Home / Berita / Misteri Tsunami Palu Didiskusikan di Amerika

Misteri Tsunami Palu Didiskusikan di Amerika

Tsunami di Teluk Palu menjadi bahasan utama dalam pertemuan ilmiah American Geophysical Union. Selain karena waktu tibanya di pantai yang sangat cepat, mekanismenya masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Tsunami yang melanda Teluk Palu, Sulawesi Tengah dianggap sangat unik karena didahului gempa dengan mekanisme strike-slipe atau pergeseran dua bidang patahan secara horizontal. Gempa dengan mekanisme ini umumnya tidak memicu tsunami besar, tetapi di Palu ternyata yang gelombangnya tergolong tinggi dan merusak. Tsunami besar, seperti terjadi Aceh tahun 2004 atau Pangandaran 2006 dipicu gempa dengan mekanisme sesar naik.

“Survei batimetri yang kami lakukan membuktikan adanya penurunan di dasar laut setelah gempa. Temuan ini salah satu yang kami presentasikan di AGU (American Geophysical Union) kemarin (Kamis),” kata Udrekh, perekayasa teknologi kebencanaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), melalui sambungan telepon dari Amerika Serikat, Jumat (14/12/2018).

–Perubahan batimetri Teluk Palu sebelum dan sesudah gempa 28 September 2018. Sumber: Udrekh dan tim, 2018

Udrekh memimpin tim para peneliti Indonesia, yang melakukan survei batimetri di Teluk Palu dengan Kapal Baruna Jaya BPPT sesaat setelah tsunami. Dengan membandingkan batimetri setelah gempa dengan sebelumnya, ditemukan bahwa dasar laut Teluk Palu mengalami penurunan, selain adanya pergeseran ke arah utara.

“Ini menunjukkan adanya pergeseran secara vertikal dan horizontal,” kata dia.

Tujuh peneliti Indonesia memaparkan hasil kajian mereka terkait gempa dan tsunami Palu di forum ilmiah ini. Selain dari BPPT, yang turut serta adalah peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Ditunggu
Peneliti tsunami BPPT Widjo Kongko mengatakan, pergeseran di dasar laut ini kemungkinan memiliki kemenerusan dengan yang ditemukan di daratan. “Survei tim di darat menemukan adanya pergeseran tanah di Kota Palu sekitar 6 meter. Sedangkan pergeseran vertikal ada yang turun dan naik, mencapai 1 sampai 2 meter,” kata dia.

Menurut Widjo, pemaparan data-data terbaru dari para peneliti Indonesia ini ditunggu oleh para ilmuwan tsunami dari berbagai negara. “Bukan hanya untuk Indonesia, kajian tentang mekanisme Palu ini juga dibutuhkan secara global karena fenomena ini sangat langka dan bisa terjadi juga di tempat lain,” kata Widjo Kongko, peneliti tsunami BPPT yang juga turut dalam forum ini.

–Peneliti BPPT Udrekh, menyampaikan hasil survei tentang tsunami Pallu di forum ilmiah AGU (American Geophysical Union). Sumber: dokumentasi BPPT

“Berikutnya, kami akan memodelkan berdasarkan sejumlah skenario, salah satunya dari dugaan mekanisme akibat pergeseran di bawah laut ini. Memang belum final, tetapi ini menjadi salah satu kandidat yang kuat untuk memahami mekanisme tsunami di Teluk Palu,” kata Widjo.

Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia Gegar Prasetya, yang juga turut dalam pertemuan ini menambahkan, selain mekanisme yang adanya penurunan dasar laut, sebagian ilmuwan berpendapat bahwa tsunami Palu lebih disebabkan oleh longsor bawah laut.

“Survei kami menemukan adanya sejumlah lokasi longsor bawah laut. Namun masih ada yang meragukan karena kontribusi longsor biasanya bersifat lokal. Sampai sekarang belum ada konsesus, tetapi yang pasti, semua sepakat, diperlukan survei seismic untuk mengetahui karakteristik patahan Palu -Koro di dalam Teluk Palu,” kata dia.

Gegar menambahkan, dengan belum bulatnya para ahli tentang mekanisme tsunami di Teluk Palu, upaya mitigasinya ke depan juga belum bisa ditentukan dengan pasti. Oleh karena itu, dia menyarankan pemerintah tidak terburu-buru menentukan rancangan dan penataan kawasan pesisir Teluk Palu, terutama dengan rencana pembangunan tanggul laut yang akan dibiayai dari hutang.

“Kalau bisa beri dulu kesempatan ilmuwan di Indonesia untuk bekerja memahami mekanismenya. Jangan buru-buru dengan pendekatan proyek. Keterlibatan kita di forum AGU ini menjadi bukti bahwa para peneliti Indonesia dihargai dan di dengar di forum internasional, jangan sampai justru pembangunan kembali Sulawesi Tengah mengabaikan aspek saintifik ini,” kata Gegar.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 15 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: