Publikasi dan Jurnal Ilmiah Ditingkatkan Jumlahnya

- Editor

Senin, 16 November 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peningkatan publikasi ilmiah dan jurnal ilmiah Indonesia yang terindeks internasional menunjukkan peningkatan signifikan setiap tahun. Namun, upaya peningkatan tersebut masih perlu terobosan dengan dukungan anggaran penelitian untuk menghasilkan riset, publikasi, dan jurnal ilmiah bermutu, karena Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual, Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Sadjuga mengatakan, peningkatan untuk penelitian, publikasi ilmiah, dan jurnal ilmiah mendapatkan perhatian dari pemerintah dengan melaksanakan sejumlah intervensi. Hal itu diungkapkan Sadjuga dalam Simposium Nasional Ke-2 Kualitas Jurnal 2015 yang dilaksanakan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Prasetiya Mulya di Jakarta, pekan lalu.

Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, satu perguruan tinggi Malaysia seperti Universitas Kebangsaan Malaysia pada Januari 2015 bisa menghasilkan 19.878 artikel ilmiah yang terindeks Scopus. Satu perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti Institut Teknologi Bandung baru menghasilkan 4.098 artikel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Demikian pula dengan jurnal ilmiah internasional. Jurnal Indonesia yang terindeks Scopus tahun ini 20 jurnal, sedangkan Malaysia 79 jurnal, Thailand 26 jurnal, dan Filipina 22 jurnal. Namun, jika melihat perkembangan jurnal digital, data hingga Oktober 2015 menunjukkan Indonesia terbanyak, yakni 185. Adapun Malaysia 72 jurnal, Singapura 30, dan Thailand 15.

“Targetnya, harus makin banyak jurnal ilmiah internasional. Salah satunya dengan mewajibkan semua jurnal ilmiah berubah menjadi jurnal elektronik. Akreditasi pun satu secara nasional melalui akreditasi jurnal nasional,” kata Sadjuga.

Adapun jurnal ilmiah nasional pada 2014 berjumlah 158 dan pada tahun ini ditargetkan 178. Kemristek dan Dikti memberikan bantuan untuk peningkatan e-jurnal berakreditasi nasional Rp 65 juta, sedangkan internasional sebesar Rp 85 juta.

Masalah klasik
Namun, di tengah upaya serius meningkatkan riset dan publikasi ilmiah, tantangan klasik masih dihadapi dosen peneliti. “Berbagai pelaporan keuangan justru menghambat kerja penelitian. Ancaman berhadapan dengan pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan membuat nyali peneliti dan pengelola jurnal ciut. Banyak dosen peneliti yang berani mengambil dana penelitian sekitar Rp 50 juta saja. Mereka tidak berani mengambil dana penelitian di atas Rp 1 miliar karena soal pelaporan keuangan yang sulit,” kata Siti N, dosen Universitas Sriwijaya, Palembang.

Menanggapi hal itu, Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemristek dan Dikti Ocky Radjasa mengatakan, keluhan soal pelaporan keuangan memang jadi masalah klasik yang dihadapi peneliti Indonesia. Kemristek dan Dikti berupaya mengkaji hambatan penelitian dan ditemukan masalah utama dalam pencairan yang dinilai menghambat produktivitas penelitian.

“Mekanisme pelaporan perlu diperbarui. Kami merencanakan diskusi bersama Kementerian Keuangan dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia untuk mencari solusi,” kata Ocky. (ELN)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 November 2015, di halaman 12 dengan judul “Publikasi dan Jurnal Ilmiah Ditingkatkan Jumlahnya”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Di Balik Lambang Garuda di Selembar Ijazah
Menjaga Makna Profesor Emeritus
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Kamis, 19 Maret 2026 - 14:30 WIB

Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB