Home / Berita / Produsen Sawit Dorong Percepatan

Produsen Sawit Dorong Percepatan

Pemerintah ditantang meningkatkan bauran energi pada bahan bakar minyak, khususnya diesel, menjadi 20 persen pada 2015. Selain turut mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, percepatan itu diharapkan juga menyelamatkan surplus produksi sawit yang permintaannya diprediksi stagnan.


”Tahun 2015, kami tak yakin dengan ekspor. Kami cukup gembira kalau ekspor masih pada level angka yang sama,” kata Darwin Indigo, Ketua Bidang Urusan Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Kamis (13/11), di Jakarta, di sela-sela diskusi Menuju Sektor Kelapa Sawit Indonesia yang Produktif dan Berkelanjutan.

Keresahan produsen sawit disebabkan lesunya perekonomian dunia, terutama negara pasar utama minyak sawit, seperti India, Uni Eropa, dan Tiongkok. Khusus Tiongkok, kelesuan ekonomi diperparah kebutuhan peningkatan impor kedelai untuk pakan ternak.

Kedelai diproses untuk diambil minyaknya, sedangkan ampas pengolahan diberikan kepada hewan ternak. Masyarakat Tiongkok banyak mengonsumsi minyak kedelai.

Hambatan kebijakan nontarif dalam perdagangan minyak sawit mentah (CPO) di pasar global juga kerap menekan pasar ekspor. Pemberlakuan kebijakan nontarif di beberapa negara pembeli CPO dipicu kekhawatiran pertumbuhan sawit yang terlalu besar. Kebijakan itu diterapkan melalui isu standardisasi dan lingkungan.

Darwin yang juga Direktur Trading Wilmar International menyebutkan, 22 juta ton dari total produksi 31 juta ton CPO di Indonesia ditujukan untuk ekspor. Total produksi itu diprediksi terus meningkat seiring ekspansi lahan dan penanaman sawit 3-5 tahun lalu yang mulai produksi.

”Dengan kondisi global seperti ini, bisa dibayangkan berapa minyak sawit yang harus kami simpan karena tak terserap,” katanya. Selain berdampak terhadap perusahaan, kelesuan penyerapan juga akan berdampak kepada petani mandiri dan petani plasma penyuplai tandan buah segar ke perusahaan. ”Petani mandiri mencapai lebih dari 40 persen yang mengupayakan sawit di Indonesia,” ujarnya.

Ia menyarankan pemerintah bisa mendorong peningkatan penyerapan dengan meningkatkan konsumsi dalam negeri. Itu di antaranya dengan mengonversi minyak sawit menjadi campuran bahan bakar diesel. Rencana penggunaan campuran biodiesel sebesar 20 persen pada 2016 setara dengan 6 juta ton CPO.

Secara terpisah, Ketua Komite Tetap Kerja Sama Internasional Lingkungan Hidup Tiur Romondang mengatakan, peningkatan penyerapan bahan bakar nonfosil bisa dilakukan jika pemerintah mencabut subsidi bahan bakar minyak. Selama ini salah satu penyebab bahan bakar nonfosil sulit bersaing adalah karena harga yang tak kompetitif.

Ia juga mengingatkan, peningkatan energi bauran biodiesel tak serta-merta menurunkan emisi Indonesia. ”Bagaimana dengan proses produksi biodiesel, apakah dilakukan secara berkelanjutan dari hulu ke hilir,” tutur Tiur. (ICH)

Sumber: Kompas, 15 November 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Menundukkan Huawei lewat Google

Penghentian kerja sama Google kepada Huawei memberi dampak yang cukup berat bagi unit usaha ponsel ...

%d blogger menyukai ini: