Home / Berita / Peserta Indonesia Meraih Dua Penghargaan

Peserta Indonesia Meraih Dua Penghargaan

Kompetisi Inovasi Teknologi Global
Dua peserta dari Indonesia meraih penghargaan emas dan perunggu dalam kompetisi inovasi global. Mereka akan diberi kesempatan mengubah ide tersebut menjadi kenyataan dalam enam bulan di bawah bimbingan para ahli.

Tim dari Women and Youth Development Institute of Indonesia yang diwakili Siti Nurjanah meraih penghargaan emas. Sementara tim Sarana Jaringan Relawan untuk Perubahan Iklim diwakili Ida Nurwidya meraih penghargaan perunggu.

Siti Nurjanah menjelaskan, timnya menggagas penggunaan solusi teknologi untuk mendukung dialog berkelanjutan antara pemerintah lokal dan anggota masyarakat yang berusaha untuk membuat suara mereka diperhatikan di wacana politik lokal Indonesia. “Perempuan bisa menyuarakan aspirasi misalnya jika pembangunan merusak lingkungan,” ujarnya.

Ida Nurwidya, Direktur Eksekutif Bandung Institute of Governance Studies, menyatakan, timnya menggagas pemakaian pesan pendek dan platform berbasis situs. Itu untuk menciptakan informasi lokal yang mudah diakses terkait informasi komunitas yang kena dampak perubahan iklim di Indonesia.

Mereka termasuk 10 finalis dari negara-negara di dunia. Penghargaan diberikan Kamis (16/4) malam di Jakarta. Acara itu dihadiri Duta Besar AS untuk Indonesia Robert Blake dan perwakilan lembaga-lembaga internasional. Menurut Blake, teknologi sederhana seperti media sosial efektif melawan korupsi. (B11)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 April 2015, di halaman 13 dengan judul “Peserta Indonesia Meraih Dua Penghargaan”.

—————–

10 Finalis ‘Global Innovation Competition 2015’ Siap Unjuk Kemampuan

20150414090858652Sebanyak 10 inovator yang merupakan finalis Global Innovation Competition 2015 yang mulai berlangsung di Jakarta sejak Senin (13/4), siap bersaing menjadi yang terbaik di ajang kompetensi yang bergengsi tersebut.

Direktur Inovasi, Dausi Were dalam rilis yang diterima SP di Jakarta, Selasa (14/4), mengatakan, lebih dari 25.000 ide-ide dari publik masuk untuk mengikuti kompetisi tahun ini.

Setelah diseleksi dan pemeriksaan oleh tim Make All Voices Count, Jakarta pun ditetapkan sebagai tempat berkompetisi bagi 10 finalis. Mereka berasal dari seluruh dunia.

Sepuluh inovator dari seluruh dunia itu, kata Dausi Were, akan berlomba meraih dana hibah sebesar 300.000 pounsterling.

Para pemenang juga akan diberi kesempatan mengubah ide mereka menjadi kenyataan dalam jangka waktu enam bulan di bawah bimbingan para ahli.

Dausi mengatatakan, Global Innovation Competition (GIC)) diselenggarakan oleh Make All Voices Count (MAVC) adalah suatu inisiatif internasional untuk membangun pemerintahan efektif dan akutabilitas di Asia dan Afrika.

“MAVC aktif mendorong secara substansial tata kelola pemerintahan demokratis, efektif dan akuntabilitas lewat berbagai program, salah satunya adalah GIC,” katanya.

GIC melombakan masalah dan akuntabilitas tata kelola pemerintahan yang berbeda setiap tahun dan menggunakan voting suara publik untuk mengidentifikasi dan memberi skor bagi para peserta dari berbagai negara.

Hibah GIC diberikan kepada peserta dengan ide-ide yang inovatif atau konsep yang terbukti dan teruji.

Dijelaskan, peserta harus membuktikan bahwa mereka akan melaksanakan ide tersebut di negara-negara Make All Voices Count yaitu Bangladesh, Ghana, Indonesia, Kenya, Liberia, Mozambik, Nigeria, Pakistan, Filipina, Afrika Selatan, Tanzania dan Uganda.

Tema GIC tahun ini, lanjut Dausi, mencakup Keterbukaan Legislatif, Tata Kelola Pemerintahan Lokal, Kesetaraan Gender dan Membangun Ketahanan dan Respons Terhadap Krisis Kemanusiaan.

“Perusahaan, pegawai pemerintah, yayasan, lembaga-profits, lembaga pendidikan, LSM atau individu bisa menjadi peserta. Peserta tahun lalu pun diizinkan mengikuti kembali kompetisi ini. Peserta dapat menerapkan sebanyak mungkin ide,” katanya.

Kompetisi ini dimulai dengan ajakan untuk melahirkan solusi penuh terobosan yang menggaungkan suara masyarakat luas dan mendorong pemerintahan yang bersih di negara-negara Asia dan Afrika.

Dausi Were pun mendorong para peserta untuk “Berpikir besar, berpikir radikal. Melihat masalah dengan cara pandang baru dan mendengarkan permasalahan yang tidak pernah mengemuka!”

Juri GIC 2015
Dausie mengatakan, para juri GIC 2015 dipilih dari beragam negara dengan beragam latarbelakang. Para juri dipimpin oleh Sheila Ochugboju, pendiri Africaknows, mantan Chief Communications Officer untuk The African Center for Economic Transformation (ACET).

Selain itu ada Director of Highway Africa, Chris Kabwato. Dia aktif di School of Journalism and Media Studies Rhodes University, Afrika Selatan.

Salah satu juri adalah Jeff Hall, konsultan UNICEF Indonesia. Lalu Tess Briones dari Monitoring and Evaluation Officer pada Ateneo School of Government, Philippine.

Dari Pakistan, Faisal Chohan seorang entrepreneur teknologi sekaligus innovator, ahli dalam online recruitment. Lalu Dr Shikoh Gitau-Nyagah, Senior Consultant dari Kenya.

Onno W. Purbo dari Indonesia dan Ben Witjes sebagi wakil Hivos, juga masuk jajaran juri GIC 2015.

Dari 10 finalis tahun ini, dua berasal dari Indonesia, yaitu : ’The Volunteer Network Platform on Climate Change Info’ dengan ide penggunaan SMS dan platform berbasis website untuk menciptakan informasi lokal yang mudah diakses tentang informasi mengenai komunitas yang terkena dampak perubahan suhu di Indonesia.

Lalu ’Women and Youth Development Institute of Indonesia’ dengan ide penggunaan solusi teknologi untuk mendukung dialog berkelanjutan antara pemerintah lokal dan anggota masyarakat yang berusaha untuk membuat suara mereka diperhatikan dan didengar di wacana politik lokal Indonesia.

Finalis dari Pakistan, Responsive Governance via Active Youth Engagement, mengusung proyek kerja sama kelompok aktivis muda untuk mengukur dan menetapkan acuanmengenai kinerja pejabat pemerintah serta mengatasi masalah korupsi di Pakistan.

Dari Philiphine, Balangay, maju dengan ide disain sistem informasi terbuka yang bertujuan meningkatkan implementasi dan akuntabilitas persiapan bencana, respon dan tindakan pemulihan paska bencana.

Wakil Asia lainnya, Bangladesh, mengusung proyek yang bertujuan membuat kondisi pekerja lebih transparan dan mendorong implementasi dari peraturan terbaru mengenai kondisi kerja di Pakistan.

Sementara itu, Afrika diwakili 5 finalis dari 5 negara. Salah satunya Face2Face dari Mozambik dengan ide Memperluas Dialog Lokal di Mozambik.

Melalui social-media, komunitas radio dan ICT, Face2Face menelusuri pengalaman masyarakat dalam memperoleh informasi sesuai dengan Hukum Informasi Mozambik yang baru.

Lalu Afrika Selatan, The Citizen Justice Network (CJN) yang  akan menyelidiki dan menyoroti ketidakadilan yang tidak dilaporkan di daerah pedesaan Afrika Selatan.

Dari Ghana, Action Voices Ghana dengan proyek saluran telepon gratis dalam bahasa lokal. Action Voices Ghana bertujuan meyakinkan masyarakat untuk berbicara tentang pengalaman mereka mengenai pelayanan pemerintah secara rahasia dan tanpa biasa.

Dua wakil Afrika lainnya adalah Kenya yang diwakili Know Your Rights – M3 Mobile Messaging to the Masses.

Tujuan proyek ini adalah menghubungkan masyarakat dengan pemerintahan mereka melalui teknologi-bergerak agar bisa lebih mudah memahami hak-hak mereka dan mengedepankan prioritas untuk mengembangkan akses ke lembaga hukum di Kenya.

Terakhir, Nigeria dengan  BudgIT – Tracking Budget in Nigeria States yang lewat situ www.tracka.ng  mengukur kinerja pemerintah di pedesaan dan perkotaan.

Proyek ini menyusun data yang relevan dan mudah diakses oleh masyarakat Nigeria sekaligus meningkatkan kemampuan mereka berpartisipasi dalam penyediaan pelayanan di tingkat lokal.

Dari 13 April hingga 17 April 2015, para finalis di Jakarta bekerja dengan para ahli untuk mempersiapkan presentasi akhir di hadapan juri.

Para pemenang akan diumumkan pada Gala Night pada Kamis, 16 April 2015 sekaligus merayakan dan mengapresiasi kerja para finalis lainnya. [PR/L-8]

Sumber: Suara Pembaruan, Selasa, 14 April 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: