Home / Berita / Transformasi Digital Perlu Diimbangi Kecukupan Literasi Informasi

Transformasi Digital Perlu Diimbangi Kecukupan Literasi Informasi

Transformasi industri perbukuan ke digital tidak mudah diterapkan. Tantangan utama terletak pada kemampuan literasi informasi masyarakat.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Penjual buku, Nusantara memperlihatkan buku-buku miliknya yang dijual secara daring di sentra buku bekas Kampung Ilmu, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (16/4/2020). Sejak Pandemi Covid-19 melanda dan membuat institusi pendikan di semua tingkatan diliburkan menyebabkan penjualan menurun dan penjual kini beralih memasarkan buku dagangannya secara daring.

Pembatasan sosial karena pandemi Covid-19 mendorong transformasi industri perbukuan ke format digital semakin cepat dilakukan. Namun, situasi itu belum diimbangi dengan kecukupan literasi informasi masyarakat.

Founder Yayasan Litara Sofie Dewayani saat dihubungi Jumat (24/4/2020), di Jakarta, menjelaskan, literasi informasi adalah kemampuan memilah, mengevaluasi konten dan format penyajian informasi dalam bacaan. Dia mengamati, kebanyakan warga cenderung ingin membagi informasi yang penting bagi dirinya tanpa melihat manfaatnya bagi orang lain.

“Dunia media digital di Indonesia masih sebatas dipakai untuk kepentingan kenikmatan, bukan belajar ataupun membaca kritis. Pasar buku digital bisa terbentuk dengan kebijakan penegakan hukum (enforcement policy), tetapi ketidaksiapan budaya, termasuk literasi informasi, bisa menimbulkan masalah,” ujar dia.

Untuk dunia pendidikan, lanjut Sofie, metode pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring) dianggap seolah-olah satu-satunya upaya transfer pengetahuan di tengah pembatasan sosial. Padahal, ada metode tradisional bisa dipakai, seperti pengiriman via pos dan pengambilan materi cetak. Negara-negara maju masih menerapkan metode tersebut. Sayangnya, di Indonesia, sebagian besar masyarakat lebih dulu paranoid terhadap metode tradisional.

Menurut dia, paranoia seperti itu menunjukkan rendahnya literasi. Ada prosedur untuk meminimalkan risiko penyebaran virus tetapi kurang populer.

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN—Daftar penerbit buku asal Indonesia yang ikut serta dalam Frankfurt Book Fair 2019

Buku digital belum ideal
Buku pendidikan format digital saat ini baru berfungsi sebagai “perlengkapan darurat”, bukan sebagai media yang bisa dipakai untuk jangka panjang. Di beberapa negara maju, bahkan, buku pendidikan format digital belum dianggap ideal.

“Cara membaca buku digital beda. Ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa memori dan pemahaman bekerja menjadi berbeda ketika membaca di platform digital. Sampai saat ini, sifat keberadaan buku digital baru melengkapi,” kata Sofie.

Ketua Perkumpulan Literasi Indonesia Wien Muldian saat dihubungi terpisah, mengatakan, anak-anak generasi Y dan Z cenderung menyukai media pembelajaran yang interaktif. Artinya, gaya belajar mereka lebih banyak bersifat audiovisual bukan teks. Sebagai gambaran, anak-anak usia sekolah sekarang mencari informasi dimulai dari YouTube, lalu mencari menggunakan mesin pencari, baru teks melalui buku. Buku dipakai untuk memperdalam informasi.

Untuk kategori buku pendidikan, dia menyebut realitas sosial seperti itu memberi tantangan bagi penerbit. Sejauh mana penerbit buku pendidikan berani menjadikan digital sebagai peluang baru.

Sementara kategori buku penunjang pendidikan, Wien mengatakan, sudah ada beberapa penerbit menggarap peluang digital. Misalnya, penerbit Mizan pernah mengeluarkan buku panduan sholat dilengkapi dengan teknologi realitas virtual (VR).

Adapun di kategori buku umum, beberapa penerbit besar terutama di luar negeri mulai membina komunitas pembaca yang dimiliki penulis andalan mereka. Hal ini bertujuan untuk menyiasati perubahan karena adanya teknologi digital.

“Tantangan bagi penerbit adalah jangan sampai memaknai transformasi digital sebatas memindahkan teks buku fisik ke teks di medium digital. Kebiasaan masyarakat, terutama anak muda, menyukai audiovisual,” imbuh Wien.

Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat Rosidayanti Rosalina saat dihubungi Kamis (23/4/2020), di Jakarta, menceritakan, sejumlah penerbit bekerja sama dengan platform distribusi buku secara daring untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sebagai contoh, melalui platform PesonaEdu.id, sekitar 17 penerbit berpartisipasi menyediakan buku digital interaktif. Aksesnya pun digratiskan selama satu bulan.

Sebelum ada pembatasan sosial karena pandemi Covid-19, sejumlah penerbit anggota Ikapi sudah berbisnis buku format digital ataupun berjualan buku fisik di toko daring. Namun, perolehan bisnis tersebut belum berkontribusi besar.

Berdasarkan hasil survei Ikapi terhadap 100 orang perusahaan anggota, terdapat 40,8 persen penerbit telah menerbitkan buku dalam versi digital, sedangkan 59,2 persen masih konsentrasi pada buku konvensional. Sebagian besar penerbit yang disurvei mengaku omzet penjualan buku versi digital berkisar 10 persen.

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) M Ramli Rahim membenarkan, sudah ada sejumlah penerbit buku pendidikan menerbitkan buku versi digital selama PJJ. Situasi tersebut membantu kegiatan belajar-mengajar menjadi semakin efektif dan efisien. Dia menyadari, belum semua guru cepat beradaptasi dengan PJJ, termasuk menerapkan metode daring secara utuh dan memakai buku versi digital.

Riset Central Connecticut State University, Amerika Serikat, yang dirilis Maret 2016, menyebutkan, Indonesia menempati posisi kedua terbawah dari 61 negara dalam hal literasi. Indonesia berada satu tingkat di bawah Thailand dan satu tingkat di atas Bostwana. Malaysia berada pada peringkat ke-53.

Oleh MEDIANA

Editor ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 24 April 2020

Share
x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: