Home / Berita / Pernikahan Milenaial, Saat Cinta Tak Cukup Lagi

Pernikahan Milenaial, Saat Cinta Tak Cukup Lagi

Meski tingkat pernikahan global terus turun, masih banyak anak muda generasi milenial tetap ingin menikah. Namun, mereka tak mau menikah dengan membabi buta seperti generasi sebelumnya, hanya karena ingin bertahan hidup atau sekadar cinta. Bagi mereka, menikah ialah sarana untuk aktualisasi diri.

Jumlah lajang di usia 40 tahun atau mereka yang memutuskan tak menikah terus naik. Meski menikah atau tidak adalah pilihan, itu punya risiko yang memengaruhi kebijakan dan kesejahteraan bangsa.

Meski generasi milenial lebih terbuka dengan urusan seksualitas, hasrat mereka menikah tetap tinggi. Namun, beban sosio ekonomi yang muncul akibat pernikahan jadi tantangan.

Profesor psikologi Universitas Northwestern, Amerika Serikat, Eli J Finkel, dalam artikelnya, “The All-or-Nothing Marriage”, di New York Times, 16 Februari 2014, menyatakan, dibandingkan generasi sebelumnya, pernikahan masa kini melemah. Ini ditunjukkan dengan rendahnya kepuasan pernikahan dan tingginya perceraian. Pada saat bersamaan, pernikahan kini menguat karena kepuasan dan kesejahteraan naik.

Evolusi
Berubahnya kondisi pernikahan sejatinya menunjukkan berevolusi pernikahan. Definisi pernikahan tak hanya berubah seiring waktu, tapi juga budaya.

Sosiolog Universitas Johns Hopkins, AS, dan sejarawan Evergreen State College, AS, Stephanie Coontz, menilai, sejak 1850 hingga kini ada tiga model pernikahan di AS. Sebelum 1850, saat warga bertumpu pada pertanian, pernikahan demi menopang produksi pangan dan proteksi dari kekerasan.

Pada 1850-1965, seiring transisi dari masyarakat perdesaan ke urban, alasan pernikahan mulai berkutat pada kebutuhan hubungan intim. Contohnya, keinginan mencintai/dicintai dan kehidupan seksual memuaskan.

Sejak 1965, pernikahan jadi ekspresi diri. Menikah dilakukan untuk menemukan jati diri, meningkatkan harga diri, dan mengembangkan diri. Lembaga pernikahan dinilai kurang penting dan hanya jadi pilihan mencapai kebutuhan pribadi.

Finkel melihat perubahan model pernikahan sejalan teori hierarki kebutuhan manusia Abraham Maslow (1943). Maslow membagi kebutuhan manusia pada lima tingkatan dari paling dasar untuk memenuhi kebutuhan fisiologi sampai tingkat tertinggi, demi aktualisasi diri.

Munculnya kebutuhan di tingkatan lebih tinggi bergantung kepuasan pemenuhan kebutuhan tingkat lebih bawah. Saat kebutuhan tingkat bawah tak terpenuhi, manusia fokus memenuhi kebutuhan lebih dasar lebih dulu.

Tinggi harapan
Dari teori Maslow itu, kini alasan generasi milenial menikah ialah aktualisasi diri. Menikah tak lagi sekadar keinginan mengekspresikan cinta, apalagi hanya memenuhi tuntutan masyarakat atau budaya.

“Cinta saja tak cukup lagi jadi alasan menikah, tapi cinta plus plus,” kata psikolog hubungan romantis Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Pingkan CB Rumondor, Rabu (25/10).

Namun, Pingkan mengingatkan, pola pernikahan generasi milenial tak bisa disamaratakan. Selain penggolongan generasi diperdebatkan, kondisi sosial budaya di semua area tak sama.

Pernikahan ala milenial bisa terjadi pada sebagian anak muda urban Indonesia yang terpenuhi kebutuhan dasarnya. Bagi anak muda milenial yang masih berkutat dengan kebutuhan bertahan hidup, nikah karena ekonomi atau cinta mudah ditemui.

Dalam pernikahan karena aktualisasi diri, yang dikejar ialah ekspresi diri. Pernikahan jadi sarana optimalisasi potensi diri dalam karier, hobi, dan spiritual. Pasangan yang diharapkan tak hanya rekan menjalin keintiman, tetapi juga sosok yang membantu pasangan jadi lebih baik.

“Pasangan dipilih ialah orang yang mengoptimalkan apa yang dimiliki pasangan demi hasil dimaui,” ujarnya. Itu membuat pasangan yang diharapkan ialah sosok ideal yang bisa memenuhi segala yang kita cita-citakan.

Harapan itu membuat pernikahan penuh tekanan. Terlebih jika ternyata pasangan yang kita dapat tak sesuai harapan.

Pingkan mengatakan, tak ada yang salah jika alasan menikah ialah aktualisasi diri. Namun, sejak awal harus disadari, pasangan tak mungkin melakukan semua yang kita inginkan. “Kita kerap beranggapan pasangan punya banyak kekurangan. Padahal, itu karena kita terlalu banyak meminta,” ujarnya.

Hal itu membuat pernikahan rentan perceraian. Jika bertahan, hal yang terjadi ialah pernikahan penuh derita karena seseorang tak bisa mengekspresikan diri. Jika kebutuhan aktualisasi diri terpenuhi, pernikahan menghasilkan kebahagiaan dan kesejahteraan berlipat-lipat.

Investasi waktu
Meski penuh tekanan, persoalan akibat pernikahan karena aktualisasi diri bisa diantisipasi. Harapan pada kondisi pasangan bisa dibahas. Tiap pasangan perlu berinvestasi waktu dan tenaga serta mampu berpendapat, mendengarkan, dan menegosiasikan.

“Pernikahan yang amat memuaskan tak bisa didapat jika kita tak meluangkan waktu dan energi untuk saling memahami pasangan dan membantu mereka tumbuh lebih baik,” tulis Olga Khazan dalam “We Expect Too Much from Our Romantic Partners” di Theatlantic.com, 29 September 2017.

Investasi waktu dan tenaga dalam merawat pernikahan adalah kunci. Bagaimanapun, cinta adalah sesuatu yang fluktuatif. Tak mungkin cinta tetap sama dari awal pandangan pertama sampai usia pernikahan 10-15 tahun. Jadi, cinta dan pernikahan harus dirawat dan diperjuangkan. (M ZAID WAHYUDI)

Sumber: Kompas, 28 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: