Home / Berita / Riset Indonesia; Berkutat dengan Masalah Sama

Riset Indonesia; Berkutat dengan Masalah Sama

Indonesia bertekad selalu mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Kunci dari pertumbuhan yang tinggi itu adalah inovasi yang ditopang dengan penelitian dan pengembangan yang memadai sebagai buah dari investasi. Namun, kebijakan pemerintah sepertinya berkebalikan dengan paradigma tersebut.

Selama bertahun-tahun, anggaran riset dan rekayasa Indonesia tak juga menunjukkan peningkatan signifikan, terus tertinggal dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi ataupun negara-negara kawasan yang memiliki tingkat kesejahteraan lebih baik.

”Riset belum menjadi prioritas,” kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lukman Hakim, pekan lalu.

Indikator Iptek Indonesia 2011, belanja penelitian dan pengembangan (litbang) Indonesia pada 2009 hanya 0,08 persen dari produk domestik bruto. Dari jumlah itu, sumbangan terbesar berasal dari pemerintah 42,8 persen, perguruan tinggi 38,5 persen, dan industri manufaktur 18,7 persen.

Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia Warsito P Taruno mengatakan, industri masih terfokus pada pengambilan sumber daya alam semata, seperti ekspor mineral tambang, minyak dan gas bumi, serta minyak kelapa sawit mentah. Tanpa ada pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah terhadap sumber daya itu, litbang industri tak berkembang.

12083041h”Selama industri tak mengolah bahan mentah itu di dalam negeri, secara de facto riset dan hasil riset tak akan dipakai di dalam negeri,” kata dia.

Terbatasnya investasi riset industri, menurut Wakil Ketua Dewan Riset Nasional yang juga pengusaha, Betti Alisjahbana, juga dipicu belum banyak hasil riset yang bisa dimanfaatkan industri. Pengusaha ingin riset bisa lebih cepat menghasilkan produk yang siap dipasarkan.

”Makin riset memberikan manfaat, pemerintah dan industri akan lebih bersemangat menambah investasi riset,” ujarnya.

Insentif fiskal dan moneter khusus bagi industri yang melakukan riset pun bisa dilakukan. Mekanisme pembagian dana riset antara pemerintah yang menanggung pembiayaan riset dasar dan swasta yang membiayai riset aplikatif atau pengembangan juga bisa dipilih.

Namun, hal itu perlu didukung kampanye kecintaan terhadap produk dalam negeri secara terus-menerus. Sikap mayoritas konsumen Indonesia yang selalu kagum dengan produk luar negeri harus diimbangi dengan keberpihakan nyata dari pemerintah plus upaya gigih dari peneliti dan industri untuk meningkatkan mutu produk.

Sumber daya manusia
Namun, persoalan litbang Indonesia tak melulu soal dana. Rasio peneliti Indonesia per sejuta penduduk amat kecil. Bahkan, jauh lebih kecil dibandingkan dengan Vietnam. Sudah jumlahnya sedikit, mutunya amat kurang.

Menurut Warsito, masalah riset di perusahaan-perusahaan manufaktur besar Indonesia bukan dana, melainkan mutu sumber daya manusianya amat rendah. Banyak tenaga litbang industri yang banyak kebingungan saat akan melakukan riset.

”Skema semacam sabbatical leave bagi peneliti litbang pemerintah ataupun perguruan tinggi di industri bisa membantu peningkatan mutu SDM litbang industri,” kata dia.

Pada 2009, ada 70.431 orang di Indonesia yang bekerja di sektor litbang, terdiri atas peneliti 58 persen, teknisi 23 persen dan anggota staf pendukung 19 persen. Dari semua pekerja litbang itu, jumlah terbanyak ada di pemerintahan 43 persen, perguruan tinggi 39 persen dan hanya 17 persen yang berasal dari industri manufaktur.

Selain persoalan kuantitas dan kualitas, Direktur Riset dan Inovasi Institut Pertanian Bogor Iskandar Z Siregar menilai kemampuan peneliti di perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah dengan industri belum terhubung. Akibatnya, penelitian peneliti tak termanfaatkan, hanya berakhir sebagai tumpukan dokumen dan industri tak tertarik melakukan riset.

Regenerasi untuk menciptakan peneliti-peneliti baru pun menghadapi kendala. Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Wawan Gunawan A Kadir mengatakan, jumlah lulusan bidang sains dan teknologi Indonesia setiap tahun hanya 9-10 persen dari total lulusan yang ada. ”Idealnya, sebuah negara harus memiliki 30 persen sarjana bidan sains dan teknologi,” kata dia menegaskan.

Belum kondusif
Jika pemerintah ke depan, siapa pun presidennya, ingin membangun ekonomi berkelanjutan, investasi di sektor litbang adalah harga mati. Jika litbang Indonesia masih seperti sekarang, Indonesia hanya akan menjadi pasar berbagai produk teknologi bangsa-bangsa lain.

Lukman mencontohkan, kondisi riset Indonesia dan Korea Selatan pada 1967 masih sama. Tapi, hanya dalam waktu 20 tahun, Korea Selatan jauh meninggalkan Indonesia. Kondisi Indonesia dengan Tiongkok dan Thailand pun sejajar pada 1985. Namun, kedua negara itu kini menjelma menjadi negara berpendapatan menengah atas, meninggalkan Indonesia yang masih berada di kelompok berpendapatan menengah bawah.

”Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi produk-produk yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata dia menambahkan. Penelitian juga semestinya difokuskan pada berbagai persoalan pelik yang tengah dihadapi bangsa, seperti masalah pangan dan energi.

Oleh: M Zaid Wahyudi

Sumber: Kompas, 30 Juni 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: