Home / Berita / Tragedi Berulang di Kaldera Toba

Tragedi Berulang di Kaldera Toba

Sejak 1968 paling tidak tujuh kali kapal tenggelam di Danau Toba dengan korban ratusan jiwa, sebagian terbesar tenggelam dan tidak ditemukan. Karakteristik arus air danau ini yang cukup tenang membuat korban akan relatif vertikal menuju kedalaman.

Danau Toba yang menawan menyimpan jejak tragedi mematikan. Sebagai danau vulkanik terbesar di dunia dengan titik terdalam mencapai 508 meter, dinamika arus dan cuaca di kawasan ini patut diwaspadai, namun terutama kualitas kapal angkutan yang mesti diperbaiki. Berulang kali kapal yang berlebih muatan tenggelam di danau ini dengan korban puluhan jiwa.

Tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, Senin sore, 18 Juni 2018, mengingatkan pada tragedi tenggelamnya KM Peldatari I di perairan Tomok, Pulau Samosir, Danau Toba, 13 Juli 1997, yang menewaskan 84 orang. Sebagaimana KM Sinar Bangun, saat tenggelam KM Peldatari I juga kelebihan penumpang dan tanpa dilengkapi alat pendukung keselamatan. KM Peldatari I yang berkapasitas 60 orang itu melanggar ketentuan dengan mengangkut 169 penumpang.

Tragedi sama dengan jumlah korban tewas 30-an orang juga terjadi saat KM Saor Nauli tenggelam di perairan Pangururan, Danau Toba pada 13 April 1987. Dalam tiga kejadian ini, berapa sebenarnya jumlah penumpang pada awalnya sulit diketahui. Sehingga, orang selalu mengira-ngira jumlah pasti penumpang, apalagi karakter di danau ini korban tenggelam sulit ditemukan.

KOMPAS/NIKSON SINAGA–Tim SAR menyisir perairan Danau Toba, Rabu, (20/6/2018), untuk mencari korban kecelakaan kapal Sinar Bangun di kawasan itu.

Dalam kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun, jumlah penumpang yang tenggelam hingga kini masih didasarkan perkiraan karena ketiadaan manifes (dokumen penumpang) pelayaran. Seperti diberitakan harian Kompas (Kamis, 20/6/2018), korban tenggelam diperkirakan mencapai 200 orang didasarkan pada laporan masyarakat yang kehilangan anggota keluarga.

Berdasarkan arsip Kompas, pada 19 Juni 1975, juga terjadi tragedi tenggelamnya KM Sabar Ma Hita di perairan Tuk-Tuk, Danau Toba dan menewaskan lima orang. Kemudian pada 30 Maret 1968 juga terjadi tragedi tenggelamnya kapal angkutan di Danau Toba yang menyebabkan sekitar 80 orang hilang.

Perairan tertutup
Dibandingkan pelayaran di laut lepas, risiko pelayaran di Danau Toba sebenarnya lebih kecil. Arus dan gelombangnya cenderung lebih tenang karena sistem perairannya yang cenderung tertutup.

Menurut ahli geologi dari Museum Geologi Bandung, Indyo Pratomo, Danau Toba yang terbentuk dari letusan gunung api raksasa di masa lalu ini merupakan danau vulkanik terbesar di dunia dengan luas sekitar 1.130 kilometer (km) persegi dan menampung sekitar 256,2 km kubik air.

Dibandingkan pelayaran di laut lepas, risiko pelayaran di Danau Toba sebenarnya lebih kecil.

Kedalaman maksimum danau ini adalah 508 meter (m) – menjadikannya sebagai danau terdalam ke-9 di dunia – yang terdapat di cekungan utara, sedangkan di cekungan selatan kedalaman maksimumnya mencapai 420 m. Kedalaman rata-ratanya adalah 228 m.

Dengan volume air sebesar ini, danau ini merupakan cadangan air tawar terbesar di Indonesia. Suplai air ke danau berasal dari beberapa sungai yang kebanyakan masuk dalam bentuk air terjun. Sedangkan aliran keluar (outlet) hanya melalui air terjun di hulu Sungai Asahan yang kemudian mengalir ke perairan Selat Malaka.

Dengan debit keluaran (outflow) sekitar 100 m kubik per detik, dapat diperkirakan waktu tinggal (retention time) atau waktu yang diperlukan untuk menguras seluruh volume air danau adalah sekitar 81 tahun, yang cukup panjang dibandingkan dengan danau-danau lain. Lamanya waktu tinggal ini membuat arus air di danau ini cenderung tenang.

“Dari penelitian kami berdasarkan simulasi kondisi klimatologis selama 10 tahun (1999-2009), kecepatan arus di Danau Toba rata-rata tidak lebih dari 2 sentimeter (cm) per detik. Ini sebenarnya cukup kecil, makanya untuk benda-benda polutan yang kecil, sisa pakan ikan, akan terakumulasi di dekat pantai dan kerap menimbulkan kematian massal ikan,” kata Hadid Agita Rusmini, peneliti di Pusat Penelitian Limnologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dari penelitian kami berdasarkan simulasi kondisi klimatologis selama 10 tahun (1999-2009), kecepatan arus di Danau Toba rata-rata tidak lebih dari 2 sentimeter per detik.

Dengan karakter arus yang cenderung tenang ini, menurut Hadid, jika ada kecelakaan, baik kapal maupun korbannya akan relatif vertikal menuju kedalaman. Apalagi kondisi air tawar juga menyebabkan daya apungnya relatif rendah. Fenomena ini yang menyebabkan, korban tenggelam di Danau Toba cenderung sulit atau lama ditemukan.

Menurut Hadid, arus dan ombak di Danau Toba yang cukup kuat hanya terekam di Pantai Silalahi. “Penelitian kami memang menggunakan skenario kondisi cuaca normal. Ada kemungkinan memang ada kondisi-kondisi ekstrem. Namun, secara keseluruhan pola angin, arus, dan gelombang di danau ini tergolong tenang dan ramah dilalui kapal asalkan standar keamanannya diperhatikan,” kata dia.

Antisipasi perubahan
Hanya saja, pada waktu-waktu tertentu gelombang di Danau Toba sedikit bergolak, namun tidak sampai ekstrem sebagaimana di perairan lepas. Berdasarkan rekaman data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) cuaca di kawasan Danau Toba saat tenggelamnya KM Sinar Bangun sedikit bergolak.

“Pada tanggal 18 Juni 2018 itu, kecepatan angin rata-rata di sekitar Danau Toba sejak pagi hingga siang sekitar 2-3 meter per detik atau tergolong lemah. Namun, sekitar pukul 17.00 WIB ada kenaikan kecepatan angin sampai 6 meter per detik. Ini terjadi hanya hitungan 10 menit, kemudian melemah lagi,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo.

Peningkatan embusan angin sesaat ini berpotensi menimbulkan ombak cukup kuat. Menurut Prabowo, jika dikonversi kecepatan angin 6 meter per detik pada perairan terbuka bisa menimbulkan gelombang hingga 0,75 – 1,25 meter.

“Masalahnya Danau Toba merupakan perairan tertutup, sehingga ada kemungkinan terjadi gelombang balik yang naik-turun. Tinggi gelombang ini memang masih tergolong menengah dan seharusnya aman untuk pelayaran jika kondisi kapal baik dan tidak kelebihan muatan,” kata dia.

Potensi gelombang tinggi dan cuaca buruk di Danau Toba dan Pulau Samosir sebenarnya sudah diantisipasi oleh BMKG. Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah 1 Medan, Edison Kurniawan, mengatakan sudah mengirimkan peringatan dini cuaca buruk di kawasan Danau Toba kepada seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) yang terkait di Sumatera Utara.

“Peringatan dini cuaca akan terjadinya hujan dalam kategori sedang dan lebat serta angin kencang untuk wilayah Toba dan Samosir pertama kami kirim pada pukul 13.30 WIB, berikutnya kami perbarui karena masih ada potensi ekstrem pada pukul 16.30 WIB dan 18.30 WIB. Peringatan itu disampaikan kepada pihak BPBD, harapannya agar seluruh operator transportasi mewaspadai kondisi ektrem,” kata Edison.

Peringatan dini cuaca akan terjadinya hujan dalam kategori sedang dan lebat serta angin kencang untuk wilayah Toba dan Samosir pertama kami kirim pada pukul 13.30 WIB.

Menurut Edison, pada bulan Mei, Juni, hingga Juli, kondisi cuaca di Sumatera Utara, khususnya kawasan Danau Toba memang cenderung berubah cepat karena pada saat itu terjadi transisi musim hujan ke kemarau. Pergerakan angin berubah-ubah dan lebih kuat dari biasanya, sehingga memang harus diwaspadai.

“Ini mungkin yang menyebabkan banyak kejadian kecelakaan pada bulan-bulan tersebut. Tetapi, kembali lagi soal kondisi kapal dan muatannya,” kata dia.

Tragedi memang tidak bisa diprediksi, namun sebenarnya bisa dimitigasi. Peringatan dini pun sudah diberikan, namun serangkaian kejadian sebelumnya tidak menjadi peringatan untuk berubah. Jangan sampai tragedi kali ini berulang lagi ke depannya, sebagaimana pepatah lama Batak, moncak ni Lobutua, dung hona baru jora (silat Lobutua, setelah mengalami baru jera)….–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 21 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: