Masuknya Perguruan Tinggi Asing Momentum Tingkatkan Kualitas

- Editor

Kamis, 29 Maret 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menghadapi revolusi industri 4.0 atau generasi keempat, salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia ialah dengan masuknya perguruan tinggi asing. Menghadapi hal itu, perguruan tinggi di Indonesia dituntut terus meningkatkan mutu, termasuk kompetensi inti keilmuan dosen.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir, di sela-sela pengarahan tentang dampak revolusi industri 4.0, di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/3/2018), mengatakan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, perguruan tinggi asing dapat beroperasi di Indonesia.

”Ini tantangan yang tidak bisa dibendung sebab Indonesia sudah mengikuti ratifikasi General Agreement on Trade in Service ataupun ASEAN Economic Community. Pendidikan termasuk di dalamnya. Menghadapi ini, mutu perguruan tinggi dalam negeri harus ditingkatkan agar siap,” ujar Nasir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir memberikan pengarahan tentang dampak revolusi industri 4.0, di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/3/2018). Salah satu pembahasan terkait masuknya perguruan tinggi asing.

Ia menambahkan, sejumlah syarat yang dipenuhi perguruan tinggi asing untuk menggelar pendidikan tinggi antara lain harus mengajarkan mata kuliah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, agama, dan bahasa Indonesia.

Selanjutnya, harus ada kerja sama dengan perguruan tinggi dalam negeri pada bidang akademik, riset, ataupun inovasi. ”Terkait lokasi, perguruan tinggi asing tak bisa beroperasi di sembarang tempat. Karena itu, kami membentuk kawasan ekonomi khusus untuk pendidikan,” ucap Nasir.

Nasir mengakui, pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah perguruan tinggi asing, antara lain Royal Melbourne Institute of Technology (Australia), Imperial College London (Inggris), University of California Los Angeles (Amerika Serikat), dan National Taiwan University of Science and Technology (Taiwan).

”Nanti, regulasinya akan kami siapkan. Kalau sudah dibuka, kami persilakan kerja sama dengan perguruan tinggi di Indonesia,” ujarnya.

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir memberikan pengarahan tentang dampak revolusi industri 4.0, di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/3/2018).

Sebelumnya, Nasir mengatakan, kebijakan lain yang tengah disiapkan terkait masuknya perguruan tinggi asing adalah pembukaan pendidikan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang lebih masif.

”PT (perguruan tinggi) asing bukan ancaman, melainkan peluang untuk kemajuan PT di Indonesia. Tentu saja ada ketentuan-ketentuan khusus yang harus ditaati PT asing yang hendak beroperasi di Indonesia. Ketentuannya masih dalam pembahasan,” ujar Nasir (Kompas, 30/1).

”Soft skill”
Selain itu, dalam menghadapi revolusi industri 4.0, Nasir menyampaikan, kualitas dosen harus terus ditingkatkan. Salah satunya terkait soft skill. Dosen dituntut mampu berpikir kritis, kreatif, dan berkomunikasi, serta berkolaborasi dengan mahasiswa secara baik.

”Dosen harus punya komitmen terhadap inti keilmuan mereka. Jangan sampai, dosen tak memiliki itu sebab kalau tak punya, akan mengambang dalam menghadapi revolusi industri generasi keempat. Dosen pun harus belajar bersama dengan mahasiswa. Harus kohesif,” lanjut Nasir.

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir (kiri) dan Rektor Universitas Diponegoro Yos Johan Utama dalam pengarahan tentang dampak revolusi industri 4.0, di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/3/2018).

Rektor Undip Yos Johan Utama mengemukakan, revolusi industri 4.0 akan membawa banyak perubahan yang berdampak pada seluruh bidang keilmuan. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai produk perguruan tinggi perlu dipersiapkan dengan baik.

”Perubahan yang terasa, misalnya, translator yang bisa tergantikan oleh teknologi. Kalau kita tak siap, bisa jadi akan tertindas oleh zaman. Ini dampaknya bagi bangsa. Karena itu, perguruan tinggi perlu bersanding, bukan bersaing dalam menghadapi ini. Harus siap bersama,” kata Yos.–ADITYA PUTRA PERDANA

Sumber: Kompas, 28 Maret 2018

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB