Home / Artikel / Revolusi Mahasiswa 1848-49

Revolusi Mahasiswa 1848-49

REVOLUSI mahasiswa Eropa 150 tahun yang lalu dikenal sebagai the spring time of the peoples, le printemps des peuples, der Voelkerfruehling, karena dimulai dalam musim semi, dan mula-mula memang oleh mahasiswa dan buruh di Paris, dengan pakaian kemahasiswa-mahasiswaan serta janggut dan jambang. Revolusi ini merupakan tonggak sejarah yang menandakan berakhirnya siklus panjang pertama sejak revolusi industri di Inggris. Dari Paris, revoiusi menjalar dengan cepat, padahal transportasi dan komunikasi tidak seperti sekarang, ke seluruh Eropa dari Madrid sampai ke Bucuresti (Bukares), terkecuali Inggris dan Rusia, dengan pusat-pusat letupan di Wina, Berlin, Muenchen, Salzburg, Praha, Budapest, Venezia, Milano, Firenze, Roma, Lyon, dan lain-lain.

Revolusi didahului oleh kelaparan yang tiimbul pada 1845-47 di Irlandia, Skotlandia, Perancis, Belanda, Jerman, dan Silesia, karena kegagalan panen kentang yang diserang hama fungus (Phytophthora infestans), pes ternak di Honggaria dan banjir di Vistula, yang semuanya dianggap kutukan Tuhan. Irlandia, yang sejak akhir abad XVII seluruh penduduknya makan kentang dan minum air putih, paling menderita, diperparah pula oleh wabah influenza dan typhus epidemicus serta pandemi cholera. Pembunuhan bayi banyak dilakukan. Dalam lima tahun sejuta penduduk mati kelaparan (20 %) dan yang bertahan mulai berlarian ke Amerika. Dari 1/4 juta emigran setengahnya terdampar di Liverpool dan sisanya berlayar terus dalam keadaan lapar dan sakit-sakit. Pada tahun 1910 sudah 4 juta orang Irlandia di Amerika.

Dalam tahun 1847 terjadi krisis ekonomi total di Eropa. Penduduk desa pindah ke kota-kota seperti Wina, Salzburg, Paris, dan lain-lain, sehingga pekumuhan kota bertambah Revolusi industri, membawa gerakan buruh dan sosialisma, kapitalisma dan siklus krisis ekonomi. Pekumuhan kota melahirkan pembusukan sosial, kejahatan, dan emosi yang mudah meledak. Di Perancis, timbul kerusuhan roti, penjarahan toko makanan dan penyerbuan gudang-gudang penimbunan bahan makanan.

Beberapa bulan sebelum revolusi filasof politik Alexis de Torqueville mengatakan kepada wakil-wakil rakyat: Kita sedang tidur di atas gunung api. Tidakkah saudara rasa bumi bergetar kembali? Angin revolusi mulai berhembus, badai sudah di kaki Iangit.

Dan revolusi urban dengan mudah dapat menyulut pedesaan.

Ketika itu sarjana diproduksi berIebihan. Di Prusia, mahasiswa hukum begitu banyak bertambah, sehingga tidak ada lowongan kerja. Demikian pula dalam bidang-bidang lain. Mereka itu tidak memiliki keterampilan untuk pekerjaan kasar (tangan), maka mudah dirundung kekecewaan dan kemiskinan, terpinggirkan, padahal mudah pula menangkap gagasan-gagasan baru, mahir mengungkapkan cita-citanya dan mewakili orang-orang miskin yang lain. Petani meminta tanah dan kemerdekaan, buruh menuntut hak-haknya dalam pekerjaan. Pemerintah di mana-mana lemah dan cenderung mengalah. Di Austria, Kaiser Ferdinand I, yang lemah jiwa, menyetujui semua tuntutan petani dan mengungsi dua kali sebelum turun takhta. Jenderal-jenderal Prusia menasehatkan Raja Friedrich Wilhelm IV untuk melibas revolusi di Berlin, tetapi diabaikan, malahan raja berkeliling kota ikut meneriakkan semboyan dan mengibarkan bendera revolusi. Di Praha kerajaan Habsburg juga memberi konsesi.

Dalam revolusi Februari di Paris, 40 orang ditembak mati, sedangkan para demonstran membongkar batuan jalan dan menjadikanya 1.500 barikade, disamping menebang beribu pohon di tepi jalan (perang barikade), sehingga lalu-lintas terhalang. Keluarga Kaisar di Wina mengungsi ke Olmuetz, Paus Pius IX menyingkir ke Gaeta dan kanselir Von Metternich ke London, bahkan Ratu Victoria Inggris dan suaminya serta anak-anaknya, termasuk bayi putrinya, pindah ke pulau Wight. Raja Louis Philipe Perancis menyerah kalah dan pada akhir tahun itu mulailah Republik Kedua di bawah Napoleon III. Massa tak terkendali di mana-mana termasuk Polandia dan Bohemia.

Republik baru Perancis menggebuk revolusi Paris dalam pembantaian Juni di bawah diktatur militer jenderal Cavaignac (kemudian berubah menjadi presidium), yang menelan korban 10.000 orang mati dan sebegitu pula yang dipenjara Pemerintah Habsburg, sesudah mundur taktis, menghantam dengan garang kota Praha sampai jatuh. Di Austria, marsekal Windischgraetz mengepung Wina, mengebom, lalu menyerbunya dengan mengambil korban 3.000 orang mati dan 9.000 ditangkap. Pemimpin-pemimpinnya 9 orang ditembak mati, dan sebanyak itu pula dipenjara. Negara-negara di Itali, jatuh ke tangan Austria satu demi satu. Represi dilakukan di Honggaria; 114 orang sempat dihukum mati oleh jenderal Haynau.

Pada awal revolusi kelas menengah turut turun ke jalan dan mengungkapkan keluhan-keluhan mereka. Tetapi sesudah melihat revolusi mulai condong ke kiri dan kepentingan, mereka terasa terancam, mereka mulai mundur. Pada musim panas 1848 massa sudah hilang dan jalanan tinggal hanya kelompok revolusioner profesional (seperti Garibaldi, Bakunin dan Engels), dan pejuang-pejuang tulen dari kalangan buruh dan mahasiswa.

Conte di Cavour, pejuang kesatuan Itali, berujar: Kalau ketertiban sosial sungguh-sungguh terancam,… republikan yang paling bersemangat pun menjadi yang pertama-tama akan memihak kaum konservatif.

Kelas menengah ketakutan akan bumerang revolusi, sedangkan buruh banyak yang menganggap mogok lebih efektif. Revolusi yang datang seakan-akan tiba-tiba, pergi sekonyong-konyong pula. Cita-cita revolusi, yaitu demokrasi, sosialisma, dan nasionalisma di banyak negara tidak tercapai (meskipun beberapa kepala turun takhta), kecuali di Hongaria dan Itali, yang revolusinya diwarnai nasionalisma risorgimento. Barulah satu generasi lagi revolusi bangkit kembali dalam bentuk yang lebih asli dan mengerikan.

Revolusi biasanya didahului oleh kerusuhan. Menurut Martin Luther King, “Kerusuhan adalah bahasa mereka yang tidak dihiraukan”. Turun ke jalan untuk melontarkan keluh kesah adalah bentuk halus kerusuhan. Revolusi yang benar-benar, seperti kata Mao Zedong: bukanlah suatu pesta santap, atau menulis esai, atau melukis pigura, ataupun menyulam; ia tak mungkin begitu halus, santai dan lemah lembut, tenang, ramah, sopan, terkendali dan murah hati. Revolusi adalah pembangkangan, tindakan kekerasan…

Revolusi dalam arti yang luas yang tidak hanya mencakup revolusi politik dan militer, sebenarnya dapat tidak berdarah. Umpamanya revolusi industri, meskipun membawa juga berbagai penderitaan oleh pelaksanaan dan persaingan kapitalisma-komunisma; revolusi hijau, meskipun juga menimbulkan kesusahan oleh pencabutan padi, permainan bibit unggul, pestisida, pupuk dan irigasi, serta dominasi perusahaan transnasional; revolusi demografis, meskipun ada paksaan pengaitan tali IUD dengan bantuan luar negeri, perataan KB tanpa memperhatikan kepadatan penduduk dan angka kematian; dan revolusi sex yang dimulai di Swedia via Amerika Serikat ke seluruh dunia, meskipun mengakibatkan pula meningkatnya sodomi, homoseksualitas, dan cerai, matinya konsep keluarga klasik dan devaluasi keperawanan. Revolusi politik sendiri, seperti runtuhnya regim-regim Soviet di Eropa Timur, relatif tidak berdarah.

Dalam musim semi 1998 negeri kita dilanda reformasi. Ada yang menganggapnya reformisma yaitu perubahan tata politik dan sosial secara gradual, dan ada yang memandangnya reformasi yang revolusioner, tetapi ada yang menilainya sebagai revolusi yang moderat, atau baru mulai. Yang nyata dalam waktu singkat, seperti membalikkan tangan saja, pemegang kekuasaan sentral berganti dan cara memerintah berubah. Pendukung tiba-tiba menjadi penolak, bahkan penghujat, dan ikut menjadi pelopor reformasi yang vokal.

Memang, belum segala nilai terjungkir-balik, tetapi proses masih berlangsung. Sementara itu ada tanda-tanda realokasi aset mulai terjadi, dari golongan chaebol dan hi-tech ke golongan menengah dan kecil yang kebanyakan bumiputera, yang sebagai belukar dan rumput-rumputan tidak tumbang, seperti pohon beringin waktu dilanda badai. Ini adalah tanda-tanda revolusi sosial yang baru mulai, tetapi masih hendak dicegah.

Banyak orang yang ingin mencegah revolusi berjalan sepenuh tenaga, tetapi sementara itu semua pihak justru membuatnya tak terelakkan. Penampilan pemerintah yang lemah, bimbang dan salah arah, menunda-nunda penyelesaian kasus-kasus ketidak-adiIan, penutup-nutupan bangkai gajah dengan nyiru, menyapu sampah ke bawah tikar, mencoba melindungi yang jelas-jelas melanggar hukum dan kemanusiaan, berkompromi dengan mungkar, berdialog dengan pencuri dalam keadaan tak terpaksa, memprioritaskan kepentingan kelompok sendiri (system interest), mencoba mencegah kerusuhan dengan melenyapkan gejalanya bukan sebabnya, misalnya menjaga keamanan dengan ‘rakyat’ terlatih bersenjata (meskipun cuma bambu tumpul), hanya akan mengundang kerusuhan yang dapat menuju ke reformasi tak damai dan revolusi yang lebih total.

Apakah nasib musim-bunga rakyat 1998-99 akan merupakan patokan berakhimya siklus panjang keempat dan sama dengan nasib musim-semi rakyat-rakyat Eropa 1848-49 masih sukar diramal. Kalau jawabannya positif, maka tak ada pihak yang untung. Hanya maut yang menang.

Prof. Dr T. Jacob, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 24 Januari 1998

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: