Home / Featured / Prof. Dr. lr. Syamsoe’oed Sadjad Bapak Benih Indonesia

Prof. Dr. lr. Syamsoe’oed Sadjad Bapak Benih Indonesia

Regenerasi dan ‘go-public’ merupakan sikap yang harus dimiliki seorang ilmuwan. Agro-industri di pedesaan dan ‘market orientation’ menjadi pokok utama pembangunan pertanian Indonesia.

BENIH? Semua orang sudah mengenalnya. Tetapi, tidak banyak orang yang mengetahui seluk-beluk ‘cikal bakal’ kehidupan ini. Beruntung sekali, AKUTAHU mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan ‘Bapak Benih’ Indonesia. Ia adalah Prof. Dr. Ir. Sjamsoe’oed Sadjad, Guru Besar dan Kepala Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Ruang kerjanya apik. Orangnya ‘nyeni’, berambut gondrong meski dengan uban yang hampir merata, ia tampak segar dan cekatan di usianya yang mendekati ‘kepala enam’. Sepintas lalu. ia tampak mirip seorang seniman, Jangan heran, ia sendiri mempunyai hobi melukis dan termasuk penggemar pelukis kenamaan Piccaso. Ide dan gagasan baru selalu saja muncul di benaknya. “Saya tidak ingin pikiran saya mandeg”, kilahnya. Pengabdiannya dalam dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan, terus mengalir. Keterbukaan terhadap masyarakat akan ilmu yang ia miliki, selalu ia tanamkan. Oleh sebab itu, tanpa segan-segan ia menuturkan pengalamannya.

Sjamsoe’oed Sadjad yang lahir di Madiun pada tanggal 24 Juni 1931 masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (sekarang bernama Institut Pertanian Bogor) “karena masalah biayalah” katanya. Latar belakang kehidupannya sebagai keluarga petani menjadi pendorong baginya untuk memtsuki dunia pendidikan tinggi pertanian. Waktu itu, ia mengambil ‘mayor’ bidang Ilmu Politik Pertanian (Sosial Ekonomi sekarang) dan bidang Pertanaman, sedang ‘minor’nya Peternakan dan Usaha tani.

Meskipun kuliahnya belum selesai, ia sudah diangkat menjadi staf pengajar, sebagai Asisten Tanaman Setahun di bagian Cocok Tanam (kini disebut Jurusan Agronomi). Tesisnya di bidang Ilmu Politik Pertanian mengenai “Kebijaksanaan pemerintah dalam hal pembinaan tentang benih (‘seed’), baik sejak pemerintahan Belanda maupun sampai saat itu”, membawanya menyelesaikan studi di Universitas Indonesia pada tahun 1961.

Sikap kritis memacunya untuk terus berkarier. ia melihat, saat itu, teknologi benih belum banyak diketahui. Masyarakat luar negeri pun belum mengembangkannya, baru Mississippi State University. Tahun 1962, ia dikirim ke sana dengan satu keinginan ‘mengejar ilmu’. Universitas ini tergolong baru, sehingga ketika lulus dengan nilai sangat baik, ia menjadi alumni yang ke-13 dari almamaternya. Gelar Master di bidang perbenihan telah diraihnya.

Sekembalinya ke tanah air, ia segera berusaha menerapkan dan mengembangkan ilmu yang diperolehnya. Dipilihnya ‘strategi’ yang baik untuk diteliti, yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk pengembangan pendidikan. “Pengujian benih” menjadi pilihan utama. Mengapa? Secara teknologi, benih harus diuji supaya konsumen betul-betul mengetahui kualitas benih yang dipakai. Itu yang menjadi dasar pemikiran. ia memilih mencari media yang murah dan baik untuk ‘seed-testing’, tanpa harus mengimpornya dari luar. Pilihan itu jatuh pada kertas merang. Kertas ini sebenarnya adalah kertas ‘pembungkus’ biasa. Tetapi karena kertas ini murah, mudah didapat dan baik untuk digunakan dalam seed-testing, kertas ini menjadi media efektif untuk pengembangan penelitian benih. Selain itu, unsur program pengembangan pedesaan termasuk di dalamnya. Karena, kertas merang ini merupakan hasil in-dustri rumah tangga yang lebih dari 95 persen dikerjakan oleh wanita pedesaan, sehingga otomatis desa mendapat dukungan perhatian. Setelah diproses di almamaternya — Mississippi state University — dan ditulis dalam sebuah disertasi, akhirnya, diraihnya gelar Doktor IPB pada tahun 1972.

SEGERA ingin merealisasikan cita-citanya, itu yang dipegangnya. Mulai dari ‘titik nol’ ia menyiapkan segalanya, baik perangkat keras, perangkat lunak yang menyangkut program, dan pembangunan staf. “Ilmuwan tidak cukup hanya dengan mengembangkan ilmunya, dan dikatakan ‘tidak berhasil’ bila tidak bisa ‘regeneration’, tukasnya. Usahanya tidak sia-sia. Kini Jurusan Ilmu dan Teknologi Benih Fakultas Pertanian IPB yang dibinanya, telah memiliki lebih dari 20 staf pengajar. Untuk pengembangan diri lembaga ini, secara teknologi, harus dilakukan hubungan dengan dunia luar university. Pengabdian ini terwujud dalam bentuk kerjasama dengan Departemen pertanian, baik Kehutanan, Perkebunan, Peternakan, Pangan, dan lain-lain.

Selain menjadi fokus penelitian, benih (‘agronomic-seed’) juga bersifat komersial, dalam arti bisa diperdagangkan. Oleh karena itu, kemudian didirikan program studi yang khusus menghasilkan produsen dan pengawas mutu benih, agar kualitas benih tetap baik. Program pendidikan ini bersifat non-gelar. Menurut ia, “Kita harus bangga karena baru IPB-lah Perguruan Tinggi yang mempunyai program pendidikan benih yang sekomplementer ini, baik di Indonesia maupun dunia”. Karena, baik Produsen dan Pengawas benih (S-0), teknologi (S-1) dan Ilmuwan (S-3), semuanya tersedia di IPB.

Sejalan dengan Repelita I tahun 1969, ketika pemerintah mengeluarkan kebijaksanaannya untuk meningkatkan produksi padi, maka didirikan suatu ‘processing unit’ atau pabrik di Sukamandi. Pabrik ini khusus menghasilkan benih padi yang bermutu. Selain itu, atas dukungan Bank Dunia melalui Program Departemen Pertanian untuk meningkatkan mutu benih, IPB mendapat fasilitas untuk mendirikan gedung ‘seed-education centre’ (Kampus Benih).

Berbicara mengenai masalah pertanian dengan ayah dari empat anak dan kakek dari empat cucu ini, memang tidak bosan-bosannya. Ada saja hal menarik yang selalu diungkapkannya. Hingga saat ini sudah sekitar 100 artikel semipopuler mengenai pertanian yang ditulisnya di beberapa harian ibukota. “Seorang ilmuwan tidak ‘succesful’ jika dia hanya pandai sendiri. Seorang ilmuwan harus ‘go-public'” katanya berfilsafat. Ia selalu berusaha untuk mendekatkan diri dengan masyarakat luas. Salah satunya, melalui tulisannya dalam media masa. Hal ini dilakukannya sejak tahun 1970. “Tetapi jangan heran bila tulisan saya banyak mengenai politik pertanian,” ungkapnya, “Sebab saya memang mempunyai latar belakang bidang ini”.

Sebagai seorang yang berlatar belakang pendidikan Ilmu Politik Pertanian, ia merasa rugi bila tidak turut memonitor perkembangan dunia pertanian, khususnya Indonesia. Sejak awal Repelita I tahun 1969, ia sudah memonitor. ia mempunyai keinginan untuk mewujudkan monitoring ini dalam suatu disertasi. “Ini satu cita-cita saya lagi,” lanjutnya. Ia mengidamkan, agar setidak-tidaknya, kelak, para ahli pertanian dapat mempunyai landasan untuk mengikuti perekonomian makro baik secara global maupun nasional. Sehingga makroekonomi pertanian dapat seimbang dengan pakar-pakar ekonomi lainnya. Inilah ‘tipe’ ilmuwan yang patut kita teladani. Tetap berkarya, meskipun ‘segudang’ gelar disandangnya.

Menyoroti kaderisasi dan regenerasi, konsep “Bagaimana menjadikan sarjana pertanian itu to be a real-farmers,” ia mengemukakan bahwa, “Farmers yang berhasil adalah farmers yang bisa nanam dan juga bisa dagang. Farmers yang tidak bisa dagang, jangan bilang jadi farmers.” Oleh sebab itu ia selalu menegaskan “Sarjana Pertanian apa pun jika tidak bisa dagang, jangan mencoba memimpin petani”.
Jadi untuk memahami seluk beluk industri pertanian, kita harus ikut serta di dalamnya. Hal ini sudah diterapkan pada anak didiknya. Mereka diikut sertakan dalam kegiatan petani, dari mulai menanam, perawatan, menuai, processing di kampus, pengepakan dan penjualannya. Dari sinilah kita tahu alasan mengapa ia ‘greget’ ingin menyokong program sarjana masuk desa.

BEGITU getol bekerja dan menyusun berbagai konsep. Puas? Ia menyatakan baru merasa puas, jika semuanya sudah berjalan sesuai apa yang dicita-citakannya. “Itulah ‘devotion’ dalam mengembangkan ilmu,” ucapnya. “Kepuasan yang saya dapatkan, baru sekitar 50 persenlah”. Untuk perkembangan dunia pertanian, ia mengharapkan ‘Tri Darma Perguruan Tinggi’ yang mencakup pendidikan, penelitian dan pengabdian, harus benar-benar dilaksanakan.

Menurutnya, program ‘Agro-industri’ menjadi titik perhatian. Industri ini mencakup pula di dalamnya industri benih. Jika industri benih berhasil, otomatis industri lainnya gampang berkembang, pasar pun berkembang. Mengapa demikian? Sebab, benih bermutu adalah awal keberhasilan pertanian. Jadi, ia sangat mengharapkan sekali program ini berkembang.

Masih mengenai agro-industri, ia menyarankan adanya “Three-parted” yang juga harus diperhatikan, yaitu farmers sebagai koperasi, pihak swasta sebagai agroindustri dan BUMN sebagai Bank/ Asuransi. Ia tidak puas jika “desa itu KUD, dan desa itu Koperasi.” Dalam agro-industri, petani diorganisir melalui koperasi, tapi permodalan harus dibantu melalui Bank-bank dan pihak asuransi. Di sinilah sarjana berperan: menjembatani kepentingan swasta dan koperasi, antara lain, mengatur standar dalam agro-industri. Selain itu, sarjana juga harus mengawasi penggunaan modal yang diberikan bank. Semua ini demi kelanggengan usaha tani itu sendiri, agar tidak ‘jaya’ sesaat. Adanya agro-industri ini, diharapkan desa dapat berkembang.

Kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan pertanian, menurut pandangannya belumlah sempurna. Selama ini petani sangat dipimpin oleh proyek pemerintah, karena memang tingkat pendidikan petani masih memerlukan dorongan, penyuluhan, dan pendidikan dari luar. Program swasembada pangan yang dicanangkan, menyebabkan orientasi petani tidak ‘market orientation’ lagi. Ini yang perlu diatasi. Petani harus selalu berorientasi ke pasar dan keadaan pasar harus selalu diinformasikan pada petani. Selain itu, ia menegaskan “Industri-industri yang sebenarnya bisa dilakukan di pedesaan, harus dipertegas kebijaksanaanya”.

Pembangunan pertanian masih harus dikembangkan, karena industrialisasi masih bertulang punggung pada industri pertanian. Teknologi-teknologi pertanian harus betul-betul dapat dimanfaatkan di pedesaan.

Khusus mengenai diversifikasi pangan yang kini masih menjadi topik nasional, ia mengemukakan buah pikirannya. “Diversifikasi pangan tidak hanya mengganti beras dengan bahan makananan lain, tetapi juga pengubahan ‘food-habit'(kebiasaan makan) seseorang”. Ini dapat kita mulai dari pengubahan kebiasaan makan anak-cucu kita. Jadi diversifikasi pangan, harus dipertegas batasannya.

MENDEKATI masa pensiun yang tinggal 7 tahun lagi, ia masih terus berkarya. Selain menulis artikel, ia juga aktif menulis beberapa publikasi. Salah satu karya terbarunya berjudul “Konsepsi Steinbuer-Sadjad sebagai Landasan Pengembangan Matematika Benih di Indonesia”. Satu lagi pekerjaan yang masih ditekuninya ialah menyempurnakan alat “Germinator” yang akan digunakan Dr. Pratiwi Sudarmono dalam penelitian benih di luar angkasa. Ia mengetengahkan hipotesa, merancang alat, dan mengirim-kannya pada NASA. “Saya mengambil topik ‘Energi Consumption'” katanya. “Kita bisa melawan one-G di bumi karena adanya extra-energi, demikian pula dengan tanaman dan benih. Kalau vigor tanaman kurang baik, mungkin dia akan mati. Tetapi, barangkali, di luar angkasa energiconsumptionnya berbeda. Sehingga, benih dapat tumbuh lebih baik di sana. Demikian pula, ketidakberhasilan pemuliaan tanaman karena kelemahan untuk hidup, siapa tahu bisa diatasi di sana”.

Masih banyak lagi alat lain yang diciptakannya. Untuk apa? “Dialektika pembangunan pertanian harus terus berkembang,” ujarnya mantap. Entah, berapa banyak lagi yang akan terungkap dari benaknya. Tampaknya, ia masih belum berhenti, ia masih belum lelah….

Yohana Parwati

Sumber: Majalah AKU TAHU/ AGUSTUS 1989

Share
%d blogger menyukai ini: