementara itu, pantauan dengan ROV tidak menghasilkan video dasar laut karena permasalahan pada geopositioning yang menyulitkan operator untuk menentukan arah kemudi.

Implikasi pada Mitigasi
?Peneliti tsunami yang juga Asisten Deputi Infrastruktur Pelayaran, Perikanan dan Pariwisata, Kemenkomar, Rahman Hidayat mengatakan, jejak tsunami kebanyakan ditemukan di pesisir di dalam Teluk Palu, namun tidak ditemukan secara signifikan di luar teluk. Ini menandai bahwa tsunami yang terjadi berasal dari dalam teluk sendiri. “Kami tidak menemui jejak tsunami di Ujung Karang, di titik terluar Teluk Palu,” kata dia.

?Peneliti tsunami BPPT Widjo Kongko, yang turut dalam survei Operasi Bakti Teknologi Sulawesi Tengah mengatakan, tinggi tsunami maksimum di Teluk palu mencapai 7 m dan rambatan di daratan (runup) hingga 9 m. “Kalau dari gempanya saja, tinggi tsunaminya akan kecil, apalagi mekanismenya sesar geser. Jadi memang ada sumber lain dan bukti-bukti memang mengarah pada longsoran bawah laut,” kata dia.

?Tsunami dari longsor lebih sulit dimitigasi ketinggian maupun waktu tibanya. Kalau volume longsornya besar dan sumbernya lebih dekat daratan, waktu tibanya akan lebih cepat dan tsunaminya juga bisa lebih tinggi. “Jadi, untuk tsunami belum bisa dikatakan kali ini yang terparah,” kata dia.

?Widjo Kongko juga mengatakan, dengan karakter tsunami di Teluk Palu yang bersifat lokal dan datang ke pesisir rata-rata tiga menit setelah gempa, sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS) menjadi tidak efektif. Ini karena peringatan dini tsunami baru bisa dikeluarkan BMKG rata-rata enam menit setelah gempa. “Untuk pesisir Teluk Palu memang harusnya evakuasi mandiri, tanpa menunggu peringatan dini. Begitu gempa kuat, masyarakat harus mengungsi ke tempat tinggi,” kata dia.

?Namun demikian, menurut Widjo, selain sumber tsunami yang berasal dari dalam Teluk Palu sendiri, yang diakibatkan oleh gempa dari zona subduksi yang berada di antara Pulau Sulawesi dengan Kepulauan Filipina. Jika gempa berasal dari zona ini, waktu tiba tsunami ke Teluk Palu bisa lebih lama.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 12 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antarktika 90 Juta Tahun Lalu Berupa Hutan Hujan Beriklim Sedang

Pada 90 juta tahun lalu, benua Antarktika masih berupa hutan hujan beriklim sedang. Kini, Antarktika ...

%d blogger menyukai ini: