Nikah Muda Memicu Angka Kematian Ibu

- Editor

Selasa, 5 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maraknya pernikahan usia dini berkontribusi pada tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Namun, sosialisasi risiko pernikahan dini dan pendewasaan usia nikah minim. Untuk itu, perlu intervensi untuk menyiapkan remaja sebelum menikah.

“Perkawinan usia dini memicu tingginya angka kematian ibu,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty pada acara Fokus Tekan Pernikahan Dini, BKKBN Lakukan Rebranding Program Generasi Berencana (GenRe)”, Senin (4/4), di Jakarta.

Penyebab tingginya angka kematian ibu antara lain hamil di usia terlalu muda, hamil di usia terlalu tua, jumlah anak terlalu banyak, dan jarak kehamilan terlalu rapat. Usia menikah ideal menurut kampanye program GenRe BKKBN adalah di atas 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi lelaki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari sisi medis, remaja perempuan usia 10-14 tahun berisiko meninggal saat hamil atau melahirkan lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan berusia 20-25 tahun. Sementara risiko kematian pada anak yang menikah pada usia 15-19 tahun dua kali lebih tinggi.

Selain itu, remaja perempuan yang menikah usia dini berisiko mengalami masalah kesehatan reproduksi, seperti kanker leher rahim, trauma fisik pada organ intim, dan kehamilan berisiko tinggi-preeklampsia, bayi prematur, dan kematian ibu.

Dari sisi sosial, pernikahan dini berdampak buruk pada psikologis remaja karena emosi mereka tak stabil dan cara pikir belum matang. Sekitar 44 persen perempuan yang menikah di usia dini mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan frekuensi tinggi, sisanya mengalami KDRT frekuensi rendah.

Meski BKKBN telah lama meluncurkan program GenRe, kampanye penundaan usia perkawinan atau penghentian pernikahan dini tak bisa menekan angka pernikahan usia muda. “Kampanye belum optimal karena kurang sosialisasi ke remaja,” ucap Surya.

Menurut hasil survei indikator kinerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Program Kependudukan dan Keluarga Berencana 2015, ada 19,2 persen responden remaja wanita akan menikah di bawah usia 22 tahun. Adapun 46,2 remaja pria menikah di usia 20-25 tahun.

Libatkan remaja
Kini, pihaknya menggaet sejumlah remaja untuk membantu kampanye GenRe terkait risiko pernikahan dini ke teman sebaya. Mereka aktif menyosialisasikan informasi di jejaring sosial terkait rencana remaja berkeluarga.

Sekretaris Umum BKKBN Ambar Rahayu menambahkan, remaja perlu mendapat informasi risiko pernikahan dini demi mengukur kesiapan dari sisi kesehatan dan emosi. Sebelum menikah, calon pengantin harus matang dalam usia, emosional dan spiritual, sosial, serta materi. Mereka juga harus memahami fungsi keluarga, yakni keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, proteksi, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.

“Intervensi untuk menekan angka kematian ibu dengan menyiapkan remaja sebelum menikah lewat pendewasaan usia menikah,” kata Ambar. Program GenRe diterapkan untuk membantu remaja menyiapkan kehidupan berkeluarga. Sasarannya remaja usia 10-24 tahun belum menikah. Mereka mendapat informasi perencanaan jenjang pendidikan, pekerjaan, dan pernikahan sesuai siklus kesehatan reproduksi.

Menurut Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Hubungan Masyarakat BKKBN Benyamin Benu, program itu dikembangkan melalui pendekatan Pusat Informasi dan Konseling. Pendekatan lain ialah melalui Kelompok Bina Keluarga Remaja. “Kami mengedukasi guru Bimbingan Konseling dan konselor sebaya, mulai dari SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, tentang kesehatan reproduksi remaja,” ujarnya.(C05)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 April 2016, di halaman 14 dengan judul “Nikah Muda Memicu Angka Kematian Ibu”.

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 36 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB