Home / Berita / Astronomi / Perjalanan Ribuan Mil Mengejar Gerhana Matahari

Perjalanan Ribuan Mil Mengejar Gerhana Matahari

Gerhana Matahari Total 2016
Fenomena alam yang terlihat dan sensasi yang dirasakan saat gerhana matahari total terjadi seperti memiliki daya magis dan membuat banyak orang yang pernah menyaksikannya tergila-gila. Tak sedikit yang kemudian bepergian ribuan mil, menghabiskan ratusan juta rupiah, demi mengulang pengalaman itu sekali, dua kali, bahkan berkali-kali.

Angin laut berembus pelan menerpa wajah para penumpang yang bergegas naik ke Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Ambu-Ambu, Sabtu (5/3/2016) sore. Ada yang berjalan sendiri, berdua, atau dalam rombongan besar. Beberapa orang terlihat membawa tas jinjing di tangan, lainnya hanya sebuah ransel di pundak. Jam tangan saat itu menunjukkan pukul 16.45, lima belas menit sebelum kapal bertolak.

Dari atas jembatan penyeberangan terlihat ombak dengan kuat mengempas batu karang. Beberapa penumpang terlihat khawatir. Namun, petugas yang berjaga di pintu masuk kapal meyakinkan bahwa semua bisa tertangani dan perjalanan sore itu tetap terkendali. Mendengar itu, penumpang tersebut tersenyum lega, lalu menyerahkan tiket mereka untuk diperiksa.

Setelah melewati pemeriksaan, penumpang langsung masuk ke kapal, naik tangga, lalu menuju ruangan sesuai kelas tiket masing-masing. Selang beberapa menit, sebagian dari mereka bergerak ke atas kapal. Begitu sampai, mereka langsung ke pinggir, melihat laut lepas yang memantulkan senja.

Carlos Munoz (51) termasuk salah satu di antara mereka. Wisatawan asing asal Swiss tersebut ikut menikmati suasana sore itu. Sambil mengobrol dengan rekan-rekan satu negaranya sesekali dia melihat ke barat, ke arah Kepulauan Mentawai yang baru bisa dicapai setelah 12 jam perjalanan di atas KMP Ambu-Ambu.

“Saya selalu menikmati perjalanan ke Mentawai. Sebelumnya saya sudah dua kali ke sana. Akan tetapi, kedatangan kali ini sangat spesial. Sebab, selain berselancar, saya juga bisa menyaksikan gerhana matahari,” kata Carlos.

Karyawan perusahaan komunikasi di Geneva itu mengaku, selain peselancar, dirinya memang seorang pengagum dan pengejar gerhana matahari. Mentawai menjadi pilihan terbaik. Sebab, selain bisa menikmati ombak terbaik berskala internasional di sana, penantian panjangnya selama hampir 10 tahun akan segera terobati.

Carlos pertama kali melihat gerhana matahari pada 1996 di Perancis. Pengalaman itu membuatnya memutuskan bertolak ke Kuwait pada 2006. Tahun ini, jika semua berjalan lancar, dua pengalaman saat menyaksikan gerhana matahari itu akan diulanginya di Mentawai.

“Melihat gerhana matahari adalah pengalaman yang tak akan terlupakan dan itu sebuah keberuntungan. Saya bisa melihat perspektif sistem tata surya, melihat secara jelas Venus, Mars dari Bumi. Oh.., sungguh sangat indah dan mengagumkan. Saya merinding, merasa gila,” tutur Carlos penuh semangat.

Menurut Carlos, setelah Mentawai, dirinya akan berkunjung ke negara-negara berikutnya untuk menyaksikan gerhana matahari. “Saya berharap, tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, saya masih hidup dan bisa berkeliling mengejar gerhana matahari,” kata Carlos.

Biaya besar dan persiapan lama
Kegilaan terhadap gerhana matahari tidak hanya dirasakan Carlos, tetapi juga Luke Robinson (42). Mentawai akan menjadi tempat pria asal Afrika Selatan itu menyaksikan gerhana matahari untuk keenam kalinya. Sebelumnya, dia sudah bepergian ke Hongaria pada 1999, Australia pada 2003, Turki pada 2006, Samudra Pasifik pada 2007, dan Australia bagian utara pada 2012.

“Saat gerhana matahari, kita berada di bumi. Dari bumi, matahari terlihat begitu besar, sementara bulan tidak begitu besar. Lalu, perlahan, bulan menutupi matahari. Pada saat bersamaan, kita melihat bagaimana alam semesta bergerak begitu mengagumkan. Luar biasa,” kata Luke.

Menurut Luke, setiap tempat yang dikunjunginya memberikan pengalaman berbeda. Tidak hanya soal durasi gerhana matahari total, tetapi juga sensasi yang dirasakan.

“Saat gerhana matahari, saya seperti mendapat energi, kadang merasa gila, sedikit emosional, bahkan menangis sejadi-jadinya. Tetapi, itu yang membuat saya selalu ingin mengulanginya terus. Semakin sering melihat gerhana matahari, saya merasa semakin muda,” kata Luke.

Apa yang didapat Luke memang sebanding dengan biaya yang dia keluarkan. Menurut dia, untuk sekali perjalanan bersama keluarga, dirinya menghabiskan sekitar 10.000 hingga 15.000 dolar AS atau jika dirupiahkan (kurs 1 dollar = Rp 13.000) mencapai hampir Rp 200 juta.

Tidak hanya biaya yang besar, mereka juga menghabiskan sekian tahun persiapan sebelum memulai perjalanan. Vicki Van Aardt (34) asal Afrika Selatan mengatakan mempersiapkan perjalanannya ke Mentawai sejak dua tahun lalu.

“Ini pengalaman pertama saya melihat gerhana matahari. Jadi harus dipersiapkan sebaik mungkin. Tetapi, jujur, saya berusaha untuk tidak pernah membaca atau mencari bahan tentang gerhana matahari. Saya ingin menyaksikan dan merasakan sensasinya sendiri,” kata perempuan yang berprofesi sebagai terapis itu.

Optimistis meriah
Ditemui saat berada di atas kapal KMP Ambu-Ambu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Mentawai Desti Seminora mengatakan, keterbatasan anggaran membuat mereka tidak bisa menggelar acara besar-besaran untuk pengamatan gerhana matahari seperti daerah lain di Indonesia.

Meskipun hanya acara kecil, dia optimistis acara yang turut melibatkan masyarakat Mentawai, khususnya di Kepulauan Pagai, akan berlangsung meriah.

Menurut Desti, acara pengamatan gerhana matahari total di Mentawai akan dilangsungkan di dua tempat, yakni di Desa Silabu, Pagai Utara, dan Kecamatan Sikakap. Di Silabu, selain pengamatan, akan berlangsung pertunjukan kesenian, kuliner tradisional, permainan tradisional, dan ibadah lintas agama. Sementara di Sikakap akan dilakukan pengamatan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah Yuel Tanggara berharap cuaca membaik dan cerah saat gerhana karena sejumlah kegiatan kesenian dan pameran ekonomi kreatif akan digelar di Palangkaraya.

Dalam rangkaian festival gerhana matahari total akan digelar ritual adat Balian yang merupakan ritual adat masyarakat suku Dayak sesuai kepercayaan agama Hindu Kaharingan. Dalam ritual yang digelar 8-9 Maret itu dimohonkan pula doa oleh para basir atau pemimpin ritual agar hujan tidak turun dan langit cerah saat gerhana.

Festival dalam rangka memeriahkan gerhana matahari total dibuka dengan pawai budaya etnik Nusantara di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (7/3/2016). Pawai budaya sepanjang sekitar 2 kilometer itu dimulai di depan Kantor Gubernur Sulteng dan berakhir di Masjid Agung. Pawai melibatkan berbagai komunitas etnik di Sulawesi Tengah, mulai dari suku Kaili, suku asli Sulteng, hingga suku Minahasa, Sulawesi Utara.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulteng Siti Norma Mardjanu menyampaikan pawai budaya etnik itu ingin menyampaikan bahwa gerhana matahari total menjadi momentum untuk menyatukan peradaban dunia, khususnya Nusantara. Hal ini juga bentuk perwujudan tema GMT 2016 Sulteng, “Fenomena GMT Menyatukan Peradaban Dunia”.

Selain pawai budaya, pesta GMT pada H-2 dimeriahkan dengan turnamen gateball di tepi Teluk Palu pada pukul 15.00 Wita.

Sementara itu, Festival Legu Gam sudah berlangsung sejak 1 Maret yang diawali dengan pameran budaya dari daerah-daerah di Maluku Utara. Rinto Taib, Sekretris Umum Panitia Legu Gam, menuturkan, upacara pembukaan Legu Gam akan berlangsung Senin hari ini. “Selanjutnya diisi dengan pentas budaya,” katanya.

(MEGANDIKA WICAKSONO, VIDELIS JEMALI, FRANSISKUS PATI HERIN)

ISMAIL ZAKARIA

Sumber: Kompas Siang | 7 Maret 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: