Padi Varietas Unggul Batan Belum Dimanfaatkan Optimal

- Editor

Selasa, 15 November 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meskipun mempunyai sejumlah keunggulan dan memberikan dampak ekonomi tinggi bagi petani, padi varietas unggul hasil riset Badan Tenaga Nuklir Nasional belum dimanfaatkan luas. Kendala koordinasi antarlembaga riset dan perguruan tinggi peneliti benih padi mendesak diatasi agar ketahanan pangan segera tercapai.

Hingga kini, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menghasilkan 22 varietas unggul padi. Itu diperoleh dengan teknik pemuliaan menggunakan mutasi radiasi sinar gamma. Pemuliaan bertujuan memperbaiki sifat genetik tanaman untuk meningkatkan produktivitas dan memunculkan sifat unggul.

“Bagaimana memasukkan hasil riset itu dalam sistem benih nasional dan mengoordinasikannya dengan Kementerian Pertanian masih jadi tantangan,” kata Kepala Batan Djarot S Wisnubroto, di sela Group Fellowship Training Course on Plant Mutation Breeding untuk kawasan Asia di Jakarta, Senin (14/11). Karena belum masuk sistem, Batan harus mempromosikan benih itu langsung ke petani dan pemerintah daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peneliti pemuliaan tanaman Batan, Soeranto Human, mengatakan, teknik radiasi sinar gamma hanya mengubah gen di tanaman asal tanpa memasukkan gen tanaman lain, seperti teknik yang diterapkan untuk tanaman transgenik. “Radiasi sinar gamma hanya mempercepat proses evolusi tanaman yang bermutasi akibat sinar matahari,” katanya.

Untuk dapat satu produk mutan (hasil mutasi) di alam, butuh puluhan tahun. Dengan radiasi sinar gamma, mutasi tanaman untuk mendapat varietas unggul hingga lima-enam kali penanaman hanya butuh beberapa tahun.

Dibanding produk transgenik yang banyak ditolak, pemuliaan dengan mutasi radiasi lebih diterima di dunia. Tanaman hasil penyinaran sinar gamma relatif tidak memiliki masalah keamanan biologi atau etika.

7a152cc8dd784abeb85da4746d81b28bKOMPAS/M ZAID WAHYUDI–Pemulia tanaman padi Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Ita Dwi Mahyani, menunjukkan penangkaran padi varietas unggul di National Science and Techno Park, Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Senin (14/11). Dengan teknik mutasi radiasi, Batan menghasilkan 22 varietas unggul padi. Namun, sebagian besar hasil riset itu belum dimanfaatkan secara luas.

“Ada lebih dari 3.200 varietas tanaman di dunia yang dihasilkan teknik mutasi radiasi sinar gamma,” kata ahli pemuliaan tanaman Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Stephan Nielen. Batan menjadi pusat pelatihan teknik pemuliaan mutasi radiasi tanaman Asia Pasifik.

Salah satu varietas unggul padi yang sedang dikembangkan Batan adalah Mustaban (mutasi radiasi varietas Banten). Pemulia tanaman padi Batan, Ita Dwi Mahyani, mengatakan, varietas itu berasal dari padi lokal Banten, Kewal, dengan tinggi 180 sentimeter (cm), umur panen 6 bulan, dan tingkat produksinya hanya 3,5 ton per hektar.

Setelah dimuliakan dengan radiasi, tinggi tanaman jadi 105-120 cm, umur panen 3-4 bulan, dan produksi rata-rata 6,6 ton per hektar yang bisa dioptimalkan hingga 10,9 ton per hektar.

“Rendemen beras kepalanya mencapai 92,5 persen. Artinya, sangat sedikit gabah terbuang,” ujarnya. Beras yang dihasilkan lebih pulen berkadar amilosa 13,3. Nasi dianggap pera jika kadar amilosa di atas 25. (MZW)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 November 2016, di halaman 14 dengan judul “Padi Varietas Unggul Batan Belum Dimanfaatkan Optimal”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 5 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB