Perlakuan Organisasi Profesi Berbeda

- Editor

Selasa, 18 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Organisasi profesi kedokteran dinilai memberi perlakuan berbeda terhadap kegiatan pengembangan profesi berkelanjutan pendidikan dokter dan pendidikan dokter spesialis. Itu berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dan merugikan masyarakat.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Prof Ova Emilia menyatakan itu sebagai ahli dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Praktik Kedokteran dan UU No 20/2013 Pendidikan Kedokteran, di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin (17/7).

“Peran organisasi profesi dalam continuing professional development (CPD) monopoli. Kolegium dokter tak terkait institusi pendidikan kedokteran, beranggotakan organisasi profesi. Kepentingannya beda,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengembangan profesi berkelanjutan atau CPD ialah pembelajaran profesi demi meningkatkan kemampuan. Dalam profesi dokter, CPD dikoordinasikan kolegium dari institusi pendidikan kedokteran. Kolegium menetapkan standar dan kriteria pengembangan profesi, sementara penyelenggara CPD harus mendapat akreditasi oleh kolegium.

Dalam Ikatan Dokter Indonesia, CPD dikelola Badan Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (BP2KB). Ternyata perlakuan BP2KB pada CPD pendidikan dokter dan pendidikan dokter spesialis berbeda.

CPD pendidikan dokter spesialis dikelola kolegium dari institusi pendidikan kedokteran. Adapun CPD pendidikan dokter dikelola kolegium dokter yang tak ada unsur institusi pendidikan kedokteran, tetapi diisi orang dari organisasi profesi.

Di Indonesia, satuan kredit yang didapat dari CPD jadi syarat perpanjangan surat tanda registrasi (STR) pada Konsil Kedokteran Indonesia. STR jadi syarat pengajuan surat izin praktik.

Wewenang terlalu besar
Permohonan uji materi UU Praktik Kedokteran dan UU Pendidikan Kedokteran diajukan 32 dokter dari institusi pendidikan kedokteran dan daerah, 7 orang di antaranya ialah guru besar. Menurut pemohon, Judilherry Justam, UU Praktik Kedokteran memberi wewenang terlalu besar kepada IDI sebagai organisasi profesi kedokteran sehingga IDI mengurusi pendidikan kedokteran yang jadi domain kolegium.

Ahli lain, Prof Ahmad Djojosugito (Ketua Umum PB IDI 2000- 2003), menyatakan, pemaknaan UU No 29/2004 berbeda karena penerapan UU itu belum diatur rinci. (ADH)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Juli 2017, di halaman 14 dengan judul “Perlakuan Organisasi Profesi Berbeda”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB