Home / Berita / Astronomi / Gerhana Bulan Total, Rekaman Gerhana dalam Prasasti dan Candi Nusantara

Gerhana Bulan Total, Rekaman Gerhana dalam Prasasti dan Candi Nusantara

Sejak peradaban manusia berkembang, gerhana Bulan dan Matahari selalu menjadi sumber kekaguman. Rasa takjub itulah yang mendorong pencatatan gerhana dalam berbagai bentuk. Tak hanya menjadi memori sejarah, catatan-catatan itu juga menggambarkan perkembangan pengetahuan dan cara pikir manusia.

Catatan tertua tentang gerhana yang ditemukan di Indonesia tertuang dalam Prasasti Sucen. Prasasti yang ditemukan di Desa Sucen, Kecamatan Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, itu kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Piagam yang merekam gerhana Bulan 19 Maret 843 itu dipahatkan pada bagian dalam payung perak berdiameter 30,8 sentimeter.

GOOGLE MAP–Prasasti Sucen, Temanggung, Jawa Tengah.

Trigangga dalam tulisannya, ”Dewi Ratih Ditelan Kala Rau pada 19 Maret 843”, 8 Mei 2009 mengatakan bagian titimangsa dalam Prasasti Sucen itu menyebut payung perak itu dibuat saat gerhana Bulan (candragrahana) pada bulan Caitra tahun 765 Saka.

Dalam ”Five Millennium Catalog of Lunar Eclipses” karya Fred Espenak dan Jean Meeus, gerhana pada 19 Maret 843 itu adalah gerhana Bulan total. Jika menggunakan sistem penanggalan masehi saat ini, seluruh tahapan gerhana yang bisa disaksikan di Jawa itu terjadi pada Selasa, 20 Maret 843, selepas tengah malam hingga menjelang Matahari terbit.

Gerhana Bulan total 20 Maret 843 itu memiliki durasi totalitas 58,9 menit. Adapun rentang waktu fase gerhana Bulan sebagian dan gerhana Bulan penumbranya masing-masing sebesar 195,7 menit (3 jam 15 menit 42 detik) dan 308,2 menit (5 jam 8 menit 12 detik).

Jika menggunakan sistem penanggalan Masehi saat ini, Trigangga mengatakan kontak pertama Bulan dengan penumbra atau bayang-bayang luar Bumi terjadi Selasa, 20 Maret 843 pukul 00.17 WIB. Namun, menurut sistem kalender Saka yang menggunakan patokan Matahari terbit sebagai pergantian hari baru, saat dini hari itu masih termasuk Senin, 19 Maret 843.

Catatan tentang gerhana Bulan 20 Maret 843 di Prasasti Sucen itu, lanjut Trigangga, menjadi fenomena astronomi pertama di Indonesia yang tercatat dan disebutkan dalam prasasti. Prasasti adalah salah satu sumber sejarah yang tidak hanya mengungkap peristiwa politik, ekonomi, keagamaan, dan kehidupan masyarakat di masa lalu, tetapi juga mengungkap pengetahuan masyarakat, termasuk pengetahuan tentang langit.

Dari unsur-unsur penanggalan yang tertuang dalam Prasasti Sucen terungkap bahwa masyarakat saat itu yang menganut agama Hindu dan Buddha masih mengikuti paham geosentris, yaitu model alam semesta yang menjadikan Bumi sebagai patokannya. Paham ini menganggap planet dan bintang mengelilingi Bumi. Di masa itu, paham geosentris memang dianut luas dalam berbagai peradaban, mulai dari India hingga Eropa.

Paham geosentris itu baru ditinggalkan setelah Nicolaus Copernicus (1473-1543) memperkenalkan teori heliosentris, yaitu Matahari sebagai pusat Tata Surya yang dikelilingi oleh planet-planet, termasuk Bumi. Selain itu, Matahari hanyalah salah satu bintang yang merupakan anggota dari gugus bintang yang lebih besar, yaitu Galaksi Bimasakti.

”Paham heliosentris ini menjadi tonggak terpenting dalam pengetahuan astronomi modern,” tulis Trigangga.

Candi
Prasasti Sucen hanyalah salah satu dari beberapa prasasti yang memuat, memperingati, atau dibuat bersamaan dengan terjadinya gerhana. Selain prasasti, catatan kuno tentang gerhana di Indonesia juga ada di relief candi.

KOMPAS/NAWA TUNGGAL (NAW)–Sebuah prasasti ada di petirtaan Candi Belahan, yang juga disebut sebagai Sumber Tetek di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (2/3/2016). Ditafsirkan prasasti tersebut memuat sengkalan memet untuk mendokumentasikan peristiwa gerhana bulan pada 7 Oktober 1009 di Jawa, sekaligus mencantumkan adanya pengetahuan tentang gerhana matahari melalui relief sosok Batara Kala yang hendak menelan bulan, serta sosok Dewa Surya dan Dewi Candra.

Salah satu candi yang merekam peristiwa gerhana adalah Candi Belahan di Gempol, Pasuruan, Jawa Timur. Bangunan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno itu terletak di lereng timur Gunung Penanggungan pada ketinggian 336 meter di atas permukaan laut.

Bagi masyarakat Jawa kuno, Penanggungan yang juga disebut sebagai Pawitra adalah gunung suci. Di kawasan tersebut, setidaknya sudah ditemukan 116 situs bersejarah, mulai dari candi, pertapaan, hingga petirtaan. Berbagai bangunan itu merupakan bagian dari peradaban Hindu dan Buddha di Jawa Timur (Kompas, 7 Maret 2016).

GOOGLE MAP–Candi Belahan, Gempol, Pasuruan, Jawa Timur.

Catatan gerhana di Candi Belahan itu berupa relief pada batu pipih di samping kanan depan petirtaan atau pemandian di kompeks candi tersebut. Relief itu menggambarkan sosok raksasa Batara Kala saat hendak menelan bulatan atau medalion yang diduga simbol Bulan atau Matahari. Di bawah bulatan itu terdapat dua sosok yang ditafsirkan sebagai Dewa Surya atau Dewa Matahari dan Dewi Candra atau Dewi Bulan.

Batara Kala dalam relief itu digambarkan sebagai sesosok kepala berambut ikal tanpa tubuh dan kaki. Namun, makhluk itu memiliki dua tangan yang memegang bulatan tersebut. Selain dipegang, bulatan itu juga digigit oleh kepala Batara Kala.

Dalam mitologi Jawa, Batara Kala adalah raksasa pemakan Matahari atau Bulan. Namun, dalam naskah Jawa kuno Adiparwa yang berangka tahun 998 Masehi dan diduga sebagai naskah tertua di Indonesia, raksasa pemakan Matahari atau Bulan itu tidak bernama.

Raksasa itu adalah anak Sang Wipracitti dan Sang Singhika yang ingin berubah wujud menjadi dewa dengan meminum air amerta. Sang Hyang Aditya (Dewa Matahari) dan Syang Hyang Candra (Dewa Bulan) yang mengetahui ulah raksasa itu mengadukannya kepada Dewa Wisnu.

Saat air amerta itu memasuki kerongkongan raksasa, Dewa Wisnu memenggal lehernya. Badan raksasa yang belum terkena air amerta mati dan jatuh ke tanah di puncak gunung. Sementara kepala raksasa abadi dan melayang-layang di angkasa karena sudah terkena air amerta.

Dalam keabadaian itulah sang raksasa yang dendam pada Dewa Matahari dan Dewa Bulan terus berusaha memakan keduanya. Terkadang perburuan itu berhasil hingga terjadilah gerhana. Karena itu, masyarakat di sejumlah daerah memiliki tradisi memukul kentongan atau berbagai tabuhan lain agar raksasa itu memuntahkan kembali Matahari atau Bulan.

Relief yang menggambarkan Batara Kala menggigit bulatan itu sejatinya merupakan sengkalan memet atau cara menyembunyikan angka dalam bentuk gambar, relief, patung atau ornamen. Jika bulatan itu dianggap sebagai Bulan, relief Kala menggigit Bulan itu ditafsirkan sebagai kalimat Kala anahut Candra (Kala menggigit Bulan) atau juga Candra sinahut Kala (Bulan digigit Kala).

Kata-kata pada kalimat Candra sinahut Kala itu lalu diubah menjadi kode angka. Candra merujuk angka 1, sinahut angka 3 dan Kala menunjuk angka 9. Karena aturan sengkalan dibaca terbalik dari belakang, maka relief itu merujuk pada angka tahun 931 Saka yang bertepatan dengan tahun 1009 Masehi.

Itu berarti, gerhana Bulan yang direkam pada Candi Belahan merujuk pada gerhana yang terjadi tahun 1009 Masehi. ”Dari perhitungan, gerhana Bulan yang melintasi Jawa tahun itu terjadi pada 7 Oktober,” kata Trigangga (Kompas, 7 Maret 2016).

Data ”Five Millennium Catalog of Lunar Eclipses” menyebut selama tahun 1009 Masehi, terdapat dua gerhana Bulan, yaitu pada 12 April dan 7 Oktober. Namun, gerhana Bulan total 12 April itu tidak bisa diamati di Jawa.

Gerhana Bulan total pada 7 Oktober itu bisa disaksikan di Jawa dan memiliki durasi totalitas sebanyak 94,7 menit atau 1 jam 34 menit 42 detik. Di Jawa, fase totalitas gerhana itu terjadi pada saat Bulan terbenam. Dengan demikian, akhir gerhana tidak bisa disaksikan karena Bulan sudah di bawah horizon dan Matahari keburu terbit.

Selain gerhana Bulan, relief di Candi Belahan itu diyakini Trigangga juga menandakan adanya gerhana Matahari karena adanya gambar timbul Dewa Surya. Selama tahun 1009, terjadi empat kali gerhana Matahari sebagian, yaitu pada 29 Maret, 27 April, 21 September, dan 21 Oktober. Namun, tak satu pun dari gerhana Matahari itu yang bisa dilihat di Jawa.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Fenomena gerhana Matahari parsial terlihat melalui sekeping kaca di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (9/3/2016). Peristiwa langka tersebut disambut dengan meriah di sejumlah daerah di Indonesia.

Karena itu, adanya gambar timbul Dewa Surya itu diyakini hanya menunjukkan bahwa masyarakat ketika itu sudah memiliki pengetahuan tentang gerhana Matahari. Namun, terjadinya peluang untuk mengamati gerhana Matahari memang lebih kecil.

”Five Millennium Catalog of Solar Eclipses” menyebut dengan mengacu pada Yogyakarta sebagai titik acuan, antara tahun 1 Masehi hingga tahun 3000 Masehi, hanya ada 9 gerhana Matahari total dan 11 gerhana Matahari cincin yang bisa disaksikan dari kota itu. Namun, untuk gerhana Bulan, hanya dalam 300 tahun antara tahun 800 hingga tahun 1100, ada 160 gerhana Bulan total bisa disaksikan di Jawa, baik yang bisa diamati seluruhnya atau sebagian saja.

Catatan gerhana di Prasasti Sucen dan Candi Belahan itu menunjukkan nenek moyang kita telah memiliki budaya mencatat gerhana dengan baik. Tak perlu mempermasalahkan mitos yang dulu pernah ada karena pengetahuan manusia tentang gerhana berkembang seiring zaman. Perkembangan pemikiran itu dialami semua bangsa, termasuk bangsa Barat yang mewarisi mitologi Romawi dan Yunani.

Namun, pemaknaan atas fenomena gerhana itu secara rasional memang butuh waktu panjang. Bahkan, di era digital yang semua serba terbuka pun, pergulatan untuk mengedepankan rasionalitas dalam memahami gerhana dan menerapkannya dalam berbagai aspek kehidupan masih menjadi tantangan besar.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 21 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: