Home / Berita / IPB Kembangkan Benih Hasil Riset

IPB Kembangkan Benih Hasil Riset

Institut Pertanian Bogor mengembangkan industri rintisan untuk mengomersialkan benih hasil riset pengajarnya, salah satunya benih padi varietas IPB 3S. Itu bagian dari hilirisasi hasil riset agar bermanfaat bagi masyarakat sehingga mendapat pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Benih padi IPB 3S diklaim sebagai benih unggul varietas baru hasil pemuliaan pengajar Fakultas Pertanian IPB, Hajrial Aswidinoor, melalui persilangan.

”Pengembangan penggunaan varietas padi itu pada lahan 2 juta hektar meningkatkan produksi padi nasional 4-6 juta ton gabah kering saat panen,” kata Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerja Sama IPB Anas Miftah Fauzi.

Anas menuturkan itu pada Seminar Nasional dan Kongres Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) 2016 di Bogor, Rabu (27/4). Turut hadir Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan Mukti Sardjono dan Ketua Umum Peragi Achmad Manggabarani.

Ketua Pelaksana Program Start-Up Industry Benih IPB S3 Abdul Qadir mengatakan, program pengembangan industri rintisan berjalan minimal tiga tahun. Tahun ini, IPB menerima kucuran Rp 9,8 miliar dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk pengembangan industri benih sumber (benih untuk perbanyakan atau yang menghasilkan benih penjenis). Salah satu kegiatannya adalah produksi benih sumber pada lahan 50 hektar yang dikawal Seed Center IPB.

Tahun 2017, perusahaan milik IPB, PT Bogor Life Science and Technology (BLST), akan membuat industri rintisan benih komersial yang akan menggandeng perusahaan penangkar di bawah Asosiasi Benih Indonesia (Asbenindo). BLST pada Desember 2015 sudah meneken kontrak dengan Asbenindo untuk produksi benih IPB 3S selama tiga tahun pada lahan 100.000 hektar.

Industri rintisan benih sumber padi diluncurkan melalui penanaman perdana varietas IPB 3S lahan di Cariu, Bogor, Senin lalu. Potensi produktivitas varietas itu mencapai 11,2 ton gabah kering panen per hektar, atau lebih banyak 2-3 ton per hektar dibandingkan varietas ciherang.

Pengembang Industri Rintisan Benih IPB 3S Sudah Mengantisipasi
Ketua Pelaksana Program Start-Up Industry Benih IPB S3 Abdul Qadir menuturkan, teknik budidaya IPB 3S agak berbeda dari teknik biasa sehingga IPB mengembangkan paket teknologi agar produktivitas penanaman IPB 2S bisa optimal, antara lain melalui perbaikan lingkungan tanah, penggunaan varietas IPB 3S, penggunaan teknologi mekanisasi pertanian, serta pendampingan oleh penyuluh dan perguruan tinggi.

Selain itu, karena tergolong baru, kepadatan populasi benih saat ditanam harus lebih rapat dibandingkan benih varietas lain yang sudah berkembang, yaitu 4-5 benih per lubang.

Kondisi tersebut membuat tanaman varietas IPB 3S berat sehingga mudah rebah. Untuk itu, penanam sebaiknya mengurangi penggunaan pupuk urea dan air. Sisi baiknya, penanaman lebih hemat pupuk urea dan air dibandingkan penanaman padi seperti biasanya. ”Petani bisa menghemat pupuk urea hingga 50 persen dibandingkan penanaman padi rata-rata,” ujar Dekan Fakultas Pertanian IPB Agus Purwito.

Abdul Qadir menambahkan, industri IPB nantinya bakal mengembangkan komersialisasi varietas hasil riset yang lain mengingat preferensi petani dan kondisi lahan berbeda-beda. Varietas IPB 3S tidak untuk menggantikan varietas tertentu, tetapi menjadi alternatif pilihan bagi konsumen. Salah satu varietas lain yang sedang dikembangkan adalah benih padi IPB 4S.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan Mukti Sardjono mengatakan, varietas-varietas benih yang sudah dilepas oleh Kementan, termasuk IPB 3S, bisa ikut berkontribusi untuk program 1.000 desa mandiri benih di 32 provinsi.Kegiatannya, membuat penangkaran benih seluas 10 hektar per desa, dengan kucuran bantuan sosial Rp 170 juta per unit.

Dampak Revolusi Hijau Semasa Orde Baru
Mayoritas lahan hortikultura di darat dalam kondisi kritis.Kondisi itu dampak revolusi hijau semasa Orde Baru.

Karena terlalu banyak menggunakan pupuk dan pestisida kimia, tanah menjadi keras dan penuh racun bagi mikroba-mikroba bermanfaat. Maka, upaya penyehatan tanah diperlukan, salah satunya memanfaatkan pupuk organik hayati.

Alasannya, kata Iswandi, pupuk organik mengandung 16 unsur hara, tidak hanya unsur natrium, fosfat, dan kalium (NPK) seperti pada pupuk kimia. Penggunaan pupuk kimia tidak dihapuskan sepenuhnya, agar kebutuhan unsur NPK tercukupi, tetapi pupuk utamanya pupuk organik hayati.

Dekan Fakultas Pertanian IPB Agus Purwito menuturkan, angka potensi produktivitas varietas IPB 3S diperoleh melalui pengujian di sejumlah lokasi sejak 2012. Varietas IPB 3S punya malai panjang sehingga menghasilkan banyak gabah, yakni 300-an gabah per malai. Varietas ciherang 160-an gabah per malai.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Iswandi Anas Chaniago mengingatkan, seunggul apa pun varietas benih, produktivitas tidak akan optimal jika faktor-faktor lain tidak diperhatikan. Salah satunya adalah kesehatan tanah.

”Sekitar 80 persen lahan hortikultura di darat saat ini dalam kondisi kritis karena sudah minim minim unsur hara,” ujarnya. (JOG)

—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 April 2016, di halaman 14 dengan judul “IPB Kembangkan Benih Hasil Riset”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: