Home / Berita / Sistem Injeksi-Uap Pola Tujuh Titik ditetapkan di Lapangan Duri

Sistem Injeksi-Uap Pola Tujuh Titik ditetapkan di Lapangan Duri

Proyek Duri Streamflood merupakan ladang minyak terbesar di dunia yang menggunakan sistem injeksi uap.

PADA tanggal 3 Maret 1990, Presiden Soeharto meresmikan pengembangan lapangan minyak Duri dengan sistem injeksi uap (streamflood). Mengutip perkataan Bapak Presiden pada peresmian tersebut, konsumsi bahan bakar minyak di Indonesia dalam tiga tahun belakangan ini meningkat rata-rata sekitar 5,6% per tahun. Akibatnya negara kita harus mengimpor sebagian bahan bakar minyak karena kapasitas kilang dalam negeri tidak sanggup memenuhi, Untuk itu diperlukan upaya peningkatan perolehan produksi minyak bumi (enhanced oil recovery – EOR), salah satu cara adalah dengan sistem injeksi uap. Proyek Injeksi Uap Duri (Duri Streamflood – DSF) merupakan ladang minyak terbesar di dunia yang menggunakan sistem tersebut.

DSF
DURI, salah satu dari 130 lapangan minyak yang ditemukan PT Caltex Pacific Indonesia (CPI), kontraktor production sharing Pertainina, di Sumatera bagian tengah. Adalah lapangan minyak kedua terbesar setelah Minas. Delapan puluh dari 130 lapang-an tersebut kini telah berproduksi secara aktif, menghasilkan lebih dari 50% produksi minyak Indonesia.

Lapangan Duri, sebelah barat laut Pekanbaru, ditemukan pada tahun 1941. Dan baru berproduksi secara komersial setelah 17 tahun kemudian, yakni setelah selesainya pembangunan pipa saluran utama menuju Dumai dan diresmikannya pemakaian pelabuhan minyak samudera Dumai di Selat Rupat.
Duri mencapai puncak pada tahun 1965, yaitu mencapai 65.000 barel per hari. Tetapi karena sifat minyak Duri yang berat dan teramat kental sehingga sulit dipompa, produksinya menurun hingga kurang dari 40.000 barel perhari.

Minyak Duri berviskositas amat tinggi, mencapai 120 centipoise pada suhu 36┬░Celcius. Dalam bentuk tetesan-tetesan yang amat kecil, ia terjebak dalam formasi batuan reservoar yang sangat halus dan padat. Menurut hasil kajian, minyak Duri yang mungkin dapat diangkat ke permukaan bumi hanya sekitar 7% (dari jumlah kandungan atau oil in place) dengan cara pemompaan biasa (primary recovery). Sedangkan sisanya akan tetap tinggal sebagai kekayaan alam di dalam bumi.

Huff & Puff
BERBAGAI percobaan telah dilakukan untuk meningkatkan produksi minyak di Lapangan Duri. Pada tahun 1960, dilakukan percobaan dengan injeksiair. (water flood), tetapi tidak memberi hasil yang menggembirakan sehingga hanya bertahan selama tiga tahun. Dengan injeksi air tersebut minyak yang berhasil ditambang hanya 16% dari jumlah kandungan seluruhnya.

Salah satu cara untuk memperlancar gerakan aliran minyak, mempertinggi tingkat perolehan dan memperpanjang usia potensi lapangan minyak ialah dengan jalan memanaskannya langsung di dalam kandungan bumi. CPI, pada tahun 1967, mulai melakukan serangkai percobaan yang disebut huff & puff, yaitu perangsangan sumur produksi dengan uap. Proses huff & puff berupa penyuntikan uap langsung ke dalam sumur produksi dan membiarkannya beberapa hari. Uap yang diinjeksikan itu memanaskan kandungan minyak di sekitar sumur sehingga lebih mencair dan mudah bergerak. Sayangnya, proses huff& puff, walaupun mampu menaikan tingkat produksi, dianggap belum memadai dan tidak ekonomis untuk proyek skala besar.
Injeksi Uap DALAM tahun 1970-an CPI kembali melakukan dua macam percobaan baru di Lapangan Duri yaitu penginjeksian uap bertekanan tinggi secara terus menerus (streamflooding), dan penyuntikan bahan kimia berupa campuran kaustik soda dan air. Hasil pengkajian yang selesai pada tahun 1980 menunjukkan bahwa injeksi uap akan dapat meningkatkan produksi dan perolehan secara ekonomis.

Maka akhirnya CPI menetapkan injeksi uap sebagai cara utama yang ingin diterapkan untuk mempertahankan produksi di Lapangan Duri. Proyek Injeksi-Uap Duri (Duri Streamflood) merupakan titik awal dari suatu proyek yang amat berani, penuh tantangan, dan pertama dalam sejarah CPI.

Sumur minyak di Lapangan Duri rata-rata tidak terlalu dalam (maksimum 200 meter), maka energi yang digunakan untuk memanaskan minyak di reservoar juga lebih irit. Untuk mendapatkan energi bagi injeksi uap air tersebut, hanya diperlukan seperlima dari produksi yang dihasilkan. Sedangkan di
Amerika, memerlukan sepertiga produksi minyaknya untuk menghasilkan uap yang akan disuntikan ke dalam perut bumi.

Proyek Injeksi-Uap Duri ini disebut juga proyek Casper, karena bentuk Lapangan Duri menyerupai tokoh hantu yang baik dalam seri kartun. Proyek Casper ini dilaksanakan dalam beberapa tahap. Tahap pertama meliputi lapisan terdalam seluas 6600 hektar yang dibagi-menjadi sekitar 12 area (wilayah) pengembangan. Tahap pertama diperkirakan selesai dalam waktu dua sampai tiga dasawarsa.

Pola tujuh titik
DI TIAP wilayah pengem-bangan terdiri dari sekum-pulan sumur yang jaringannya disusun dalam bentuk persegi-enam, mirip sarang lebah. Di masing-masing titik sudut terdapat sumur-sumur produksi, dan di titik tengahnya terdapat sumur injeksi. Susunan in-ilah yang disebut pola titik tujuh (seven-spot pattern). Pola ini saling berkaitan dengan pola-pola serupa di sekelilingnya, dan jarak sumur satu dengan yang lain 135 meter. Di tiap wilayah terdapat sarana pem-banglcit uap; sistem pemisah minyak, gas, dan air; stasiun pengumpul; ins-talasi penjemihan air stasiun penguji sumur, serta sarana penunjang lainnya.

Dengan pola tujuh-titik ini, uap akan disuntikkan terus-menerus selama enam tahun melalui sumur injeksi. Kemudian disusul dengan sistem penyuntikan air panas selama 2,5 tahun lagi. Dengan sistem injeksi uap ini diharapkan tingkat perolehan Duri dapat diperbesar dari tujuh menjadi sekitar 55% dari jumlah perkiraan kandungannya.

Menurut perhitungan, tahap pertama, proyek ini akan dapat menaikkan tingkat produksi Lapangan Duri dari 40.000 menjadi 250.000 barel setiap hari. Untuk mengejar target tersebut diperlukan pemboran lebih dari 4500 sumur produksi tambahan dan sumur injeksi uap, atau tujuh kali lebih banyak dari jumlah yang ada di Duri, sebelum proyek ini dimulai.

1001 jenis alat
ALAT-ALAT yang diperlukan juga tidak sedikit, mulai dari alat- alat berat pengangkut tanah; stasiun pemisah antara minyak, air, dan gas, hingga jaringan pipa saluran dan tangki-tangki penyimpanan harus disiapkan. Alat penjernih air, menara bor tambahan dan 1001 jenis peralatan lainnya. Dalam tahap pertama ini saja harus dipasang 230 unit pembangkit uap. Tiap pembangkit uap mampu mengubah 3400 barel air menjadi uap. Selama proyek ini berjalan, setiap harinya 800.000 barel air harus diolah menjadi uap untuk disuntikkan ke dalam perut bumi. Dan pada operasi puncaknya diperkirakan akan mencapai lebih dari 1 juta barel air per hari. Setiap hari lebih kurang 300 pembangkit uap berkapasitas sedang diperlukan untuk mengolah air menjadi uap untuk disuntikkan ke dalam perut bumi.

Terbesar di dunia
UNTUK proyek peningkatan perolehan produksi minyak bumi yang terbesar di dunia ini, secara keseluruhan CPI akan mengeluarkan biaya lebih dari 3 trilyun rupiah. Dengan harapan mendapatkan 2,5 milyar barel minyak bumi yang tidak mungkin dicapai dengan cara konvensional.

Menurut prakiraan, di Lapangan Duri masih tersimpan 4,4 milyar barel minyak, 2,7 milyar di antaranya masih dapat diproduksi. Dengan sistem injeksi uap diharapkan 50-70% dari cadangan tersebut dapat diangkat ke permukaan.

Dengan sistem Injeksi Uap di Lapangan Duri ini, CPI berharap dapat menyedot 800 juta barel minyak lagi dari lapangan tua lain yang dikuasainya. Meskipun biayanya menelan milyaran dollar, dirasa masih menguntungkan dibanding dengan meraba-raba daerah baru yang belum dikenal sama sekali. Sistem Injeksi Uap dapat pula diterapkan di lapangan minyak tua lainnya sebagai cadangan minyak di masa mendatang.

Penemuan ladang minyak baru maupun upaya peningkatan perolehan minyak dengan cara apapun, bukan suatu jawaban akan kebutuhan bahan bakar minyak yang terus meningkat jika tidak diikuti dengan penghematan, seperti yang sampaikan Bapak Presiden pada peresmian DSF lalu. Jadi tidak ada salahnya mulai dari sekarang kita bersama-sama “memasyarakatkan hemat energi” (PUTRI)

Sumber: Majalah AKUTAHU/APRIL 1990

Share
%d blogger menyukai ini: