Tingkatkan Akurasi Peringatan Bencana

- Editor

Senin, 8 Januari 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Belajar dari banyaknya korban tsunami Aceh tahun 2004, Indonesia membutuhkan sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS) yang akurat. Sistem InaTEWS yang dibangun sejak 2008 perlu disempurnakan.

Akurasi peringatan dini mendesak ditingkatkan. Hal itu seiring dengan peningkatan risiko bencana tsunami di Indonesia akibat makin padatnya penduduk dan tingginya aktivitas di area pesisir.

Sistem InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) dibangun setelah tsunami Aceh atas bantuan sejumlah negara dan lembaga dunia. Hingga kini, InaTEWS yang dioperasikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika tergantung sistem yang dibangun Jerman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan data BMKG, selama 10 tahun beroperasi, InaTEWS mengeluarkan peringatan dini tsunami (PDT) 20 kali. Ada 6 kali PDT tak terjadi tsunami. Kejadian terbaru, gempa berkekuatan M 6,9 di Tasikmalaya, pada 15 Desember 2017, InaTEWS mengeluarkan peringatan dini tsunami. Sebagaimana diberitakan, gempa ini berpusat di darat dan tak diikuti tsunami.

Dalam pertemuan sejumlah ahli kebencanaan di BMKG, Jakarta, Jumat (5/1), disepakati akan dilakukan kajian bersama efektivitas InaTEWS terkait gempa bumi Tasikmalaya.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan, kajian bersama kali ini melibatkan sejumlah pakar dari berbagai lembaga, termasuk Ikatan Ahli Bencana Indonesia.

Sebelumnya, sejumlah ahli dari berbagai lembaga secara swadaya melakukan kajian bersama tiga gempa bumi berpotensi tsunami, yakni tahun 2012, 2014, dan 2016. Namun, rekomendasi kajian itu belum mendorong perubahan signifikan.

Karena itu, Kepala Pusat Gempa Bumi BMKG M Riyadi berharap, kajian bersama kali ini memiliki dasar hukum agar rekomendasinya lebih kuat dan mengikat. Itu perlu diikuti penyelesaian draf Instruksi Presiden tentang InaTEWS menggantikan Surat Keputusan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Tahun 2006.

”Diharapkan, lahirnya Inpres menguatkan koordinasi dan peran kelembagaan sehingga gap dan tantangan InaTEWS ke depan bisa diselesaikan. Tantangan ke depan terutama penyampaian info gempa dan peringatan dini tsunami yang tidak hanya cepat, tetapi juga akurat,” ujarnya.

Terkait ketergantungan pada luar, menurut Daryono, Indonesia perlu membangun infrastruktur dan sistem peringatan dini tsunami dibuat sendiri, berupa sistem pengolahan data dan penentuan parameter peringatan dini. ”Ini penting agar kita tak bergantung pada sistem yang tidak sepenuhnya di bawah kendali kita,” ujarnya. (AIK)

Sumber: Kompas, 6 Januari 2018

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB