Home / Berita / Gempa Sulteng Memberi Pelajaran Penting untuk Mitigasi

Gempa Sulteng Memberi Pelajaran Penting untuk Mitigasi

Gempa bumi yang melanda Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 memberi pelajaran penting dari aspek ilmu pengetahuan maupun sosial yang bisa jadi dasar bagi mitigasi ke depan. Tingkat kerusakan dan korban di pusat gempa ini cenderung lebih kecil karena anomali tsunami lebih berdampak ke dalam Teluk Palu dan juga respon masyarakat yang segera menjauh dari pantai.Dari pengamatan lapangan pada Selasa (13/11/2018), dampak tsunami semakin mengecil ke arah pantai barat Donggala. Di Kecamatan Sirenja, yang menjadi pusat gempa pada 28 September 2018, kerusakan bangunan juga tidak semasif dibandingkan di Kota Palu dan Kabupaten Sigi.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Kondisi Desa Tanjung Padang, Kecamatan Sirenja yang terdampak gempa M 7,4 pada 28 September 2018, seperti terlihat Selasa (13/11). Daerah ini berada di dekat pusat gempa, namun kerusakannya akibat tsunami relatif kecil dibandingkan di Teluk Palu. Kerusakan di Sirenja lebih disebabkan gempa dan penurunan daratan yang menyebabkan banjir rob saat pasang.

?Menurut survei yang dilakukan peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko dan tim, yang tergabung dalam Operasi Bakti Teknologi Sulawesi Tengah, tinggi tsunami yang mencapai di atas 3 meter kebanyakan terjadi di dalam Teluk Palu. Misalnya, sekitar Watusampu, Kota Palu, tinggi tsunami mencapai 7 meter dan rambatan di daratan (runup) hingga 9 meter.

Tinggi tsunami yang mencapai di atas 3 meter kebanyakan terjadi di dalam Teluk Palu.

?Sedangkan di pantai barat Donggala, misalnya di Boneoge, Kecamatan Benawa hingga Enue, Kecamatan Sindhue tinggi air tsunami berkisar 1,3 meter. Sedangkan di Desa Labean, Kecamatan Balaiesang, yang berada di luar Teluk Palu, menurut peneliti tsunami Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Yudhicara, justru tidak terdampak tsunami.

“Kawasan Labean hanya mengalami dampak gempa bumi,” kata dia. Dalam gempa kali ini, di Labean tidak ada korban jiwa, namun dua orang mengalami luka-luka karena tertimpa bangunan yang rusak akibat gempa bumi.

?Menurut Widjo, survei menunjukkan, tsunami dalam teluk lebih besar dan mengecil hingga ke luar mulut teluk. “Fenomena ini bisa disebabkan karena longsoran bawah laut atau juga adanya amplifikasi teluk jikalau melihat dari gempa saja. Saat ini masih dikaji mana penyebab dominannya,” kata Widjo.

?Wijdo menambahkan, sekalipun gempa kali ini dipicu oleh sesar mendatar, namun ditemukan adanya deformasi yang teramati di daratan secara vertikal sekitar 1-2 meter dan secara hirozontal hingga 5 meter. Defromasi ini juga terjadi di dasar Teluk Palu.

“Teluk Palu itu ukurannya 7 x 30 kilometer, tapi kedalamannya mencapai 700 kilometer. Dengan kedalaman itu, volume massa air yang dipindahkan cukup besar di teluk yang relatif sempit. Perhitungan saya, tsunami yang dipicu dari gempa saja bisa lebih dari 2 meter,” kata dia.

??Respon masyarakat
?Informasi dari Aspar (37), warga Desa Tanjung Padang, Kecamatan Sirenja mengatakan, masyarakat di kampung rata-rata sudah mengungsi saat gempa bumi M 5,9 terjadi sekitar pukul 14.59 Wita.

“Saat gempa pertama itu saya di laut, saat kembali ke pantai setengah jam kemudian saya melihat tanggul pantai sudah roboh, juga beberapa rumah. Saat itu kampung sudah sepi karena sudah pada mengungsi,” kata dia.

Warga Desa Tanjung Padang, Kecamatan Sirenja mengatakan, masyarakat di kampung rata-rata sudah mengungsi saat gempa bumi M 5,9 terjadi sekitar pukul 14.59 Wita.

?Ketika gempa M 7,4 terjadi pukul 18.02 Wita, Aspar berada di tepi pantai. Dia merasakan pasir bergelombang dan becek sehingga kakinya tenggelam sekitar 10 sentimeter (cm). Dia menyaksikan adanya semburan lumpur di dekat dermaga yang berbarengan dengan suara letusan.

“Tak lama kemudian saya lihat ombak tinggi datang sehingga lari menjauh. Untung ombaknya tidak terlalu jauh ke darat,” kata dia.

?Seperti tercatat dalam survei Widjo, tinggi tsunami di kawasan Sirenja hanya sekitar 1 meter. Namun, setelah gempa itu tanah di Desa Tanjung Padang turun hingga satu meteran, sehingga ini setiap pasang terendam air laut.

?Seperti di Tanjung Padang, masyarakat di Desa Labean sebagian besar juga sudah mengungsi ke tempat tinggi saat terjadi gempa bumi M 5,9 terjadi. “Begitu gempa sore itu, saya ungsikan tujuh anak saya ke bukit. Kami pernah beberapa kali ada kegiatan simulasi bencana karena memang kampung kami terdampak paling parah saat tsunami 1968,” kata Arat (45), warga Labean.

Begitu gempa sore itu, saya ungsikan tujuh anak saya ke bukit. Kami pernah beberapa kali ada kegiatan simulasi bencana karena memang kampung kami terdampak paling parah saat tsunami 1968.

?Daesitiah (82) warga Labean merupakan saksi mata tsunami 1968. “Saat gempa saya di sawah habis memanen padi bersama suami dan anak-anak,” kata dia.

“Gempa tahun 1968 tidak sekeras yang sekarang, tapi saat itu air laut naik sampai jauh. Rumah-rumah hancur, sawah-sawah rusak. Banyak orang mati karena banyak ornag cari ikan di pantai setelah ombak surut,” kata Daesitiah.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Daesitiah (82), saksi mata tsunami 1968 dari Desa Labean, Kecamatan Balaiesang, Kabupaten Donggala. Kompas/Ahmad Arif

?Kejadian tsunami di Labean tahun 1968 ini melahirkan istilah dalam bahasa Mandar lembo talu atau tiga pukulan gelombang. Di Palu, ini dikenal dengan bomba talu dengan makna yang serupa. “Tsunami yang tinggi saat itu memang yang ketiga,” kata dia.

?Daesitiah menambahkan, sebelum tsunami 1968, sebenarnya kejadian serupa juga pernah terjadi, sebagaimana dituturkan almarhum kakeknya. “Saat kecil orangtua kami dulu bilang, Labean awalnya bernama Vuntuna, karena pernah terjadi bencana gempa dan laut naik yang menyebabkan banyak orang tubuhnya vuntu–vuntu (terpenggal),” kata dia.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 14 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...