Home / Berita / Astronomi / Rekaman Gerhana Bulan di Nusantara

Rekaman Gerhana Bulan di Nusantara

Gerhana sudah terjadi sejak Tata Surya terbentuk 4,6 miliar tahun lalu. Karena itu, berbagai peradaban kuno memiliki rekaman tentang gerhana di masa lalu. Bahkan, sejumlah peradaban mampu memprediksinya.

Suku-suku bangsa di Nusantara pun memiliki rekaman tentang gerhana itu. Umumnya memang tentang gerhana bulan karena peluang terjadinya gerhana bulan jauh lebih besar dibandingkan gerhana matahari. Fenomena alam tersebut terekam dalam berbagai bentuk, mulai dari cerita berbagai bentuk, prasasti, relief, hingga naskah-naskah kuno.

Jauh sebelum masyarakat mengenal budaya tulis, aneka cerita mitologi terkait gerhana sudah hidup di masyarakat. Cerita itu turun-temurun diceritakan, melintas waktu dan wilayah geografis berbeda, hingga muncul banyak variasi.

Sejumlah suku di Indonesia, seperti Jawa atau Bali, memiliki mitologi tentang raksasa Batara Kala, Kala Rahu, atau Rembu Culung memakan Bulan atau Matahari sehingga terjadi gerhana.

Dikisahkan, Batara Kala terus mengejar Dewi Candra (Bulan) dan Dewa Surya (Matahari) untuk balas dendam karena telah melaporkan pencurian air amerta atau air keabadian yang dilakukannya kepada Dewa Wisnu. Wisnu pun memanah kepala Batara Kala sehingga terputus dengan badannya. Karena sudah terkena air amerta, kepala raksasa itu abadi serta terus mengejar Candra dan Surya.

Dalam naskah Jawa kuno Adiparwa berangka tahun 998 Masehi, raksasa pemakan Bulan itu tidak bernama. Hanya disebutkan, raksasa itu anak Sang Wipracitti dan Sang Singhika. Raksasa itu ingin minum air amerta agar berubah jadi dewa (Kompas, 17 Februari 2016).

KOMPAS/NAWA TUNGGAL (NAW)–Sebuah prasasti ada di petirtaan Candi Belahan, yang juga disebut sebagai Sumber Tetek di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (2/3/2016). Ditafsirkan prasasti tersebut memuat sengkalan memet untuk mendokumentasikan peristiwa gerhana bulan pada 7 Oktober 1009 di Jawa.–Kompas/Nawa Tunggal

Mitos itu membuat masyarakat Jawa dan Bali di masa lalu membunyikan kentongan atau alat-alat tetabuhan lain saat terjadi gerhana. Hal itu bertujuan menakuti Batara Kala agar memuntahkan kembali Bulan dan Matahari.

Suku-suku lain memiliki mitologi serupa. Di Palembang, Sumatera Selatan, gerhana terjadi karena Bulan atau Matahari dimakan naga yang keluar dari Sungai Musi. Untuk mengusirnya, masyarakat tak hanya membunyikan aneka peralatan musik dengan keras, tetapi juga menyalakan petasan.

Di era modern, mitologi itu masih disampaikan berupa dongeng atau cerita rakyat. ”Tentu pemaknaan dan tafsirnya berbeda dengan di masa lalu,” kata peneliti etnoastronomi di Planetarium dan Observatorium Jakarta yang juga pembina Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, Widya Sawitar, Rabu.

Catatan gerhana
Selain cerita tutur, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mencatat gerhana. Catatan tertua tentang gerhana bulan di Indonesia ada dalam Prasasti Sucen, ditemukan di Temanggung, Jawa Tengah.

Prasasti berbentuk payung perak itu disimpan di Museum Nasional Indonesia. Di dalam payung berdiameter 30,8 sentimeter itu tertulis, prasasti itu dibuat saat gerhana bulan pada Senin, tanggal 15 paro-terang, bulan Caitra tahun 765 Saka.

Jika dikonversi dalam sistem penanggalan Masehi saat ini, gerhana itu terjadi pada Selasa, 20 Maret 843. Saat itu, fase totalitas gerhana berlangsung selama 58,9 menit dan terjadi pada pukul 02.00-03.00.

Gerhana itu sebenarnya terjadi di hari yang sama. ”Dalam kalender Jawa Kuno, pergantian hari terjadi saat Matahari terbit. Dalam kalender Masehi, hari baru dimulai tepat tengah malam atau pukul 00.00,” kata pemerhati arkeoastronomi yang juga mantan Kepala Bidang Pengkajian dan Pengumpulan Museum Nasional Indonesia Trigangga.

Catatan gerhana juga ditemukan dalam prasasti di Candi Belahan, Gempol, Pasuruan, Jawa Timur. Namun, prasasti itu bukan berupa tulisan, melainkan gambar atau relief yang dipahatkan dalam batu pipih yang ada di dekat petirtaan atau pemandian di kompleks candi tersebut.

Gambar yang terpahat itu berupa kepala raksasa Batara Kala saat hendak menelan bulatan yang diduga simbol Bulan atau Matahari. Dugaan itu muncul karena di bawah bulatan itu ada sosok Dewa Surya dan Dewi Candra.

Relief Batara Kala menelan bulatan itu merupakan sengkalan memet atau gambar yang mengandung artian angka. Dengan asumsi bulatan itu adalah Bulan, karena gerhana Matahari secara alamiah jarang terjadi, gambar itu berbunyi Candra sinahut Kala atau Bulan digigit Kala.

Jika diubah dalam kode angka, lanjut Trigangga, Candra merujuk angka 1, sinahut menunjukkan angka 3, dan Kala mengacu angka 9. Setelah dibalik, gambar itu merujuk pada angka tahun 931 Saka atau bertepatan tahun 1009 Masehi. Gerhana bulan yang bisa disaksikan di Jawa tahun 1009 Masehi itu terjadi pada 7 Oktober.

Gerhana bulan pada 7 Oktober 1009 Masehi itu adalah gerhana bulan total yang puncak gerhananya terjadi bersamaan dengan terbenamnya Bulan atau terbitnya Matahari.

Selain Prasasti Sucen dan Candi Belahan, masih banyak catatan tentang terjadinya gerhana bulan yang ditemukan dalam sejumlah prasasti. Meski memiliki kemampuan mencatat gerhana, ”Belum ditemukan catatan atau bukti yang menunjukkan bangsa-bangsa di Nusantara bisa memprediksi terjadinya gerhana,” kata Trigangga.

KOMPAS/NAWA TUNGGAL–Sebuah prasasti ada di petirtaan Candi Belahan, yang juga disebut sebagai Sumber Tetek di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (2/3/2016). Ditafsirkan prasasti tersebut memuat sengkalan memet untuk mendokumentasikan peristiwa gerhana bulan pada 7 Oktober 1009 di Jawa, sekaligus mencantumkan adanya pengetahuan tentang gerhana matahari melalui relief sosok Batara Kala yang hendak menelan bulan, serta sosok Dewa Surya dan Dewi Candra.–Kompas/Nawa Tunggal

Cara pikir
Dari unsur-unsur penanggalan yang tertuang di sejumlah prasasti, masyarakat saat itu masih menganut paham geosentris. Paham ini menjadikan Bumi sebagai pusat semesta dengan Matahari, Bulan, dan sejumlah planet menjadi planet-planet yang mengitari Bumi. Di masa itu, paham ini juga dianut ahli perbintangan India ataupun Eropa.

Paham geosentris mulai ditinggalkan setelah astronom dan matematikawan Nicolaus Copernicus (1473-1543) mengenalkan teori heliosentris. Dalam teori ini, justru Bumi-lah yang mengelilingi Matahari dan Matahari menjadi pusat Tata Surya yang dikelilingi planet-planet. Teori heliosentris inilah yang jadi tonggak astronomi modern.

Pemahaman manusia tentang gerhana pun berubah. Gerhana tak lagi dimaknai sebagai Bulan atau Matahari dimakan raksasa, simbol kemarahan dewa atau pertanda akan terjadi hal yang menghancurkan kehidupan Bumi. Gerhana hanya konsekuensi pergerakan sistem Matahari, Bumi, dan Bulan yang bergerak dalam sistem yang kompleks.

Perubahan pemahaman masyarakat tentang gerhana dan semestanya menunjukkan panjangnya jalan yang harus ditempuh manusia mencapai rasionalitas. Upaya mewujudkan nalar yang jadi panglima dalam berpikir itu masih jadi tantangan besar, termasuk di bangsa- bangsa maju.

Mitos lahir sebagai usaha manusia memahami peristiwa di semesta (Kompas, 10 Februari 2016). Seiring berkembangnya kemampuan berpikir manusia, berkembang cara pandang manusia pada lingkungan sekitar.

Karena itu, Widya menilai, untuk memahami cara pandang masyarakat terhadap sains, tak bisa dilepaskan dari budayanya. Rasionalitas harus terus didorong. Namun, itu tak berarti dilakukan dengan melupakan sejarah perkembangan pemikiran masyarakat yang jadi warisan kekayaan berpikir bangsa.

Meski demikian, upaya mengenalkan sains itu tak bisa dilakukan dengan mengaburkan sesuatu yang rasional dengan hal bersifat pseudosains. Sains menawarkan kepastian dengan cara terukur dan terstandar. Namun, syarat dan ketentuan berlaku pada sains harus dipahami.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 26 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: