Home / Berita / Periode Emas untuk Hujan Buatan

Periode Emas untuk Hujan Buatan

Hujan yang mengguyur sebagian Sumatera dan Kalimantan, Selasa dan Rabu (27-28/10), menumbuhkan awan-awan kumulonimbus sepekan ke depan. Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan perlu memanfaatkan periode emas ini untuk menyemai hujan buatan.

“Seminggu ini kesempatan kita. Hujan buatan perlu dioptimalkan,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rabu (28/10) di Jakarta.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Raffles B Panjaitan menambahkan, prediksi cuaca di lokasi-lokasi penempatan pesawat hujan buatan ada peluang hujan. Hingga 11 November, hujan berpotensi turun di lokasi-lokasi sasaran hujan buatan, kecuali di Sumatera Selatan yang jumlah titik panasnya terbanyak di Sumatera.

Saat ini, tiga pesawat Cassa 212 ditempatkan di Sumsel, Riau, dan Kalimantan Barat. Sementara satu pesawat CN 295 ditempatkan di Kalimantan Selatan untuk menjangkau provinsi lain, termasuk Kalimantan Tengah.

Dari Palembang, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyemai garam (NaCl) untuk hujan buatan di atas wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi, Provinsi Jambi. “Sekitar 40 menit kemudian, hujan turun di Jambi,” kata Dini Harsanti, Koordinator Lapangan Posko Hujan Buatan BPPT di Palembang.

Penyemaian dari Palembang sudah berlangsung sejak 8 Juli. Garam yang disemai sekitar 800 kilogram hingga 1 ton NaCl sekali terbang. Diperkirakan, teknologi ini menambah 30 persen peluang hujan. “Namun, itu sangat bergantung pada butiran air yang dikandung awan,” katanya.

Menurut Dini, tantangan penyemaian di wilayah Sumsel dan Jambi adalah tingginya asap dari permukaan tanah. “Tinggi lapisan asap sampai 9.000 kaki atau 10.000 kaki. Maka, penyemaian dilakukan di ketinggian 11.000 kaki,” kata Dini.

Kepala Informasi BMKG Provinsi di Bandara Sultan Mahmud Badruddin II Sumsel Agus Santoso mengatakan, Rabu sore turun hujan di daerah Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, dan Selat Bangka selatan. “Hujan ringan 15 menit,” katanya.

Sementara itu, Sukirman, petani dari Desa Nusantara, Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, mengatakan, meski hujan turun Selasa lalu, kurang berdampak signifikan untuk memadamkan api dan mengurangi asap. Air Sugihan merupakan kecamatan yang terdapat banyak titik api. “Setelah hujan reda, saya cungkil tanah, yang basah hanya permukaan saja, sekitar 5 sentimeter,” kata Sukirman.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan akan menambah 5-8 helikopter untuk operasi water bombing. “Paling lambat awal November sudah datang,” katanya. Helikopter disewa kalangan korporasi, terutama dari perusahaan yang kebunnya terbakar.

Sengaja membakar
Satuan tugas penanggulangan asap, di bawah koordinasi Menko Polhukam, hari ini menggelar rapat di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Rapat membahas langkah-langkah untuk menanggulangi pembakaran lahan dan kabut asap di Sumatera dan Kalimantan. Pemerintah fokus pada evakuasi warga, penangangan korban asap, restorasi lahan, serta penegakan hukum untuk para pembakar lahan.
Wakil Komandan Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Sumsel untuk Operasi Darat Letkol Wahyu mengatakan, pantauan citra satelit Selasa (27/10), ada penurunan titik api. Namun, justru muncul titik api di tanah mineral, bukan rawa gambut. “Berarti ada oknum yang sengaja membakar,” kata Wahyu.

Pihaknya juga mengajukan kembali anggaran tanggap darurat dari dana siap pakai yang totalnya Rp 750 miliar ke Kementerian Keuangan. Hingga akhir September, upaya penanggulangan kebakaran telah menghabiskan Rp 500 miliar. Menurut Willem, pengajuan anggaran tersebut sudah disetujui dan sudah turun.

709a418d758d491494e494205c0d96ecSebanyak 109 hektar areal terbakar di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Hal itu mengakibatkan satu kelompok suku Anak Dalam mengungsi ke luar hutan. Hutan tersebut diketahui telah terbakar sejak Agustus lalu. Kebakaran merembet ke tanaman karet milik orang rimba yang mendiami taman nasional.

Kepala Balai Taman Nasional Bukit Duabelas Halasan Tulus menyatakan, kebakaran itu merupakan yang pertama kali terjadi dalam lima tahun terakhir. Saat El Nino tahun 1997, hutan tersebut tidak terbakar. “Ini kejadian terparah, sebelumnya tidak pernah terbakar. Kami menduga ini akibat ulah manusia,” ucap Tulus.

Terkait orang rimba yang meninggalkan hutan, tambah Tulus, merupakan upaya antisipasi agar tidak mengalami gangguan akibat terpapar asap.

Tumangku Besemen, pimpinan orang rimba wilayah Kedundung Muda, mengungkapkan, dirinya memutuskan meninggalkan hutan karena kampungnya terisolasi akibat lahan yang terbakar. Sebanyak 80 keluarga meninggalkan Kedundung Muda.

Pembersih udara
Di Semarang, Universitas Diponegoro bersama Ikatan Alumni (IKA) Undip memproduksi pembersih udara dalam ruangan, Zeta Green, untuk dikirim ke daerah yang terdampak asap di Sumatera dan Kalimantan. Alat tersebut menggunakan teknologi plasma yang memungkinkan penyaringan udara dari berbagai polutan, termasuk virus, bakteri dan jamur.

Inovasi pembersih udara ini diciptakan Pusat Penelitian Plasma Undip sejak 1999. Alat tersebut diproduksi unit usaha Undip, Dipo Technology, dan telah digunakan di rumah sakit serta instansi pemerintah sejak 2010.(JOG/NAD/UTI/DNE/SAN)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Oktober 2015, di halaman 21 dengan judul “Periode Emas untuk Hujan Buatan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: