Home / Berita / Sejumlah Profesi Terancam Hilang

Sejumlah Profesi Terancam Hilang

Kecerdasan Buatan Belum Masuk Kurikulum PT
Sejumlah profesi dan pekerjaan diperkirakan akan hilang karena digantikan oleh produk-produk kecerdasan buatan. Pekerjaan yang akan terkena terlebih dahulu adalah pekerjaan yang dilakukan berulang. Karena itu, pebisnis perlu melakukan adaptasi.

Ketua Dewan Kerja Siemens AG Düsseldorf Jerman Mimon Uhamou di Jakarta, pekan lalu, di sela-sela seminar Labour 4.0: “Ekonomi Digital dan Implikasinya terhadap Ketenagakerjaan”, serta CEO Bahaso Tyovan Ari Widadgo dan CEO Daily Social Rama Mamuaya di Jakarta, Selasa (2/5), mengatakan, implikasi penggunaan kecerdasan buatan yang masif akan mengurangi sejumlah tenaga kerja dan mengancam sejumlah profesi.

Uhamou menuturkan, revolusi industri 4.0, lanjutan dari revolusi industri sebelumnya, menuntut operasi pabrik yang cerdas (smart factory), pelayanan cerdas (smart service), dan produk inovatif. Setidaknya ada 15 profesi yang paling terkena dampak terhadap revolusi industri 4.0, antara lain operator mesin, perencana teknik, dan operator pemeliharaan.

Tyovan juga mengingatkan, beberapa profesi akan lenyap ketika kecerdasan buatan makin masif digunakan, seperti akuntan dan operator pabrik, hingga beberapa jenis pakar yang akan digantikan dengan sistem pakar dalam kecerdasan buatan.

“Beberapa pekerjaan dokter dan wartawan mulai dikerjakan oleh sistem kecerdasan buatan. Editor media daring di AS telah digantikan sistem dengan kecerdasan buatan,” katanya.

Forum Ekonomi Dunia (WEF) mengingatkan kemungkinan pengurangan jumlah tenaga kerja 5 juta orang sebelum 2020 sebagai dampak otomatisasi di dunia industri. Meski demikian, ekonomi baru ini akan melahirkan lapangan pekerjaan untuk 2,1 juta orang dengan syarat memiliki penguasaan teknologi yang tinggi.

Rama Mamuaya mengemukakan, fungsi tugas yang berulang akan digantikan oleh kecerdasan buatan melalui otomatisasi. “Posisi apa pun bisa terancam. Beberapa pekerjaan malah mulai dikurangi,” katanya.

KOMPAS/ALIF ICHWAN–Pekerja menata botol kaca di pabrik pembuatan botol di Jakarta Timur, Rabu (8/2). Produksi botol mengandalkan pasokan gas untuk bahan bakar di fasilitas produksinya. Penggunaan gas bumi tersebut sudah berjalan 14 tahun karena dinilai lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan.

Sementara itu, Direktur Pinjam.co.id Teguh B Ariwibowo mengatakan, saat ini tenaga manusia sebagai penaksir harga barang masih diperlukan di salah satu produknya, yaitu gadai dalam jaringan. Akan tetapi, ke depan taksiran akan mengandalkan kecerdasan buatan.

“Kami masih mengembangkan algoritma agar taksiran harga barang oleh tenaga penaksir kami, taksiran daring, dan nilai sesungguhnya tidak terlalu jauh bedanya,” kata Teguh.

Selain itu, tambah Teguh, pihaknya sedang mengembangkan big data dan kecerdasan buatan. Data yang dihimpun dan diolah tersebut bisa menjadi patokan bagi mitra usaha dalam melaksanakan kegiatan gadai daring dan peminjaman dana.

Kunci di pendidikan
Uhamou menuturkan, menghadapi semua itu, perusahaannya memilih beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Transformasi mulai dilakukan agar bisnis perusahaan tetap berjalan. Salah satu langkah yang diambil Siemens adalah mendirikan pusat pelatihan vokasi untuk meningkatkan keterampilan sumber daya manusia.

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Joni Hermana mengatakan, pengetahuan terkait big data dan kecerdasan buatan belum dimasukkan dalam kurikulum di perguruan tinggi tersebut. Saat ini, pihaknya mengenalkan wawasan keduanya dengan mendorong mahasiswa membangun usaha rintisan.

Perguruan tinggi berperan mendampingi mahasiswa dengan menghadirkan praktisi yang andal membangun usaha rintisan serta memiliki pengetahuan big data. Dalam setiap pelatihannya, pemateri akan menyelipkan pengetahuan-pengetahuan terkait big data dan kecerdasan buatan.

“Harapannya, mahasiswa yang membuat usaha rintisan tertarik mendalami big data sehingga bisa memenuhi kebutuhan industri mendatang,” kata Joni.

Di Surabaya, Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Zainal Arief juga mengatakan, tidak dapat dimungkiri lagi kebutuhan industri di masa mendatang akan mengarah pada big data. Mahasiswa harus dibekali wawasan itu secara rutin.

Akan tetapi, ia mengakui, PENS belum memiliki mata kuliah khusus membahas tentang big data atau kecerdasan buatan. Setiap tahun, PENS mengirimkan para dosennya ke sejumlah pengembang perangkat lunak di Indonesia untuk mempelajari perkembangan kebutuhan big data dunia kerja.

Ina Liem, infopreneur seputar jurusan kuliah di perguruan tinggi yang menginisiasi jurusanku.com, mengatakan, peluang untuk menguasai kompetensi big data besar karena banyak perusahaan yang membutuhkannya. Di luar negeri, program studi untuk mengasah pengolah big data ada yang dinamakan Data Science atau Business Analytics.

“Lewat seminar-seminar, kompetensi dalam mengelola big data mulai disampaikan kepada siswa. Sayangnya, perguruan tinggi lokal masih agak lamban menawarkan kompetensi ini. Di luar negeri justru sudah mulai berkembang,” ujar Ina.

Mulai diperkenalkan
Menurut Ina, di jurusan apa pun di perguruan tinggi seharusnya mulai diperkenalkan pentingnya mengolah big data. Misalnya, dalam bidang perikanan, di masa kini big data dibutuhkan supaya dapat membuat prediksi. Demikian juga dalam bidang keuangan, kesehatan, pendidikan, dan masih banyak lagi. “Kompetensi mengolah big data ini multidisipliner yang merupakan kombinasi keahlian matematika, statistika, komputer, dan keahlian tertentu,” ujar Ina.

Analis Indonesia Labor Institute, Rekson Silaban, menyarankan, arah kebijakan pendidikan dan pelatihan di Indonesia perlu berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Hal ini bertujuan menghadapi tren pemanfaatan TIK untuk aktivitas bisnis.

“Keunggulan di pasar ditentukan oleh proses produksi yang efisien dan terus mengutamakan inovasi. Pertama-tama, pekerja atau buruh harus mempunyai akses TIK. Saat ini, belum semua angkatan kerja memiliki akses TIK yang setara,” ujar Rekson.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan pemerintah adalah mengubah kurikulum pendidikan kejuruan. Sekolah kejuruan dan perguruan tinggi teknik juga perlu diperbanyak.

Terkait kebutuhan tenaga kerja dengan syarat memiliki kemampuan teknologi tinggi, menurut Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Sugiarto Sumas, hanya 10 persen dari sekitar 118 juta total angkatan kerja Indonesia berlatar belakang lulusan perguruan tinggi. Jumlah ini sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan.

Guna mengatasi kesenjangan itu, pemerintah membuat pendekatan, meningkatkan jumlah lulusan perguruan tinggi, dan menyusun kurikulum yang mengikuti permintaan industri digital.(ADY/MED/ELN/IDR/MAR)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Mei 2017, di halaman 1 dengan judul “Sejumlah Profesi Terancam Hilang”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: