Home / Berita / Program Studi Kedokteran; Sejumlah RS Pendidikan Mangkrak

Program Studi Kedokteran; Sejumlah RS Pendidikan Mangkrak

Sejumlah rumah sakit pendidikan mangkrak atau terhenti pembangunannya. Padahal, rumah sakit itu jadi bagian dari pendidikan di perguruan tinggi negeri. Untuk menuntaskan pembangunan sejumlah rumah sakit, termasuk kampus, diperkirakan membutuhkan dana Rp 8,6 triliun.

“Kami sudah mengajukan ke Presiden untuk mendapat alokasi anggaran. Saya berbicara dengan Menteri Keuangan. Bangunan diaudit BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan), hasilnya keluar, dan segera kami laporkan kepada Menteri Keuangan dan Bappenas,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir saat meresmikan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Sumatera Utara, di Medan, Sumatera Utara, Senin (9/1).

Dari 24 RS pendidikan yang dibangun, 8 RS sudah beroperasi, sisanya belum beroperasi dan tahap penyelesaian. Tiga RS pendidikan yang beroperasi mendapat akreditasi paripurna atau bintang lima dari Komisi Akreditasi RS. Rumah sakit pendidikan itu ialah Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan Universitas Sumatera Utara.

Namun, Nasir tak menyebutkan jumlah RS yang mangkrak. “Banyak, seperti di Universitas Negeri Lampung dan Universitas Sam Ratulangi,” ujarnya.

Untuk itu, RS pendidikan diminta berkolaborasi dengan RS pemerintah, baik RS umum pusat maupun RS umum daerah. Para dokter direkomendasikan jadi dosen dan nomor induk dosen khusus. Ia mengingatkan, RS membenahi layanan agar warga tak berobat ke luar negeri.

Tingkatkan kapasitas
Sebelum resmi dibuka, RS Universitas Sumatera Utara (USU) beroperasi selama sembilan bulan. Dari 500 kapasitas tempat tidur, baru ada 115 tempat tidur. Rumah sakit menempati area 38.000 meter persegi dengan luas bangunan 52.200 meter persegi berlantai lima.

Rumah sakit itu memiliki 347 dokter, tenaga kesehatan, dan petugas administrasi serta bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan April 2016. Rumah sakit itu direncanakan menjadi pusat pengembangan teknologi kedokteran di Indonesia wilayah barat pada 2025.

Rektor USU Runtung Sitepu dan Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi meminta agar RS itu memberi layanan terbaik. Harapannya, warga provinsi itu yang biasanya berobat ke luar negeri beralih ke RS USU.

Namun, menurut Direktur RS USU Azwan Hakmi Lubis, pihaknya terkendala anggaran, keterbatasan sumber daya manusia, sistem informasi, dan peralatan. Pihaknya bertahap akan menambah kapasitas tempat tidur jadi 200 unit pada 2017 dan 500 unit pada 2019.

Secara konsep, RS itu diharapkan unggul dalam penanganan infeksi tropis, trauma, dan luka bakar. Pihaknya mengembangkan riset sel punca didukung Kemenristek Dikti.

Sementara RS Mohammad Hoesin (RSMH), Palembang, menerima sertifikat dari Join Commission International (JCI) sebagai RS Pusat Akademi Pelayanan Medis, kemarin, di Palembang. Direktur Utama RSMH M Syahril mengatakan, sertifikat itu menjadikan RSMH sebagai RS berstandar internasional pertama di Sumatera. “Kami jamin mutu layanan dan keselamatan pasien sebagai RS rujukan nasional bersertifikat internasional,” ucapnya. (WSI/RAM)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Januari 2017, di halaman 14 dengan judul “Sejumlah RS Pendidikan Mangkrak”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: