Pesawat Nirawak Bayucaraka ITS Berjaya di Turki

- Editor

Senin, 23 September 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim Bayucaraka Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya menyabet juara pertama di ajang Tübitak International Unmanned Aerial Vehicle Competition 2019 yang berlangsung di Istanbul, Turki, Senin-Kamis (16-20/9/2019). Ajang yang digelar tahunan ini adalah kompetisi bagi para pembuat pesawat nirawak dari berbagai negara.

Tim Bayucaraka ITS menjadi juara pertama dalam kategori Fix Wing. Pesawat nirawak milik mereka juga menyabet predikat desain terbaik. Pencapaian yang diraih Bayucaraka meningkat dari hasil tahun lalu yang hanya menempati urutan kelima. Pesawat nirawak karya mahasiswa ITS mengungguli pencapaian 40 tim lain yang berasal dari 30 negara, termasuk tim dari Indonesia lainnya, dari Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung.

HUMAS ITS–Tim Bayucaraka ITS bersama robot terbang andalannya berhasil meraih juara pertama di kompetisi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) 2019 di Istanbul, Turki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Berdasarkan evaluasi dari tahun lalu, kami melakukan beberapa peningkatan. Hasilnya, kami bisa tampil maksimal sehingga mampu meraih juara,” ujar bagian humas tim Bayucaraka ITS, Mohamad Ikbal Pangestu, Sabtu (21/9/2019), di Surabaya.

Selama perlombaan, kata Ikbal, semua pesawat nirawak harus menyelesaikan dua misi. Pertama, pesawat harus terbang dan bermanuver membentuk angka delapan. Pada misi ini, tim Bayucaraka ITS berhasil memperoleh waktu paling cepat dengan kendali autonomous atau tanpa kendali manual.

”Sebenarnya juga diperbolehkan secara manual, tetapi nilai yang diperoleh menjadi lebih kecil,” ungkap mahasiswa Departemen Kimia ITS tersebut.

HUMAS ITS–Tim Bayucaraka (kaus kuning) dengan robot terbangnya saat di arena lomba Unmanned Aerial Vehicle (UAV) 2019 di Istanbul, Turki.

Sementara dalam misi yang kedua, setiap pesawat ditantang menjatuhkan barang dari udara pada daerah yang telah ditentukan. Dalam tantangan ini, pesawat nirawak ITS mampu mendapatkan jarak terdekat dari yang ditentukan panitia.

Seusai menjuarai kompetisi ini, lanjut Ikbal, tim Bayucaraka akan menyiapkan diri dalam kompetisi Kontes Robot Terbang Indonesia pada Oktober mendatang. ”Kami berharap bisa mendapatkan juara pertama,” ujarnya.

Rektor ITS Mochamad Ashari berharap tim Bayucaraka bisa terus meningkatkan prestasi di kejuaraan-kejuaraan dalam dan luar negeri. Capaian ini menjadi bukti bahwa ITS tidak bisa diremehkan di kancah dunia.

Akan tetapi, dia mengingatkan bahwa prestasi ini bukan puncak dari perjuangan para mahasiswa. Mereka harus terus bisa meningkatkan prestasi di setiap kejuaraan. ”Perbaikan harus terus dilakukan agar karya mahasiswa selalu berada lebih terdepan dibanding yang lain,” kata Ashari.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk pada 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.–IQBAL BASYARI

Editor CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Sumber: Kompas, 21 September 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 35 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru