Home / Artikel / Radiolaria, Terobosan Baru Bidang Mikropaleontologi

Radiolaria, Terobosan Baru Bidang Mikropaleontologi

MEMPERINGATI 50 tahun Kemerdekaan RI, enam ikatan ahli profesi menyelenggarakan Kongres Ahli Ilmu Kebumian Nasional 1995 (KAIKNAS ’ 95) tanggal 6-7 Desember 1995 di Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Keenam ikatan ahli profesi itu adalah yang berkaitan dengan bumi dan kebumian seperti API (Asosiasi Panasbumi Indonesia), HAGI (Himpunan Ahli Geofisika Indonesia), IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), IATMI (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia), ISI (Ikatan Surveyor Indonesia), dan MAPIN (Masyarakat Pengindraan Jauh Indonesia).

Kegiatan yang berlangsung di ujung tahun ini biasanya merupakan wahana Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (PIT IAGI). Berkaitan dengan tahun emas Kemerdekaan RI inilah, keenam ikatan ahli itu berniat menyelenggarakan forum ilmiah yang kemungkinan akan menghasilkan magnitude yang lebih besar.

Tiga topik utama yang akan dibahas adalah Bumi: tempat bermukim; Bumi penyedia air, mineral dan energi; dan Bumi: bencana dan lingkungan hidup.

Tulisan berikut mencoba mengetengahkan salah satu aspek yang boleh dikatakan sebagai tema baru dalam ilmu kebumian, khususnya geologi. Bidang itu adalah mikropaleontologi radiolaria, suatu bidang yang dalam waktu dekat diharapkan akan ikut memberikan sahamnya dalam khasanah ilmu kebumian Indonesia, meski masih ada beberapa kendala.

Radiolaria
Tidak berlebihan bila dikatakan, fosil radiolaria belum selayaknya dimanfaatkan dalam penelitian ilmu kebumian, khususnya di Indonesia. Bahkan masih banyak kalangan ahli ilmu kebumian sendiri belum mengetahui tentang radiolaria.

Meski radiolaria telah diteliti sejak abad 19 lalu, fosilnya baru mendapat perhatian seksama pada dua dasawarsa terakhir ini. Terutama ketika ditemukannya teknik mengekstraksi fosil radiolaria dengan larutan asam fluor (HF) dan adanya sentuhan teknologi yaitu scanning electron microscope (SEM) yang digunakan untuk mengamati spesimen radiolaria.

Radiolaria adalah binatang renik berukuran 0,02-0,2 milimeter. Para peneliti living radiolaria mengamati, binatang plankton ini hidup di laut dekat permukaan hingga pada kedalaman beberapa ratus meter. Kerangka tubuhnnya dibangun oleh bahan silika.

Cangkang-cangkang silika dari radiolaria yang telah mati lalu terendap di dasar laut. Menurut para ahli mikropaleontologi, cangkang radiolaria beserta bahan sedimen lainnya melalui proses geologi akan terkompaksi membentuk batuan sedimen.

Pada batuan yang kemudian tersingkap ke permukaan bumi itulah, radiolaria yang ikut terawetkan sebagai fosil dari jutaan tahun lalu, ditemukan. Dengan kata lain, fosil radiolaria menjadi semacam rekaman mengenai peristiwa geodinamika di muka bumi.

Di Asia Pasifik
Sejak sang pelopor Ernst Haeckel (1887) menerbitkan monograf radiolaria hasil Ekspedisi HMS Challenger, penelitian radiolaria baru berkibar lagi di ujung abad ke-20 ini khususnya di Eropa, Rusia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Lihatlah, baru satu abad kemudian setelah Haeckel, orang mengetahui adanya keterkaitan antara keanekaragaman (diversity) dan kekhasan spesies radiolaria (characteristic) dengan paleo-latitude (posisi lintang purba) (Pessagno & Blome, 1986).

Artinya, fosil radiolaria yang “menumpang” di atas kerak samudera telah berkelana ribuan kilometer hingga ditemukannya di tempat yang sekarang. Namun kemajuan penelitian radiolaria juga seiring dengan persoalan-persoalan yang menyertai di belakangnya, seperti persoalan sistem taksonomi radiolaria.

Selain itu sebagaimana persoalan biostratigrafi, belum tercapai kesepakatan mengenai korelasi radiolarian zonation (kisaran umur berdasarkan keberadaan index fossils dalam lapisan batuan).’

Namun seperti halnya tidak ingin terpaku pada satu persoalan, penelitian radiolaria terus melaju. Contoh paling aktual adalah di negara Jepang. Sejak dua dasawarsa terakhir telah terjadi perubahan konsep dalam memahami geologi kepulauan Jepang, khususnya sejak ditemukannya bukti baru Jurassic Formation (batuan berumur Jura: 145-208 Ma. Ma = satuan dalam juta tahun) pada satuan batuan yang sebelumnya dipetakan sebagai Permian Formation (245-290 Ma) berdasarkan penelitian biostratigrafi radiolaria.

Dengan demikian, seseorang tak akan bisa memahami geologi Kepulauan Jepang tanpa meamahami arti penting radiolaria, begitu dijelaskan oleh Profesor Mizutani ahli geologi dari Universitas Nagoya (Episodes, September 1991).

Ada lebih dari 400 makalah yang ditulis oleh peneliti radiolaria di Jepang dan 80 persen di antaranya merupakan publikasi pada kurun tahun 1980-an dan 1990-an.

Yang mengejutkan, laporan pertama mengenai Early Cretaceous Radiolarian (radiolaria berumur Kapur Awal: 97-145 Ma) di Asia-Pasifik ternyata berasal dari penelitian contoh batuan di Indonesia.

Penelitian itu dilakukan oleh Dr GJ Hinde (1900) yang menemukan radiolaria pada contoh batuan yang diambil dari Kalimantan Tengah. Selanjutnya pada publikasi tahun 1927, Tan Sin Hok, mendeskripsi fosil radiolaria dari Pulau Roti, Nusa Tenggara Timur. Laporannya yang memuat 143 hand drawings, kini masih menjadi acuan para peneliti radiolaria di dunia.

Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia sekarang ini?
Di dalam dunia pendidikan, pengetahuan radiolaria belum diajarkan secara khusus. Pada perguruan tinggi yang memiliki jurusan geologipun, mata kuliah mikropaleontologi identik dengan pengetahuan mengenai, (hanya) fosil renik foraminifera.

Ini barangkali berkaitan dengan anggapan “apa sih pentingnya radioalaria” seperti yang masih tertulis pada The Penguin Dictionary of Geology cetakan tahun 1990 sekalipun: they (radiolaria) have no use as zone fossils.

Dalam penelitian geologi lapangan juga dijumpai hal yang sama. Sudah bukan rahasia lagi bahwa kepulauan Indonesia merupakan ”surga” bagi para ilmuwan kebumian. Sejak tiga dasawarsa terakhir, sudah ada ratusan publikasi international (yang umumnya ditulis oleh peneliti asing) khususnya membahas geologi wilayah Indonesia bagian timur.

Beberapa model tektonik berdasarkan penelitian regional telah berulang kali didiskusikan, namun beberapa fenomena tektonik masih menjadi hal yang misteri bahkan condong ke arah yang kontroversi. Dari penelitian-penelitian itu peranan mikropaleontologi serta aspek paleogeografinya umumnya diabaikan.

Dari sudut sumber daya geologi, minyak dan gas bumi misalnya, di Kepulauan Indonesia diketahui terdapat 60 cekungan sedimen tersier, namun baru 14 Cekungan yang telah berproduksi secara komersial dari 36 cekungan yang dianggap baik untuk dieksplorasi. Cekungan itu umumnya menempati wilayah Indonesia bagian barat.

Cekungan lain umumnya berada di kedalaman laut lebih dari 200 meter, yang berarti mempunyai tingkat kesulitan dan biaya yang tinggi dalam hal eksplorasinya. Di Indonesia bagian timur, kemungkinan yang menjadi sumber minyak dan gas bumi adalah batuan Mesozoic, seperti sering disebut-sebut.

Untuk lebih memahami mengenai Mesozoic provinces, Pertaminalah yang tanggap melihat situasi ini dengan memprakarsai simposium The Mesozoic in the Eastern Part of Indonesia bulan Maret 1995. Fosil radiolaria sedikit disinggung walau bukan sorotan yang utama.

Bakal berperan
Pada masa datang, tampaknya peran fosil radiolaria akan bisa dilibatkan dalam diskusi yang berkaitan dengan tektonik dan paleogeografi batuan Mesozoic, khususnya di Indonesia bagian timur. Mengingat fosil radiolaria terdapat pada batuan pelagic dan hemipelagic yang tersebar luas di sepanjang busur Banda.

Pulau Timor misalnya, yang merupakan bagian dari busur luar Banda, menyimpan banyak fosil radiolaria berumur Mesozoic. Di antaranya banyak spesies baru (endemic species) khas untuk Pulau Timor. Fosil ini menunjukkan kemiripannya dengan fauna hasil pemboran laut ODP Leg 123 : Site765 di barat laut Benua Australia daripada fauna dari Sulawesi Selatan.

Apakah ini berarti Pulau Timor yang kita lihat sekarang berasal dari serpihan Benua Australia pada jutaan tahun yang lalu? Walaupun tampaknya demikian, data yang lain tetap dibutuhkan.

Namun harus diakui, penelitian radiolaria tidak akan membuahkan banyak hasil tanpa kerja sama dengan unsur-unsur yang lain. Adalah hal yang menyenangkan bisa saling berdiskusi serta menukar informasi dan pengalaman pada forum ilmiah seperti KAIKNAS ’95 ini. Seyogyanya KAIKNAS ’95 berlangsung dengan berhasil dan membawa manfaat bagi masyarakat bangsa Indonesia.

(Munasri, anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan staf peneliti di LIPI, sedang mengikuti program doktor pada Universitas Tsukuba Jepang).

Sumber: Kompas, Kamis, 7 Desember 1995

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ilmuwan Melawan Teori Konspirasi Terkait Virus Korona

Hoaks dan teori konspirasi mengenai virus korona pemicu COVID-19 berasal dari Institut Virologi Wuhan beredar ...